Krisis Komunikasi: Kegaduhan Publik dan Penggerusan Brand Identity

Widyaretna Buenastuti
Oleh Widyaretna Buenastuti
3 Februari 2021, 12:02
Widyaretna Buenastuti
Ilustrator: Joshua Siringoringo | Katadata
Ilustrasi energi terbarukan
  • Penggunaan pendekatan bahasa hukum kepada konsumen untuk konten yang tidak berhubungan dengan hukum;
  • Disampaikan secara tertulis dan formal dari bagian hukum kepada konsumen, tanpa ada unsur hukumnya;
  • Unsur kata-kata yang memerintah konsumen untuk memperbaiki dan menghapus konten dari pada merangkul.

Penanganan krisis ini dilakukan dengan baik oleh CEO #Eiger yang langsung mengirimkan pernyataan maafnya secara terbuka dan di dalam suratnya pun mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Dalam hitungan jam, trending topik #Eiger berangsur turun setelah permohonan maaf tersebut keluar. 

Kasus #uninstallbukalapak 

Kasus #uninstalbukalapak terjadi akibat cuitan CEO bukalapak saat itu, yang membahas perbandingan dana riset soal industri 4.0 yang menempatkan Indonesia di posisi 43. Ditayangkan image lima negara dengan anggaran litbang tertinggi (AS, Cina, Jepang, Jerman, Korea) yang berkisar US$ 91 miliar sampai US$ 511 miliar. Sementara Indonesia, menurutnya, berada di peringkat 43 dengan US$ 2 miliar.

Sampai di sini tidak ada masalah. Tetapi closing dari tuitan tersebut dilanjutkan dengan kata-kata berikut …“mudah-mudahan presiden baru bisa naikin”. Hal inilah yang membuat netizen bereaksi pro dan kontra hingga lahir #uninstallbukalapak. 

Keesokan harinya, Achmad Zaky, memberikan klarifikasi lebih lanjut dalam twitter-nya bahwa maksudnya tidak sebagaimana dipersepsikan oleh netizen. Namun tetap tidak membantu menahan derasnya arus #uninstallbukalapak.

“Bangun2 viral tweet saya gara2 "presiden baru" maksudnya siapapun, bisa Pak Jokowi juga. Jangan diplintir ya :) lets fight for innovation budget” (twitter @achmadzaky) February 14, 2019.

Gerakan #uninstallbukalapak mulai berhenti tiga hari berikutnya, setelah Zaky mengunggah permintaan maafnya ke publik dan bertemu dengan Presiden Jokowi. Kemudian ditambah lagi Presiden Jokowi juga menyampaikan agar gerakan #uninstallbukalapak dihentikan.

Dalam kasus ini, krisis terjadi karena 3 faktor:

  • Momentum yang tidak tepat.
  • Tuitan ini di unggah pada Februari 2019, yaitu di saat masa kampanye pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden yang terjadwal tanggal 23 September 2018- 13 April 2019.
  • Penggunaan kata “presiden baru” memantik perdebatan netizen yang sedang bergairah mengkampanyekan jagoan presidennya masing-masing. 

Disampaikan oleh CEO dari perusahaan yang brand-nya sudah dikenal masyarakat secara luas. Brand yang sudah mempunyai cakupan luas mempunyai kerentanan yang lebih luas, dibandingkan dengan brand yang baru dirintis dan cakupannya masih terbatas.

Dua kasus tersebut menggambarkan di zaman sekarang kekuatan sosial media sangat kritikal, bisa mengangkat reputasi dan juga membahayakan reputasi. Penanganan krisis yang dilakukan CEO kedua perusahaan secara cepat, menjadi contoh yang baik. Dalam hitungan jam untuk #Eiger, dan kurang dari lima hari di kasus #uninstallbukalapak, tone negatif bisa diredam.

Kecepatan dan keakuratan penting dalam menangani krisis. Namun ada lagi yang harus dijaga yaitu konsistensi. Karena bila terulang lagi maka kepercayaan publik pada brand, personel, atau perusahaan bisa lebih tererosi dari kejadian yang pertama.

Perlu kita selalu ingat bahwa yang sudah terucap atau tertulis seringkali susah dilupakan walau pun maksudnya tidak begitu dan walaupun sudah dimaafkan. Ibarat api sudah dipadamkan, pekerjaan selanjutnya adalah restorasi untuk membangun kembali reputasi dan menjaga agar tidak ada letupan-letupan api berikutnya.

Halaman:
Widyaretna Buenastuti
Widyaretna Buenastuti
Director-Senior Consultant Inke Maris & Associates

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...