Realisasi Penugasan Khusus Ekspor Capai Rp13,7 T, Seperempatnya Diserap Jatim
GRESIK. Pemerintah menggenjot pembiayaan ekspor melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE). Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis 2 Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Suleman mengatakan total realisasi PKE telah mencapai Rp13,7 triliun, sebesar 25% atau seperempat di antaranya diserap oleh pelaku usaha di Jawa Timur.
Suleman, menyebut, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan pemanfaatan PKE terbesar secara nasional. Dari sisi nilai, total pembiayaan yang telah disalurkan di Jawa Timur mencapai sekitar Rp 9 triliun.
“Kalau kita lihat, sekitar 25% PKE itu disalurkan di Jawa Timur. Total yang sudah di-disburse (dicairkan) mencapai kurang lebih Rp 9 triliun dan dimanfaatkan oleh 61 pelaku usaha,” kata Suleman, dalam kegiatan media briefing dan kunjungan industri yang diikuti Katadata.co.id, di Gresik, Jawa Timur, pada Jumat (17/8).
Ia mengatakan, puluhan eksportir tersebut telah memanfaatkan fasilitas PKE untuk menembus lebih dari 30 negara tujuan ekspor.
Sulaeman menuturkan, PKE dirancang sebagai instrumen pembiayaan yang komprehensif, selain menyediakan kredit modal kerja, juga dilengkapi dengan penjaminan dan asuransi, termasuk perlindungan terhadap risiko gagal bayar melalui trade credit insurance.
“Dengan skema ini, pelaku usaha bisa lebih percaya diri masuk ke pasar ekspor karena risikonya juga kita bantu mitigasi,” kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Tony Prianto menjelaskan, PKE menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam mendorong ekspor sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mengatakan, dukungan melalui PKE mencakup berbagai aspek mulai dari pembiayaan, akses ke pasar non-tradisional, hingga penanganan hambatan yang dihadapi eksportir.
“PKE ini memang dirancang untuk support pelaku usaha, baik yang sudah ekspor maupun yang baru akan masuk pasar global. Harapannya, ekspor kita semakin kuat dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Tony.
Jatim Basis Industri Manufaktur
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, yang juga hadir dalam acara itu menyebut tingginya serapan PKE di wilayahnya tidak terlepas dari kuatnya basis industri manufaktur, khususnya sektor makanan dan minuman yang menjadi kontributor utama ekspor.
“Industri manufaktur menyumbang sekitar 31% perekonomian Jawa Timur, dan sektor makanan-minuman menjadi yang terbesar. Ini yang mendorong ekspor kita terus tumbuh,” kata Emil.
Salah satu perusahaan yang merasakan manfaat PKE adalah PT Mega Global Food Industry (Kokola). Produsen biskuit tersebut kini telah menembus pasar ekspor ke 55 negara, termasuk Jepang, Australia, dan Korea Selatan.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahyadi mengatakan, dukungan pembiayaan dan penjaminan dari PKE membantu perusahaan menjaga arus kas sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.
“Dengan adanya pembiayaan pre dan post shipment, serta penjaminan, kami bisa lebih leluasa ekspansi dan menghadapi risiko di pasar internasional,” kata Richard.
