Mindfulness, Algoritma, dan Kecemasan Kita

Muhammad Iqbal
Oleh Muhammad Iqbal
15 September 2026, 05:45
Muhammad Iqbal
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Artis Maudy Ayunda berbicara tentang mindfulness (kesadaran penuh) di tengah derasnya arus bad news. Potongan pernyataannya lalu beredar luas di media sosial. Sebagian orang menganggap pesannya masuk akal. Sebagian lain merasa ada jarak antara ketenangan yang ia tawarkan dan kegelisahan yang sedang dialami banyak orang.

Perdebatan itu segera terbelah ke dua arah. Ada yang menilai publik terlalu mudah tersulut. Ada pula yang melihat figur publik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari orang kebanyakan. Dua-duanya menarik, tetapi keduanya belum menyentuh persoalan yang lebih penting.

Apa sebenarnya yang bisa dilakukan mindfulness ketika sumber kecemasan tidak seluruhnya berada di dalam kepala kita?

Pertanyaan ini penting karena kehidupan digital telah mengubah cara kita berhadapan dengan kabar sendala. Dulu orang membaca koran pada pagi hari, menutupnya, lalu menjalani aktivitas liyan. 

Sekarang berita mengikuti kita sejak bangun tidur. Perang, bencana, konflik politik, kekerasan, pemutusan hubungan kerja, dan skandal hadir melalui layar yang sama. Beberapa detik setelah membaca kabar kematian, kita bisa melihat iklan sepatu. Setelah itu video lucu. Lalu berita buruk berikutnya.

Batas antara informasi, hiburan, kecemasan, dan konsumsi menjadi tipis.

Dave Harley, dalam Mindfulness in a Digital World, menunjukkan bagaimana teknologi digital perlahan mengambil bagian dalam pekerjaan yang sebelumnya kita lakukan sendiri. Mesin pencari membantu kita mengingat. Algoritma memilih berita dan hiburan. Media sosial mengatur arus hubungan sosial. Aplikasi terus menawarkan apa yang perlu kita lihat berikutnya. 

Harley melihatnya sebagai pergeseran perhatian dari proses yang kita kendalikan sendiri menuju proses yang makin dipengaruhi sistem digital (Harley, 2022, hlm. 79-81).

Dalam konteks seperti ini, ajakan untuk berhenti sejenak sebenarnya masuk akal. Masalahnya bukan pada tarikan napas itu. Masalahnya adalah apa yang kita lakukan sesudahnya.

Maudy Tidak Sepenuhnya Galat

Doomscrolling bukan sekadar istilah populer. Doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial untuk mencari dan membaca kabar buruk, meskipun informasi itu tidak lagi menambah pemahaman dan justru meningkatkan kecemasan. Banyak orang pernah membuka media sosial dengan niat melihat satu kabar, lalu menyadari setengah jam kemudian bahwa mereka masih menggulir berita serupa.

Harley meneroka bahwa media sosial dapat memperkuat rumination, perbandingan sosial, dan paparan berulang terhadap emosi negatif. Algoritma ikut menentukan apa yang muncul di layar berikutnya. 

Dalam situasi semacam itu, mindfulness dapat membantu seseorang menyadari kebiasaan digital yang berjalan otomatis. Beberapa penelitian yang ia bahas menunjukkan bahwa latihan mindfulness berkaitan dengan berkurangnya kebiasaan menggunakan telepon pintar, online vigilance, dan multitasking (Harley, 2022, hlm. 35).

Ada pelajaran praktis di sini.

Tidak setiap notifikasi harus dibuka. Tidak setiap perdebatan perlu diikuti. Membaca berita lima puluh kali ihwal peristiwa yang sama tidak otomatis membuat seseorang lima puluh kali lebih peduli.

Kita boleh menentukan jam membaca berita. Kita boleh mematikan notifikasi. Kita boleh meninggalkan ponsel ketika makan bersama keluarga. Kita juga boleh berhenti menggulir layar ketika informasi yang datang tidak lagi menambah pemahaman.

Mengelola perhatian bukan tanda tidak peduli. Dalam ekonomi digital yang menggantungkan keuntungan pada lamanya orang menatap layar, keputusan untuk berhenti justru bisa menjadi bentuk kendali diri.

Namun di sinilah batasnya mulai terlihat.

Bad News dan Bad Reality

Berita buruk dan kenyataan cendala bukan hal yang sama. Seseorang bisa menutup berita perihal naiknya harga kebutuhan pokok. Ia tetap harus berbelanja. Seseorang bisa keluar dari aplikasi ketika membaca berita tentang polusi udara. Ia tetap menghirup udara yang sama. Seorang pekerja bisa berhenti mengikuti berita tentang PHK. Jika namanya masuk senarai, keputusan itu tidak ikut hilang bersama layar yang dimatikan.

Digital detox bisa mengurangi paparan terhadap masalah. Ia tidak otomatis menghilangkan masalah. Di titik inilah pembicaraan tentang mindfulness perlu bergerak keluar dari wilayah psikologi pribadi.

Crystal M. Fleming, Jeffrey Proulx, dan Veronica Y. Womack dalam Beyond White Mindfulness: Critical Perspectives on Racism, Well-being, and Liberation mengkritik kecenderungan melihat mindfulness sebagai praktik yang netral dan universal. Mereka menulis dari konteks ras, kolonialisme, dan ketimpangan di Amerika Serikat. Konteks itu tentu tidak dapat dipindahkan mentah-mentah ke Indonesia. 

Walakin pertanyaan dasarnya tetap relevan. Pengalaman seseorang pada “saat ini” selalu berlangsung di dalam kondisi sosial tertentu, lengkap dengan sejarah dan relasi kekuasaan yang membentuknya (Fleming, Proulx, & Womack, 2022, hlm. xv-xvi).

Oleh sebab itu, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana seseorang mengelola stres. Kita juga perlu bertanya: dari mana stres itu datang? Siapa yang bisa mengambil jarak dari suatu masalah, dan siapa yang harus menjalaninya setiap hari?

Sistem Membuat Kita Cemas

Ada paradoks dalam kehidupan digital hari ini. Platform dirancang agar kita terus melihat. Tatkala perhatian kita terkuras, pasar menawarkan berbagai cara untuk mendapatkan ketenangan kembali.

Harley mendedah bahwa desain digital dapat memindahkan sebagian kontrol perhatian dari pengguna kepada sistem komputasi. Algoritma menentukan konten. Notifikasi memancing respons. Aplikasi menciptakan alasan agar orang kembali membuka layar. Pengguna kemudian merasa lelah, tetapi pembicaraan publik lebih sering menyoroti bagaimana pengguna harus mengatur dirinya daripada bagaimana sistem itu bekerja (Harley, 2022, hlm. 78-79).

Harley bahkan mendorong pembahasan lebih jauh. Ia menilai persoalan kesejahteraan digital tidak cukup diatasi melalui disiplin pribadi. Transparansi algoritma dan regulasi platform juga penting karena sistem digital dapat memengaruhi perhatian dan kesejahteraan pengguna tanpa selalu disadari (Harley, 2022, hlm. 87-88).

Di sinilah ironi itu terasa.

Platform berlomba mengambil perhatian kita. Setelah kita kelelahan, kita diminta belajar agar tidak terlalu terpengaruh olehnya.

Angela Rose Black dan Suz Switzer membahas sisi lain persoalan ini dalam “Mindfulness for the People”, salah satu bab dalam Beyond White Mindfulness. Mereka menyoroti pertumbuhan aplikasi seperti Calm dan Headspace serta masuknya mindfulness ke dalam industri teknologi dan pasar wellness

Teknologi memang membuka akses yang lebih luas terhadap praktik kesehatan mental. Akan tetapi ia juga membawa pertanyaan tentang siapa yang membuat produk itu, siapa yang menjualnya, dan siapa yang menjadi konsumennya (Black & Switzer, 2022, hlm. 147-149).

Ketenangan pun bisa masuk ke pasar.

Dari Tenang ke Sadar

Persoalan liyan muncul ketika mindfulness dipahami sebatas cara untuk merasa nyaman.

Dalam penelitiannya, Harley menemukan bahwa sebagian orang yang mengenal mindfulness lewat internet mengartikannya terutama sebagai teknik relaksasi dan pengurangan stres. Ia menganggap pemahaman ini terlalu sempit. Praktik mindfulness justru menuntut seseorang untuk mengenali ketidaknyamanan tanpa buru-buru menyingkirkannya (Harley, 2022, hlm. 52-53).

Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya besar.

Tidak semua kemarahan menandakan kegagalan mengelola emosi. Tidak semua kecemasan muncul karena seseorang kurang mampu mengendalikan pikirannya.

Orang bisa marah karena melihat ketidakadilan. Orang bisa cemas karena pendapatannya tidak pasti. Orang bisa cuak karena ancamannya memang nyata.

Rebeca Castellanos dan Kate Flory menawarkan gagasan yang berguna ketika membahas dekolonisasi mindfulness. Mereka mengkritik pendekatan yang berhenti pada coping with oppression. Menurut mereka, praktik kesehatan mental juga perlu membuka ruang bagi critical consciousness, collective empowerment, dan social transformation. Beban untuk merasa lebih baik tidak seharusnya selalu jatuh kepada individu yang sedang menghadapi kondisi yang menekan (Castellanos & Flory, 2022, hlm. 58-59).

Dalam bahasa yang lebih semenjana, tenangkan diri bila perlu. Setelah itu, cari tahu mengapa kita perlu ditenangkan.

Mindfulness Setelah Tarik Napas

Candice Hargons memberikan contoh yang lebih konkret dalam “Mindfulness and Matter: The Black Lives Matter Meditation for Healing Racial Trauma”. Ia menggunakan mindfulness dalam konteks trauma rasial dan aktivisme. Namun ia juga mengingatkan batasnya. 

Meditasi tidak dapat menyelesaikan persoalan yang bersifat sistemik, organisasional, dan komunal. Praktik itu dapat membantu seseorang membangun kondisi psikologis untuk bertindak. Ia tidak dapat menggantikan tindakan tersebut (Hargons, 2022, hlm. 106-107).

Barangkali di titik inilah pernyataan Maudy Ayunda laik ditempatkan.

Mindfulness tetap berguna. Kita memerlukannya agar tidak menyerahkan seluruh perhatian kepada algoritma. Kita memerlukannya agar bisa membedakan informasi yang penting dari kebisingan. Kita memerlukannya supaya kemarahan tidak berubah menjadi reaksi yang hanya menambah keributan.

Walakin mindfulness punya batas.

Jika kegelisahan datang karena terlalu lama menatap layar, tutuplah layar.

Jika kegelisahan datang dari kebijakan yang buruk, kondisi kerja yang tidak aman, kerusakan lingkungan, layanan publik nan gagal, atau ketimpangan yang terus dibiarkan, mengatur napas tidak akan menyelesaikan sumber masalah.

Arkian, tarik napas jika itu membantu. Setelah itu, lihat lagi keadaan di sekitar. Kadang yang perlu kita kendalikan memang pikiran sendiri. Kadang yang perlu berubah justru dunia di luar kepala kita.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal
Sejarawan UIN Palangka Raya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...