Shopee PHK Ratusan Karyawan Tim Pengembang di Seluruh Dunia Imbas Penggunaan AI
Shopee dilaporkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap ratusan karyawan di tim pengembang di berbagai negara. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi di tengah meningkatnya fokus perusahaan pada pengembangan kecerdasan buatan atau AI.
Berdasarkan laporan Bloomberg, gelombang PHK yang dimulai pekan ini diperkirakan berdampak pada sekitar 8% tenaga kerja pengembang Shopee secara global. Di Singapura, pemangkasan disebut terutama menyasar tim produk dan teknik atau engineering.
Saat dikonfirmasi Vulcan Post, Shopee membenarkan adanya penyesuaian tenaga kerja tersebut. Namun, perusahaan tidak mengungkapkan jumlah pasti karyawan yang terdampak, termasuk di Singapura.
"Kami secara rutin mengevaluasi kebutuhan staf seiring dengan peninjauan operasi bisnis kami. Dari waktu ke waktu, setiap departemen dapat melakukan penyesuaian berdasarkan prioritas operasional dan bisnis," kata juru bicara Shopee dikutip dari Vulcan Post, Rabu (10/6).
Perusahaan menyatakan keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan yang matang. Shopee juga berkomitmen memberikan dukungan kepada karyawan yang terdampak selama masa transisi.
Berdasarkan informasidari sumber Vulcan Post, tidak ada pengumuman resmi secara menyeluruh kepada seluruh karyawan mengenai proses PHK tersebut. Sebaliknya, karyawan mengetahui adanya pemutusan hubungan kerja setelah sejumlah rekan mereka kehilangan akses ke akun kerja dan mulai mengemasi barang-barang pribadi.
Sumber yang sama menyebutkan Departemen Sumber Daya Manusia SDM menjadwalkan pertemuan secara individual dengan karyawan yang terdampak. Untuk paket kompensasi, karyawan dilaporkan menerima pesangon sebesar satu bulan gaji untuk setiap tahun masa kerja, ditambah dua bulan gaji tambahan.
AI Jadi Fokus Strategis
Restrukturisasi ini terjadi ketika perusahaan induk Shopee, Sea Limited, semakin agresif memperluas investasi di bidang AI sebagai salah satu mesin pertumbuhan bisnis.
Pada awal tahun ini, pendiri sekaligus CEO Sea, Forrest Li mengungkapkan ambisi perusahaan untuk memanfaatkan peluang AI secara maksimal. Ia bahkan menilai teknologi tersebut dapat menjadi jalan menuju kapitalisasi pasar bernilai triliunan dolar AS apabila dieksekusi dengan baik.
Sea juga telah mengintegrasikan AI ke berbagai lini operasionalnya. Hal ini mulai dari sistem rekomendasi produk hingga berbagai perangkat yang ditujukan untuk membantu para penjual di platform.
Pada Februari 2026, perusahaan mengumumkan kemitraan dengan Google untuk memperluas pemanfaatan AI di seluruh bisnisnya, termasuk pengembangan agen belanja berbasis AI. Sea juga dilaporkan membentuk tim khusus yang bertugas mengidentifikasi peluang investasi baru di bidang AI sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.
