Ekonomi RI jadi Sorotan Media Asing, Investor Disebut Kehilangan Kepercayaan
Kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto terus menjadi sorotan global. Dalam sejumlah pemberitaan internasional, Prabowo disebut kehilangan kepercayaan investor atas berbagai langkah yang diambilnya.
Salah satu yang menyoroti adalah analisis dari kantor berita Reuters yang berjudul Prabowo's populist policies propel a 'doom-loop' in Indonesian markets atau Kebijakan populis Prabowo memicu 'lingkaran kehancuran' di pasar keuangan Indonesia.
Dalam artikel tersebut, Reuters menyebut agenda pertumbuhan yang dicanangkan Prabowo berisiko gagal karena anjloknya nilai tukar rupiah. Pemberitaan tersebut juga menyatakan Prabowo telah menjalankan pemerintahan yang kacau sejak menjabat pada 2024.
Beberapa kekacauan ini dimulai dari menjanjikan makan gratis untuk jutaan anak sekolah serta mengorbankan disiplin fiskal untuk mengejar pertumbuhan.
Situasi ini diperparah guncangan energi global hingga kebijakan Presiden yang dianggap tidak stabil. Salah satu kebijakan yang menjadi sorotan Reuters adalah kebijakan wajib ekspor lewat Danantara.
Berbagai kondisi ini membuat Indonesia kehilangan kilau ekonominya di mata investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menjadi pasar saham dengan kinerja terlemah di dunia, turun lebih dari 42% tahun ini.
"Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan yang nyata, dengan tanda-tanda bahaya tata kelola yang serius yang menutupi argumen apa pun," kata Tan Altundag, manajer investasi untuk ekuitas negara berkembang di Pictet Asset Management dikutip dari Reuters, Senin (8/6).
Peringkat kredit dan ekuitas Indonesia juga menjadi risiko bagi investor. Penurunan peringkat akan memaksa mereka untuk menjual aset dan berdampak pada biaya pinjaman.
Belum lagi penyedia indeks MSCI yang masih meninjau masalah perdagangan dan transparansi di pasar saham. Sedangkan Moody's dan Fitch telah menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif, dengan alasan berkurangnya kredibilitas pembuatan kebijakan.
"Kekhawatiran mendasar adalah bahwa arah kebijakan tidak bagus dan semakin kurang transparan," kata Kieran Curtis, kepala obligasi lokal pasar negara berkembang di Aberdeen, London.
Sedangkan dalam pemberitaan Bloomberg, Indonesia disebut kehilangan kepercayaan investor global usai IHSG anjlok dengan laju tercepat di dunia. Begitu pula dengan kinerja rupiah yang merosot ke titik terendah.
Dikutip dari Bloomberg, hal yang membuat investor gelisah adalah agenda populis dan intervensionis yang dilakukan Prabowo. Padahal Indonesia sebelumnya dianggap ramah terhadap investor asing.
Salah satu investor yang kabur dari Indonesia adalah K2 Asset Management. mereka bahkan telah keluar dari RI sejak 2024 lalu. "Saya (sudah) tidak memiliki eksposur sama sekali terhadap Indonesia," kata Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras.
Sejak baru menjabat, Prabowo berjanji menggenjot pertumbuhan ekonomi jadi 8%, meluncurkan Makan Bergizi Gratis, menghadirkan Danantara, hingga memperluas peran negara dalam ekonomi. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah mengambil kendali langsung atas ekspor komoditas.
Hal yang juga menjadi sorotan investor adalah lengsernya posisi Sri Mulyani dari Menteri Keuangan pada 2025. Sri dianggap sebagai penjamin disiplin fiskal dan bisa meyakinkan pasar bahwa RI akan mempertahankan manajemen anggaran yang konservatif.
Kekhawatiran lain bagi investor adalah meningkatnya kepemilikan obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia. BI kini mengempir 27% obligasi pemerintah, angka yang dianggap tinggi bagi negara berkembang.
“Yang membuat investor gelisah bukanlah konsepnya, melainkan kurangnya kejelasan seputar implementasinya," kata Mohit Mirpuri dari SGMC Capital.
Saat ini, investor menunggu kepastian soal fiskal, kebebasan bank sentral, hingga transparansi lebih besar terkait Danantara. Hal-hal tersebut dianggap dapat menentukan seberapa cepat modal asing kembali.
