Surplus Dagang Cina Tembus Rp 14.500 T, Bisa Bikin Trump Gerah?

Agustiyanti
8 September 2026, 13:55
yuan, surplus perdagangan, cina, trump
Katadata
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Cina mencatatkan surplus neraca perdagangan mencapai US$ 806 miliar atau sekiar Rp 14.528 triliun (asumsi kurs Rp 17.625/US$) pada sepanjang Januari-Agustus 2026. Surplus ini dicapai, antara lain berkat lonjakan ekspor yang terjadi bulan lalu mencapai 25% secara tahunan. 

Mengutip Bloomberg, pertumbuhan ekspor Cina pada Agustus sedikit di bawah perkiraan, tetpi tetap menunjukkan pertumbuhan kuat dengan nilai mencapai US$ 401,44 miliar. Adapun kenaikan ekspor bulan lalu lebih tinggi dibandingkan Juli yang mencapai 24%. 

Di sisi lain, Cina mencatat, impor pada Agustus naik 28,2% secara tahunan mencapai US$282,36 miliar. Seiring itu, surplus perdagangan bulanan Cina pada Agustus  naik 6% dibandingkan bulan sebelumnya US$ 119,09 miliar. 

"Kemungkinan besar surplus perdagangan Cina akan mencapai rekor tertinggi tahun ini, meskipun terjadi peningkatan signifikan dalam impor," ujar Lynn Song, kepala ekonom untuk wilayah Tiongkok Raya di ING Bank NV. 

Menurut dia, kondisi tersebut  dapat memicu ketegangan, terutama bagi negara-negara yang tidak mengalami peningkatan impor yang pesat dari Cina, seperti negara-negara Eropa dan AS.

Cina berpotensi mencatatkan rekor surplus sebesar US$1,2 triliun pada tahun lalu dan berpotensi kembali menembus rekor pada tahun ini. Hal ini  seiring dengan pembangunan infrastruktur AI global yang mendorong perdagangan di seluruh Asia.

Pertumbuhan ekspor yang terus-menerus ini menciptakan ketidakseimbangan dan menambah ketegangan dengan mitra dagang yang khawatir bahwa dominasi manufaktur Tiongkok dalam rantai nilai global akan menggerogoti industri mereka sendiri.

Surplus perdagangan Cina dengan AS melonjak hampir 44% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi lebih dari US$29 miliar, selisih terbesar sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Saat ekspor ke AS melonjak 34,4% pada Agustus, pengiriman barang Tiongkok ke Uni Eropa hanya naik 6,7%, kenaikan paling lambat dalam 10 bulan terakhir.

Ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dalam kelompok ASEAN sedikit melambat tetapi tetap melonjak lebih dari 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Pengiriman ke Amerika Latin meningkat menjadi 17,5% dan naik lebih dari 31% ke Afrika.

AS semakin keras terhadap Cina dengan seruan untuk meningkatkan permintaan domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor demi pertumbuhan ekonomi, tepat sebelum Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertemu dengan Trump di Washington akhir bulan ini. Kedua belah pihak telah mempertahankan gencatan senjata tarif, yang akan berakhir pada November kecuali jika diperpanjang.
Ketegangan juga meningkat antara Beijing dan Brussel menjelang tenggat waktu bulan Oktober untuk mengatasi ketidakseimbangan yang semakin dipandang oleh para pemimpin Uni Eropa sebagai tantangan strategis.

Menteri Keuangan Scott Bessent pekan lalu mengecam Tiongkok karena menghalangi pertemuan para menteri keuangan G20 untuk mengeluarkan komunike bersama yang menyerukan negara-negara dengan surplus eksternal yang berlebihan dan persisten untuk menghilangkan distorsi. Namun, Beijing menepis tuduhan tersebut. 

Kementerian Perdagangan Cina menganggap tindakan AS sebagai upaya untuk membenarkan proteksionisme dan membendung Cina. Meskipun risiko meningkat, Song dari ING tidak memperkirakan ketegangan dengan AS akan memburuk hingga memutus gencatan senjata yang sedang berlangsung dalam waktu dekat. Hal ini mengingat adanya pertemuan puncak Xi-Trump dan pemilihan umum sela yang akan datang.

Lonjakan ekspor membantu menutupi gangguan pengiriman akibat cuaca ekstrem pada bulan Agustus. Pelabuhan-pelabuhan utama di Tiongkok bagian timur sempat menghentikan operasional saat badai topan mendekat.

Berdasarkan data resmi, volume arus kargo di pelabuhan-pelabuhan Tiongkok terus menurun setiap minggunya sepanjang bulan lalu dibandingkan dengan tujuh hari sebelumnya.

Meski volume perdagangan meningkat, kenaikan harga turut mendongkrak nilai ekspor cina secara signifikan tahun ini. Dengan mengalirnya dana triliunan dolar ke sektor AI, kelangkaan semikonduktor dan komponen elektronik lainnya telah menyebabkan harga beberapa jenis cip melonjak hingga 700% dalam setahun terakhir.

Bloomberg Economics memperkirakan bahwa pengiriman produk berteknologi tinggi menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekspor keseluruhan Tiongkok pada Agustus.

Penjualan sirkuit terintegrasi ke luar negeri melonjak hampir 130% pada Agustus, sedangkan ekspor produk berteknologi tinggi naik hampir 57%. Di sisi lain, pengiriman kendaraan melambat.

Ahli strategi senior untuk Tiongkok di Australia & New Zealand Banking Group Zhaopeng Xing menilai pertumbuhan ekspor Cina mungkin sudah mendekati puncaknya. "Permintaan terkait AI mengimbangi dampak cuaca buruk dan mendorong angka ekspor lebih tinggi," ujar Xing.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...