Hari Hipertensi Sedunia: Ancaman “Silent Killer” di Tengah Gaya Hidup Modern

Aisya Athifa
Oleh Aisya Athifa
19 Mei 2026, 06:05
Aisya Athifa
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Setiap tanggal 17 Mei, dunia memperingati Hari Hipertensi Sedunia sebagai pengingat bahwa tekanan darah tinggi masih menjadi ancaman kesehatan global yang sering diabaikan. Banyak orang merasa dirinya sehat karena tidak mengalami pusing, lemas, atau keluhan berarti. Padahal, hipertensi dapat berkembang tanpa gejala dan diam-diam merusak tubuh selama bertahun-tahun. Karena itulah penyakit ini dikenal sebagai silent killer.

Di Indonesia, kita mungkin sering mendengar cerita seseorang yang terlihat aktif dan sehat, tetapi tiba-tiba mengalami stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal. Dalam banyak kasus, akar masalahnya adalah hipertensi yang tidak terkontrol dalam waktu lama.

Beberapa studi menunjukkan bahwa hipertensi bukan sekadar persoalan medis individu, melainkan sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan tekanan darah tinggi, tetapi juga dipengaruhi gaya hidup modern, stres, ketimpangan sosial, akses layanan kesehatan, hingga rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan hipertensi. Ironisnya, sebagian besar tidak menyadari dirinya mengalami tekanan darah tinggi. Ada pula yang sudah didiagnosis, tetapi tidak rutin mengontrol tekanan darah maupun mengonsumsi obat sesuai anjuran. Akibatnya, angka stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah di dalam pembuluh darah terus berada di atas batas normal. Dalam kondisi normal, jantung memompa darah dengan tekanan tertentu agar oksigen dan nutrisi dapat mengalir ke seluruh tubuh. Namun ketika tekanannya terlalu tinggi secara terus-menerus, pembuluh darah dan organ tubuh bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak jantung, ginjal, otak, hingga pembuluh darah.

Yang sering tidak disadari, penyebab hipertensi ternyata sangat kompleks. Banyak orang mengira tekanan darah tinggi hanya dipicu konsumsi garam berlebihan. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa faktor pemicunya jauh lebih luas, mulai dari obesitas, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, kualitas tidur yang buruk, merokok, konsumsi alkohol, hingga faktor genetik.

Kehidupan modern ikut memperburuk situasi tersebut. Kita hidup di era yang serba cepat, tetapi minim gerak. Banyak pekerjaan dilakukan sambil duduk berjam-jam di depan komputer. Makanan cepat saji tinggi garam dan lemak semakin mudah ditemukan. Di sisi lain, tekanan pekerjaan, kemacetan, serta tuntutan ekonomi meningkatkan stres harian masyarakat.

Akibatnya, hipertensi kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Anak muda pun mulai banyak yang mengalami tekanan darah tinggi akibat pola hidup yang tidak sehat. Bahkan, beberapa studi menunjukkan adanya peningkatan hipertensi pada usia produktif.

Masalah lain yang sering luput dibahas adalah hubungan hipertensi dengan ketimpangan sosial. Kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah cenderung memiliki risiko hipertensi lebih tinggi. Penyebabnya bukan semata faktor biologis, tetapi juga keterbatasan akses terhadap makanan sehat, fasilitas olahraga, pemeriksaan kesehatan, dan layanan medis yang memadai.

Bagi sebagian masyarakat, memeriksakan tekanan darah secara rutin belum menjadi prioritas. Ada yang takut mengetahui hasil pemeriksaan, ada pula yang merasa biaya pengobatan terlalu mahal. Akibatnya, hipertensi baru diketahui setelah muncul komplikasi serius.

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Selama ini masyarakat lebih fokus mengobati penyakit ketika sudah parah. Padahal, hipertensi jauh lebih mudah dicegah dibanding mengobati komplikasi seperti stroke atau gagal ginjal.

Pemeriksaan tekanan darah sebenarnya sangat sederhana dan relatif murah. Alat pengukur tekanan darah kini tersedia di banyak fasilitas kesehatan bahkan apotek. Namun kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan berkala masih rendah.

Selain persoalan individu, sistem layanan kesehatan juga menghadapi tantangan besar. Salah satu kajian yang saya baca menyoroti bagaimana unit gawat darurat atau IGD sering menjadi tempat pertama masyarakat mengetahui dirinya hipertensi. Banyak pasien datang karena keluhan lain, tetapi ternyata tekanan darahnya sangat tinggi.

Sayangnya, setelah kondisi akut selesai ditangani, hipertensi sering tidak ditindaklanjuti secara optimal. Padahal, momen tersebut dapat menjadi kesempatan penting untuk edukasi, deteksi dini, dan pencegahan komplikasi.

Kondisi ini juga terjadi di banyak negara berkembang. Sistem kesehatan sering lebih fokus pada pengobatan penyakit daripada upaya pencegahan. Akibatnya, rumah sakit menjadi sibuk menangani komplikasi yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Padahal, biaya pengobatan komplikasi hipertensi sangat besar. Stroke misalnya, bukan hanya menyebabkan kematian, tetapi juga kecacatan jangka panjang. Banyak keluarga akhirnya kehilangan produktivitas dan menghadapi tekanan ekonomi akibat anggota keluarga yang harus menjalani perawatan terus-menerus.

Karena itu, menghadapi hipertensi tidak bisa hanya mengandalkan dokter atau rumah sakit. Dibutuhkan perubahan budaya kesehatan di masyarakat.

Langkah sederhana sebenarnya dapat dimulai dari rumah. Mengurangi konsumsi garam, memperbanyak buah dan sayur, rutin berolahraga, menjaga berat badan, berhenti merokok, serta tidur cukup merupakan kebiasaan kecil yang dampaknya sangat besar bagi kesehatan.

Olahraga pun tidak harus mahal. Jalan kaki selama 30 menit setiap hari sudah membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. Sayangnya, gaya hidup sehat sering kalah oleh kesibukan dan kebiasaan instan.

Selain perubahan individu, pemerintah dan berbagai institusi juga memiliki peran penting. Edukasi kesehatan harus dibuat lebih dekat dengan masyarakat dan tidak sekadar bersifat formalitas. Kampanye kesehatan perlu dikemas dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami publik.

Sekolah, kampus, tempat kerja, hingga komunitas masyarakat dapat menjadi ruang edukasi tentang pentingnya menjaga tekanan darah. Banyak orang baru sadar pentingnya kesehatan setelah melihat anggota keluarga terkena stroke atau serangan jantung. Padahal, pencegahan seharusnya dilakukan jauh sebelumnya.

Kita juga perlu menghilangkan anggapan bahwa mengonsumsi obat hipertensi adalah tanda kelemahan. Tidak sedikit pasien berhenti minum obat karena merasa dirinya sudah sehat. Padahal, hipertensi adalah penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang.

Dalam dunia kesehatan, keberhasilan bukan hanya ketika pasien sembuh dari penyakit, tetapi juga ketika masyarakat mampu mencegah penyakit sebelum terjadi. Sayangnya, budaya preventif ini masih belum kuat di Indonesia.

Hipertensi memberi pelajaran penting bahwa ancaman terbesar sering datang secara perlahan, bukan tiba-tiba. Penyakit ini bekerja diam-diam, merusak pembuluh darah sedikit demi sedikit hingga akhirnya menimbulkan dampak besar.

Momentum Hari Hipertensi Sedunia seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga tekanan darah bukan hanya urusan dokter atau rumah sakit. Ini adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari pola hidup sehat, pemeriksaan rutin, dan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri maupun keluarga.

Mungkin kita tidak bisa menghilangkan seluruh faktor risiko hipertensi. Namun setidaknya, kita dapat mulai lebih peduli terhadap tubuh sendiri. Memeriksa tekanan darah secara rutin, menjaga pola makan, dan meluangkan waktu untuk bergerak merupakan investasi kesehatan yang nilainya jauh lebih murah dibanding biaya pengobatan di kemudian hari.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal hidup lebih lama, tetapi juga soal kualitas hidup. Sebab tidak ada kesuksesan yang benar-benar berarti jika tubuh tidak lagi mampu menikmatinya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Aisya Athifa
Aisya Athifa
Dokter Residen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Universitas Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...