Sebelum Radio Benar-benar “Punah”, Lakukan Satu Hal Ini

Muhammad Ilham
Oleh Muhammad Ilham
22 Juli 2026, 08:05
Muhammad Ilham
Katadata/Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Zaman sekarang, sadar atau tidak, isi HP kita disetir oleh “algoritma”. Di TikTok, Instagram, X, atau YouTube, konten yang muncul adalah hal-hal yang mampu “menebak” isi pikiran kita. Seru memang, tapi dampaknya membuat kita sering tersambar hoaks, gampang terpancing emosi, dan ruang obrolan publik jadi makin panas karena isinya hanya perdebatan.

Di tengah gempuran teknologi ini, bagaimana nasib radio? Banyak yang bilang radio itu media jadul yang tinggal menunggu waktu untuk habis.

Tapi tunggu dulu. Justru di era digital sekarang, pertanyaannya cuma satu buat kita pelaku industri: Mau berubah atau punah? Tidak ada pilihan abu-abu di antaranya.

Kelebihan Radio yang Tidak Dimiliki TikTok dan Spotify

Selama ini, banyak yang mengira ketergantungan radio pada manusia (ada penyiar, ada produser, ada tim kreatif) adalah sebuah kelemahan karena dinilai ribet dan boros biaya. Padahal, di era sekarang, sentuhan manusia inilah yang menjadi senjata paling mahal.

Media sosial bekerja menggunakan mesin yang cuma peduli konten itu viral atau tidak. Media sosial tidak mempedulikan itu berita benar atau bohong. Akibatnya, hoaks di mana-mana.

Sementara radio? Kita punya penyiar yang punya empati, punya tim redaksi yang menyaring berita sebelum disiarkan, dan punya kedekatan lokal dengan pendengar. Ketika orang bingung info di medsos benar atau hoaks, mereka larinya ke radio buat memastikan. Radio sekarang bukan cuma tempat nyari hiburan, tapi jadi tempat verifikasi informasi yang paling dipercaya.

Jam Sibuk yang Sudah Berubah Total 

Tapi jujur saja, idealisme itu tidak akan bisa jalan kalau dapurnya tidak “ngebul”. Masalah terbesar sebagian besar radio saat ini bukan karena tidak ada yang mendengarkan, tapi karena kita sering “buta data”.

Dulu, kita tahunya jam sibuk (primetime) orang mendengarkan radio itu hanya saat berangkat kerja (pukul 06.00–10.00) dan saat pulang kerja (pukul 16.00-20.00). Begitu masuk jam kerja kantoran, radio dianggap sepi.

Padahal kalau kita intip data dari laporan Digital Indonesia terbaru dan tren pengguna platform streaming seperti Spotify atau YouTube Music, polanya sudah bergeser total akibat perubahan gaya hidup digital. Rata-rata orang Indonesia sekarang menghabiskan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam per hari hanya untuk mendengarkan streaming audio, dan konsentrasinya pecah di jam-jam berikut:

  • Jam Kerja dan Kuliah (09.00 - 15.00): Ini adalah puncak grafik pertama (The Mid-Day Peak). Berdasarkan data internal platform streaming, grafik akses lewat perangkat desktop dan web melonjak tajam di jam-jam ini. Di momen ini, orang mendengarkan audio lewat headset sambil kerja atau belajar biar tidak bosan dan ngantuk. Jenis konten yang dicari adalah musik-musik fungsional pengisi latar belakang, kayak playlist Lo-Fi, Deep Focus, atau lagu akustik santai.

  • Jam Malam Menjelang Tidur (21.00 - 01.00): Ini adalah puncak grafik kedua (The Late-Night Wind-Down). Data menunjukkan ada lonjakan masif akses dari perangkat mobile (HP) di atas jam 9 malam. Ini adalah waktu-waktu intim saat seseorang bersantai di kasur, scrolling medsos, atau sedang overthinking. Di jam ini, playlist yang sifatnya emosional kayak “Lagu Galau”, konten bercerita, hingga Podcast obrolan santai dan misteri dapet panggung paling besar.

Kalau radio masih menggunakan cara lama, jualan iklan pakai tebak-tebakan atau cuma pakai survei kertas konvensional yang keluar beberapa bulan sekali, radio bakal ditinggal oleh pengiklan. Pengiklan zaman sekarang rewel, mereka ingin tahu: "Yang dengerin iklan saya beneran ada berapa orang di jam itu?"

Solusi Minimal: Punya Web Streaming Sendiri!

Lalu, mulainya dari mana agar bisa berubah? Langkah paling gampang, minimal, dan wajib hukumnya adalah: Radio harus punya web streaming atau aplikasi sendiri.

Banyak radio yang ambil jalan pintas dengan numpang siaran di YouTube atau platform pihak ketiga lainnya. Boleh-boleh aja, tapi di sana radio tidak memegang datanya.

Kalau radio memiliki platform streaming sendiri, pengelola radio dapat memegang kendali penuh dan tahu data pendengar secara langsung dan real-time:

  1. Angka Pasti, Bukan Tebakan: Radio mengetahui pasti berapa orang yang lagi dengerin detik ini juga, mereka ada di kota mana, dan pakai perangkat apa.

  2. Evaluasi Program Instan: Dapat langsung dapet feedback. Begitu penyiar ganti topik atau muter lagu tertentu terus jumlah pendengarnya drop, tim program bisa langsung tahu saat itu juga dan langsung putar haluan.

  3. Senjata Jualan Tim Sales: Tim Sales jadi punya modal kuat buat jualan ke klien. Pengelola radio tidak sedang menawarkan “asumsi”, tapi nawarin “angka pasti” yang bikin pengiklan percaya buat naruh duitnya di radio kita.

Mengubah kebiasaan radio dari yang tadinya cuma main di frekuensi udara (FM/AM) ke ranah digital berbasis data memang kedengarannya menakutkan. Ini bukan cuma soal urusan pasang server atau bikin website, tapi soal mengubah kebiasaan dan cara pikir seluruh tim di radio dari bos, penyiar, sampai tim marketing.

Sebagai orang yang bertahun-tahun jatuh cinta dan hidup di dunia media, saya melihat masa ini justru masa yang paling seru bagi industri radio. Radio tidak akan mati, asal kita tahu cara main yang baru.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Muhammad Ilham
Muhammad Ilham
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...