Dini hari, 12 Desember 1992, William Soeryadjaya kehilangan Astra, perusahaan yang dibangunnya dari sebuah kantor kecil di Jalan Sabang, hingga tumbuh menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.
Dalam buku Memoar William Soeryadjaya: Semangat Hidup & Pasrah kepada Tuhan yang ditulis Ramadham KH, William menceritakan bagaimana keputusan itu menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya. Krisis yang membelit Bank Summa, milik putranya Edward Soeryadjaya, menempatkannya pada pilihan sulit: mempertahankan perusahaan yang menjadi buah kerja kerasnya selama puluhan tahun atau berupaya menyelamatkan nasabah dan ribuan karyawan bank tersebut.
Dalam episode ini, William menunjukkan kebesaran jiwanya. Meski menurut hukum, utang-utang Bank Shuma cukup di tutup dengan hartanya dan menjadi tanggungan nasabah dan kreditur jika tak cukup, William tetap memilih memikul tanggung jawab.
Masa Kecil dan Perjuangan Menghidupi Keluarga
William lahir dengan nama Tjia Kian Liong di Majalengka, Jawa Barat, pada 20 Desember 1922. Ia merupakan anak laki-laki tertua dari keluarga yang berkecupan. Ayahnya menjalankan usaha ekspor hasil bumi.
Namun, kehidupannya berubah ketika kedua orang tuanya meninggal pada 1934, saat berusia 12 tahun. Kehilangan membuat William harus menghadapi tanggung jawab besar untuk membantu menghidupi adik-adiknya.
William menempuh pendidikan dasar di Hollands Chinese Zendingsschool (HCZS) di Kadipaten, Jawa Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah di MULO, Cirebon, tetapi tidak selesai karena sekolah dibubarkan saat invasi Jepang.
William yang sempat luntang-lantung tanpa pekerjaan memutuskan untuk meneruskan usaha orang tuanya, mencoba berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pun pernah berdagang kertas di Cirebon, menjual benang tenun di Majalaya, serta memperdagangkan kebutuhan pokok di Bandung.
Setelah menikah dengan Lily Anwar pada 1947, William pergi ke Belanda. Di sana, ia pernah menjual kacang, rokok, hingga akhirnya mempelajari industri penyamakan kulit dan sepatu di Waalwijk. Pengalaman tersebut memperluas pengetahuannya tentang proses produksi dan pengolahan bahan baku menjadi produk bernilai tambah.
Sekembalinya ke Indonesia pada 1949, ia pun mencoba membangun usaha penyamakan kulit. Ia pun mengembangkan perdagangan dan ekspor-impor. Meski sejumlah usahanya tidak berjalan sesuai harapan, William terus mencoba mencari peluang baru.
Perjalanan ini membentuk pandangannya bahwa membangun usaha membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berdagang. Pengusaha perlu memahami kebutuhan pasar, mengembangkan keterampilan, dan berani mengambil risiko. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika William memutuskan membangun perusahaan yang kelak dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Membangun Astra dari Empat Karyawan
Pada 20 Februari 1957, William mendirikan PT Astra International Incorporated bersama adiknya, Tjia Kian Tie, dan rekannya, Liem Peng Hong. Astra memulai perjalanan dari sebuah kantor sederhana di Jalan Sabang, Jakarta, dengan modal Rp 2,5 juta dan hanya empat karyawan. Perusahaan tersebut awalnya bergerak di bidang perdagangan umum, termasuk ekspor hasil bumi dan impor barang.
Dari usaha kecil tersebut, William membangun visi yang lebih besar. Ia melihat peluang untuk mengembangkan perusahaan yang dapat mendukung kebutuhan pembangunan Indonesia sekaligus memperkuat industri dalam negeri.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 1960-an, ketika Astra memperoleh kesempatan memasok berbagai kebutuhan pembangunan, termasuk truk Chevrolet. Perusahaan kemudian mengembangkan bisnis otomotif, perakitan kendaraan, dan industri komponen. Langkah ini menjadi bagian dari perjalanan Astra untuk beralih dari perusahaan perdagangan menjadi kelompok usaha dengan basis industri yang semakin kuat.
Perkembangan Astra juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kendaraan dan alat berat untuk mendukung kegiatan ekonomi. Kerja sama dengan berbagai produsen internasional membuka jalan bagi pengembangan industri otomotif di Indonesia. Salah satu produk yang kemudian dikenal luas adalah Toyota Kijang, yang diperkenalkan pada 1977.
Di bawah kepemimpinan William, Astra berkembang ke berbagai sektor usaha. Pertumbuhan perusahaan tersebut turut membuka lapangan kerja, memperluas jaringan pemasok, dan menciptakan kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk mengembangkan keterampilan industri.
Edwin Soeryadjaya mengenang prinsip integritas yang dipegang ayahnya hingga mampu membangun Astra menjadi salah satu raksasa otomotif Indonesia. Menurut Edwin, sang ayah selalu mengutamakan kejujuran, keberanian, dan kepedulian terhadap karyawan, termasuk ketika perusahaan menghadapi masa sulit.
William tidak ingin mengurangi jumlah karyawan hanya untuk menyelamatkan perusahaan. Sikap tersebut, menurut Edwin, mencerminkan prinsip hidup yang dipegang teguh ayahnya dalam menjalankan bisnis.
“Tidak mau menyerah saat ekonomi tidak baik, dia (William) tetap mempertahankan yang terbaik-baiknya untuk tidak mengurangi karyawan dan itu prinsip hidup,” ujar Edwin dalam malam penghargaan Lifetime Achievement Award Katadata Indonesia di Sequis Tower, Jakarta Selatan, Senin (26/10).
Selain integritas, Edwin mengenang keberanian William dalam membangun Astra. Ia mengatakan ayahnya berani mengambil langkah besar meskipun tidak memiliki modal saat merintis perusahaan tersebut. Keberanian itu berjalan beriringan dengan ketekunan dalam bekerja.
Memberdayakan Masyarakat
Komitmen William terhadap pembangunan tidak hanya tercermin dalam perkembangan Astra. Pada 2 Mei 1980, ia mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra untuk mendorong pengembangan usaha kecil dan menengah.
Yayasan tersebut dibangun dengan filosofi “Berikan Kail Bukan Ikan”. Prinsip ini menekankan pentingnya membekali masyarakat dengan keterampilan dan kemampuan agar dapat mandiri, bukan sekadar memberikan bantuan yang manfaatnya terbatas pada satu waktu.
Melalui pendekatan pemberdayaan, pelaku usaha kecil didorong untuk meningkatkan kualitas produk, memperbaiki pengelolaan bisnis, memperluas akses pasar, dan mengembangkan kemampuan produksi. Usaha kecil diharapkan dapat tumbuh lebih kuat dan memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri.
Gagasan tersebut mencerminkan keyakinan William bahwa pembangunan ekonomi perlu melibatkan lebih banyak lapisan masyarakat. Kemajuan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan perusahaan besar, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bagi pengusaha kecil untuk berkembang dan menciptakan lapangan kerja.
Perjalanan hidup William juga diwarnai ujian besar kala Bank Summa. Kesediaan William mempertaruhkan kekayaan pribadi untuk membantu menyelesaikan persoalan Bank Summa kerap dikenang sebagai bagian penting dari kisah hidupnya.
Meski tak lagi memiliki Astra, jejak William Soeryadjaya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan industri nasional. Hingga tutup usia pada 2 April 2010, warisan pemikirannya tentang kewirausahaan, pengembangan industri, dan pemberdayaan masyarakat terus hidup melalui berbagai inisiatif yang pernah dirintisnya.
Atas dedikasinya dalam membangun industri nasional dan mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, William Soeryadjaya menjadi salah satu tokoh penerima Lifetime Achievement Award Katadata bertema “Tiga Tokoh Satu Indonesia”.
