/
Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Takengon, Aceh Tengah, Aceh merupakan salah satu penghasil kopi jenis Arabika terbaik di Indonesia.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Petani memetik kopi Arabica Gayo di kebun milik mereka di Takengon, Provinsi Aceh, Indonesia pada 17 Desember 2017. Kopi Arabica Gayo merupakan salah satu kopi terbaik dunia, pada tahun 2017, jumlah produksi kopi Arabica Gayo mencapai 46 ribu ton dan diekspor ke berbagai negara di dunia.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Para wanita memanen kopi dari pohon dan mengeringkannya, sebelum kopi kemudian diserahkan ke pabrik lokal dan akan disortir sesuai dengan kualitasnya.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Kopi Gayo terkenal sebagai salah satu kopi terbaik dunia. Dibudidayakan menggunakan pupuk organik dan digerakkan oleh masyarakat lokal, dengan rata-rata kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 hektare.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Meskipun proses pengolahan kopi di kawasan ini masih tradisional, namun banyak eksportir yang datang ke Gayo untuk membeli kopi.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Di kawasan ini, kopi sudah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Kopi Gayo kini diekspor ke paling tidak 18 negara, hanya sebagian kecil sekitar 20 persen yang diserap pasar lokal.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Pemerintah tidak mengizinkan perkebunan swasta membuka atau membeli lahan kopi.

Kopi Gayo
Foto: Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Perkebunan Kopi Gayo menghadapi masalah produktivitas lahan, yakni hanya menghasilkan sekitar 750 kilogram kopi per hektar. Jauh di bawah perkebunan kopi di Amerika Tengah dan Vietnam yang sudah mencapai 1 ton.

Pertanian

Panen Raya Kopi Arabika Gayo

27 Desember 2017 9 Foto

Perkebunan Kopi Gayo menghadapi masalah produktivitas lahan, hanya menghasilkan 750 kilogram kopi per hektar. Jauh di bawah Vietnam yang mencapai 1 ton.

Kopi sudah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat di Kampung Gunung Rawe, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Nama Kopi Gayo terus mendunia, namun perlu banyak upaya agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kopi Gayo terkenal sebagai salah satu kopi terbaik dunia. Di budidayakan menggunakan pupuk organik dan digerakkan oleh masyarakat lokal, dengan rata-rata kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 hektare saja.

Bupati Aceh Tengah Nasarudin mengatakan, pihaknya berusaha mempertahankan kepemilikan dan skala bisnis Kopi Gayo. Pemerintah tidak mengizinkan perkebunan swasta membuka atau membeli lahan kopi.

Kopi Gayo kini diekspor ke paling tidak 18 negara, hanya sebagian kecil sekitar 20 persen yang diserap pasar lokal.

Perkebunannya terhampar luar di tiga kabupaten, yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Aceh Lues dengan luas sekitar 120.000 hektare. Di Aceh Tengah, luas perkebunan kopi sekitar 48.000 hektare yang merupakan tempat gantungan hidup dari 35.000 warga.

Meski sangat luas, perkebunan Kopi Gayo menghadapi masalah produktivitas lahan, yakni hanya menghasilkan sekitar 750 kilogram kopi per hektar. Jauh di bawah perkebunan kopi di Amerika Tengah dan Vietnam yang sudah mencapai 1 ton.

Pemerintah berencana membentuk kawasan ekonomi khusus Gayo-Alas untuk mengembangkan perekonomian berbasis kopi, industri kreatif dan pariwisata di kawasan tersebut.