Wali Kota Risma Dirawat, Waspadai Gejala Asma dan Maag

Penyakit maag dan asma yang diderita Risma kambuh sehingga ia harus masuk rumah sakit. Kondisinya saat ini berangsur-angsur membaik.
Dwi Hadya Jayani
29 Juni 2019, 08:15
bu risma sakit, jokowi jenguk bu risma
ANTARA FOTO/DIDIK SUHARTONO
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) memberikan sambutan di acara \'Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan\' di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (19/12). Risma dirawat di RSUD Dr Soetomo sejak Rabu (26/6) karena sakit maag dan asma.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) sejak Rabu (26/6). Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, penyakit maag dan asma yang diderita Risma kambuh sehingga ia harus masuk rumah sakit. Kondisinya berangsur-angsur membaik. Risma tidak membutuhkan alat bantu pernapasan lagi.

Sakitnya Risma mendapat perhatian dari warganet yang memberikan doa untuk kesembuhan Wali Kota Surabaya ini melalui #GWSBuRisma. Jumat (28/6) lalu, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla juga menjenguk Risma di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Hari ini, Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan menjenguk Risma setelah kembali dari KTT G20 di Osaka, Jepang.

Seperti dilansir hallosehat.com, maag dapat dipicu asam lambung (gastroesophageal reflux disease/GERD). Jenis penyakit lambung ini dapat terjadi karena naiknya asam lambung ke kerongkongan (esofagus).

Biasanya, seseorang yang mengidap penyakit asam lambung juga diiringi penyakit asma. National Center for Biotechnology Information (NCBI) dalam laporannya menyebutkan sebanyak 80% pengidap asam lambung juga didiagnosis mengidap asma. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan pengidap asma dua kali lebih besar kemungkinannya menderita asam lambung.

Meskipun telah banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara asma dan asam lambung, tetapi hubungan utamanya belum sepenuhnya jelas. Secara umum, Asthma and Allergy Foundation of America menyebut asam lambung dapat menyebabkan gejala asma dengan dua cara.

Pertama, asam lambung naik kembali ke kerongkongan menciptakan reaksi berantai yang mengarah ke gejala asma. Asam lambung yang naik ini mengiritasi ujung saraf di kerongkongan (esofagus) yang menghasilkan sinyal ke otak. Selanjutnya, otak merespons dengan impuls ke paru-paru merangsang produksi otot dan lendir di saluran udara. Saluran udara paru-paru kemudian menyempit hingga menghasilkan gejala asma.

Kedua, dalam banyak kasus, isi lambung yang direfluks memasuki paru-paru secara langsung. Situasi ini disebut aspirasi. Hal ini dapat mengakibatkan batuk, sesak dada, dan gejala asma lainnya.

Di sisi lain, asma juga dapat memicu asam lambung. Hal ini dikarenakan ketika kesulitan bernafas atau mengonsumsi obat asma tertentu memungkinkan memiliki efek samping sehingga dapat memperburuk asam lambung.

(Baca: PKB Sambut Baik Wacana Risma Gantikan Azwar Anas di Pilgub Jatim)

Kelelahan Dapat Memicu Asma dan Asam Lambung

Feny, sapaan akrab Febria Rachmanita, menjelaskan bahwa Risma kelelahan setelah pulang dari luar negeri. Namun, Risma tetap melanjutkan aktivitasnya membersihkan kawasan di sekitar Tugu Pahlawan.

Kelelahan ini dapat mengganggu produksi asam lambung. Asam lambung yang berlebihan akan mengikis dinding lambung secara perlahan sehingga tak jarang penderita mengeluhkan lambungnya perih.

Kecemasan juga dapat memicu adanya asam lambung. Beberapa ahli mengatakan bahwa zat kimia otak yang disebut cholecystokinin (CCK) berkaitan dengan gangguan panik dan gastrointestinal. Hal ini menunjukkan hubungan antara asam lambung dan orang yang memiliki gangguan kecemasan. Kecemasan dapat memperlambat pencernaan, meningkatkan asam lambung, atau mengakibatkan peningkatan ketegangan otot yang dapat memberi tekanan pada perut.

Sementara untuk asma, WHO menyebut asma akan menyebabkan seseorang merasakan kelelahan. Ketika seseorang terkena serangan asma, ia tidak akan mendapatkan suplai oksigen yang cukup untuk paru-paru. Tanpa oksigen, tubuh perlahan akan merasakan kelelahan.

Apalagi, jika gejala asma memburuk di malam hari (nocturnal asthma) sehingga menyebabkan kesulitan tidur. Hal ini akan mengakibatkan penderita merasa kelelahan pada pagi hingga siang hari.

Riset dari NCBI menyatakan terdapat hubungan antara pengidap asma dan kelelahan. Hasilnya, pengidap asma menyatakan sebanyak 18,8% merasakan kelelahan normal, 18,6% kelelahan ringan, dan 62,6% kelelahan parah.

(Baca: Fenomena Kelelahan Petugas KPPS yang Berujung Kematian)

Pengobatan Asma dan Asam Lambung

Asam lambung dan asma masing-masing memiliki komplikasi. Komplikasi yang paling sering terjadi akibat penyakit asam lambung adalah esophagitis. Esophagitis adalah peradangan (inflamasi) pada dinding kerongkongan.

Dikutip dari Alodokter.com, pada kasus esophagitis yang parah, penderita akan kesulitan menelan karena munculnya tukak. Tukak terbentuk ketika lapisan dinding esofagus tererosi sehingga menjadi luka. Pada kasus yang lebih parah, hal ini dapat memicu terjadinya kanker esofagus.

Asma juga dapat berujung kematian jika tidak ditangani dengan baik. Berdasarkan riset yang dikutip The Global Asthma Report, kematian yang diakibatkan asma menyumbang kurang dari 1% dari total kasus kematian. Pada 2016, diperkirakan 420 ribu orang di dunia meninggal karena asma.

Kunci untuk mengobati gejala asma yang berhubungan dengan asam lambung adalah mengobati refluks gastroesofagus dan mengurangi potensi kerusakan lapisan esofagus akibat refluks. Asthma and Allergy Foundation of America merekomendasikan pengobatan dengan beberapa cara: 
1. Mengonsumsi obat dengan berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu.
2. Menghindari makanan berlemak dan digoreng, minuman berkafein, bawang merah, bawang putih, produk yang mengandung tomat, buah jeruk, lada, cokelat, permen, dan minuman beralkohol.
3. Makan lebih sedikit karena dapat meminimalkan kemungkinan refluks.
4. Mengurangi penggunaan tembakau.
5. Menurunkan berat badan. Pasalnya, kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada perut dan kerongkongan sehingga menyebabkan refluks.
6. Hindari berbaring setelah makan.
7. Makan malam lebih awal. Jika makan setidaknya tiga jam sebelum tidur akan membuat perut kosong lebih sempurna sehingga mengurangi jumlah asam dalam perut.

(Baca: Mengenal Wabah Cacar Monyet, Gejala dan Antisipasinya)

Reporter: Dwi Hadya Jayani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait