Ekonomi Cina Melemah, Konsumsi Domestik Anjlok

Ade Rosman
19 Mei 2026, 04:00
Cina
Katadata
Bendera nasional Cina (ilustrasi). Konsumsi domestik di Negeri Tirai Bambu dilaporkan terus melemah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertumbuhan ekonomi Cina melambat secara merata di semua sektor pada April, dengan investasi yang kembali mencatatkan kontraksi. Kondisi ini mempertanyakan keengganan Pemerintah Cina untuk menambah stimulus di tengah krisis energi global yang memukul pabrik-pabrik dan konsumen di seluruh dunia.

Melansir laporan Bloomberg, data resmi yang dirilis Senin (18/5) menggambarkan lonjakan ekspor tidak lagi mampu mengimbangi konsumsi domestik yang terus melemah. Hal ini mendorong para analis dari bank-bank seperti Nomura Holdings dan Societe Generale untuk menyerukan langkah-langkah yang lebih berani guna mendukung pertumbuhan.

Investasi aset tetap secara mengejutkan menyusut 1,6% dalam empat bulan pertama 2026 dibanding tahun sebelumnya. Sementara produksi industri tumbuh 4,1% pada April, yang terlemah dalam hampir tiga tahun. Penjualan ritel juga meleset dari perkiraan, yang naik 0,2% pada April. Angka ini juga menjadi yang terburuk sejak kontraksi pada Desember 2022 saat Cina baru membuka diri pasca-Covid.

“Pihak berwenang mungkin perlu meningkatkan dukungan kebijakan untuk menstabilkan pertumbuhan,” kata para ekonom Nomura yang dipimpin oleh Ting Lu dalam sebuah laporan berjudul Beijing has no room for complacency, dikutip dari Bloomberg, Senin (18/5). 

Di sisi lain, perlambatan pada April juga kembali menempatkan wacana stimulus lebih agresif ke agenda kebijakan. Sebelumnya, Cina tampil cukup tangguh dalam menghadapi dampak perang Iran-AS dan Israel. 

Pemerintah Cina memangkas belanja fiskal pada Maret. Sementara bank sentral belum memberi sinyal pelonggaran kebijakan lebih lanjut.

Juru Bicara Biro Statistik Nasional Cina, Fu Linghui mengatakan, memburuknya indikator ekonomi sebagai fluktuasi normal dari bulan ke bulan. Namun ia juga menyoroti tantangan berupa ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, serta lingkungan global yang kompleks.

Konsumsi Rumah Tangga Lesu

Sektor konsumen di Cina juga terus berjuang. Tercatat, penjualan mobil anjlok 15% pada April dibanding tahun lalu. Ini menjadi kontraksi terburuk sejak pertengahan 2022 saat Cina masih dalam pembatasan Covid. 

Pembelian peralatan rumah tangga dan furnitur turun dua digit. Sebelumnya, sektor ini ditopang subsidi pemerintah. Penjualan emas, perak, dan perhiasan ambles 21%, berbalik drastis dari tren awal 2026.

Di sisi lain, sektor industri yang berorientasi ekspor masih bertahan. Produksi elektronik yang didorong oleh permintaan global untuk chip AI tumbuh 15,6% pada April, laju tercepat dalam dua tahun terakhir. Sementara ekspor kendaraan listrik (EV) ke luar negeri juga melaju kencang.

“Cina masih tampak seperti ekonomi dua kecepatan: kuat dalam manufaktur strategis dan ekspor, tetapi lemah di sektor yang paling penting yaitu kepercayaan rumah tangga,” kata kepala strategi investasi di Saxo Markets di Singapura, Charu Chanana. 

Ekonom memperkirakan GDP Cina kemungkinan hanya tumbuh sekitar 4,1% secara tahunan pada kuartal kedua, yang bisa mendorong pelonggaran kebijakan bertahap Goldman Sachs mempertahankan proyeksi pertumbuhan 4,7% untuk periode April-Juni.

Kepala ekonom di Guotai Junan International Holdings, Hao Zhou, menilai ruang kebijakan masih terbuka lebar. 

“Data April bukanlah pertanda memburuk, melainkan pemicu untuk pelonggaran yang lebih proaktif—yang seharusnya membantu menstabilkan pertumbuhan dan mendukung pemulihan bertahap hingga paruh kedua tahun ini,” kata dia. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...