/
Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Penyebaran penyakit campak dan gizi buruk kerap terjadi berulang di Kabupaten Asmat, Papua yang memiliki luas 29.000 kilometer persegi atau 48 kali luas DKI Jakarta.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Kabupaten Asmat terdiri dari sembilan distrik (setingkat kecamatan) dan lebih dari 100 kampung. Namun, fasilitas medis masih sangat terbatas. Tiap distrik hanya memiliki satu dokter spesialis.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2013, Asmat memiliki 12 puskesmas dan 12 dokter. Rumah Sakit Umum Daerah yang tergolong tipe C berada di Agats.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Masyarakat yang mengunjungi pusat pelayanan kesehatan pun harus melalui perjalanan yang jauh dan melewati sungai. Tampak seorang anak berpegangan dengan besi saat berada di kapal "longboat" menuju Distrik Jetsy untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Agats, Selasa (23/1).

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Minimnya pelayanan kesehatan dan jaraknya yang jauh dari tempat tinggal penduduk, membuat 70 anak meninggal dunia terkena campak. Kementerian Kesehatan telah mengirim puluhan dokter ke Asmat dan Presiden Jokowi mengerahkan TNI dan Polri membuka posko kesehatan.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kabupaten Asmat tidaklah sedikit, pada 2017 mencapai lebih dari Rp 1 triliun ditambah jatah dana otonomi khusus Papua sekitar Rp 106 miliar.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Kasus KLB campak dan gizi buruk membuat pemerintah akan mengevaluasi APBD Kabupaten Asmat dalam alokasi untuk anggaran kesehatan. Pemerintah pusat menganjurkan tiap daerah mengalokasikan dana 10% dari APBD untuk kesehatan.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek yang mengunjungi Asmat menyatakan, terdapat faktir eksternal misalnya stok Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mempengaruhi distribusi tenaga kesehatan ke distrik terjauh.

Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat
Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

KLB campak dan gizi buruk di Asmat juga mendapat perhatian dunia. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan dapat menemukan solusi jangka panjang, agar tragedi yang sama tak kembali berulang.

Nasional

Derita Campak dan Gizi Buruk Anak Asmat

27 Januari 2018 9 Foto

KLB campak dan gizi buruk di Asmat yang terjadi sejak September 2017 membuat 70 anak meninggal dunia.

Sejak September 2017 hingga Rabu 24 Januari 2018, sebanyak 70 anak meninggal akibat kasus campak dan gizi buruk di Asmat, Papua. Data ini diperoleh dari Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa Asmat yang melakukan pemeriksaan terhadap 12.398 anak.

Dari pemeriksaan tersebut ditemukan 646 anak terkena campak dan 144 anak menderita gizi buruk. Tim Satgas juga meenemukan 25 anak suspek campak dan empat anak yang terkena campak dan gizi buruk.

(Baca: KLB Campak Terus Berulang, Jokowi Tawarkan Opsi Relokasi Warga Asmat)

Pemerintah pusat telah turun tangan menangani KLB campak dan gizi buruk yang terjadi berulang di kabupaten Asmat. Presiden Joko Widodo menawarkan relokasi. Namun Gubernur Papua Lukas Enembe‎ usai pertemuan dengan Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (25/1), mengatakan relokasi akan menyulitkan warga Asmat sebab mereka telah terbiasa hidup di pedalaman.

Lukas menyarankan agar lokasi pedalaman tersebut dibangun distrik untuk mempermudah pemerintah memantau kesehatan warga. Selama ini ketersediaan petugas kesehatan di masing-masing kabupaten di Papua sangat terbatas. Tiap distrik seperti wilayah Asmat hanya memiliki satu orang dokter spesialis.