Satwa Membaca Bencana di Ujung Kulon

Azhar
Oleh Azhar
19 September 2026, 05:45
Azhar
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya di Selat Sunda. Pada 5 September 2026 terjadi erupsi menerus disertai suara gemuruh, semburan lava pijar, dan aliran lava. Gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. 

Sejarah Anak Krakatau berkaitan erat dengan dinamika kegempaan, vulkanisme, dan tsunami di Selat Sunda. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau setelah aktivitas erupsi memicu tsunami yang berdampak ke kawasan pesisir, termasuk Ujung Kulon (Badan Geologi, 2026).

Di seberang kawasan vulkanik tersebut terdapat Taman Nasional Ujung Kulon, salah satu ekosistem penting di Indonesia dan habitat terakhir badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Kawasan ini juga dihuni banteng (Bos javanicus), ajag (Cuon alpinus), dan macan tutul jawa (Panthera pardus melas).

Keberadaan satwa-satwa tersebut membuka pertanyaan menarik: apakah perubahan perilaku satwa dapat memberikan informasi mengenai perubahan lingkungan sebelum atau ketika terjadi gangguan geologi?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa hewan dapat merespons rangsangan fisik yang sulit dideteksi manusia, termasuk getaran, suara berfrekuensi rendah, dan perubahan kondisi lingkungan. 

Perubahan perilaku sebelum kejadian gempa pernah dilaporkan pada berbagai kelompok hewan, meskipun mekanisme dan konsistensinya masih menjadi perdebatan ilmiah (Kirschvink, 2000; Grant & Halliday, 2010; Wikelski et al., 2020).

Namun, sinyal biologis tidak sama dengan prediksi bencana. Seekor badak yang mengubah arah pergerakan, banteng yang menjadi lebih waspada, atau ajag yang mengubah waktu aktivitas merupakan respons biologis. Respons tersebut baru menarik sebagai sinyal lingkungan apabila dapat diukur, muncul secara konsisten, dan memiliki hubungan yang dapat diuji dengan perubahan kondisi fisik lingkungan.

Prediksi memiliki tuntutan yang jauh lebih tinggi. Prediksi harus mampu menunjukkan bahwa suatu kejadian tertentu akan terjadi dalam batas waktu, lokasi, dan karakteristik tertentu. Sampai sekarang belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa badak Jawa, banteng, ajag, atau macan tutul Jawa mampu memprediksi gempa, tsunami, maupun erupsi.

Karena itu, pertanyaan penelitian di Ujung Kulon sebaiknya bukan “apakah satwa dapat meramalkan bencana?”, tetapi “apakah perubahan perilaku satwa mengandung sinyal yang berkaitan secara konsisten dengan perubahan geofisik tertentu?”

Ujung Kulon dapat menjadi laboratorium alami untuk menguji pertanyaan tersebut.

Badak Jawa dapat menjadi salah satu objek utama. Perubahan lokasi berkubang, jalur pergerakan, waktu aktivitas, dan penggunaan habitat dapat dipantau melalui kamera jebak dan teknologi pelacakan. Banteng dapat diamati melalui perubahan pola pergerakan, kewaspadaan kelompok, penggunaan padang penggembalaan, dan waktu aktivitas.

Ajag sebagai predator sosial mempunyai pola pergerakan yang berkaitan dengan mangsa dan struktur kelompok. Sementara macan tutul Jawa yang cenderung soliter memiliki pola penggunaan ruang dan aktivitas yang berbeda.

Perbedaan ekologis keempat spesies tersebut justru menjadi kekuatan penelitian. Jika hanya satu spesies berubah perilaku, penyebabnya sulit ditentukan. Tetapi apabila beberapa spesies dengan ekologi berbeda menunjukkan perubahan pada periode yang sama dan perubahan tersebut bertepatan dengan anomali yang terekam instrumen geofisik, fenomena tersebut layak diuji lebih lanjut.

Penelitian dapat dikembangkan melalui sistem pemantauan terpadu. Kamera jebak merekam aktivitas satwa, perekam suara menangkap perubahan lingkungan akustik, stasiun cuaca mencatat temperatur, tekanan, kelembapan dan curah hujan. Sedangkan seismometer serta instrumen oseanografi merekam perubahan geofisik. Seluruh data disusun berdasarkan waktu dan lokasi.

Dengan pendekatan ini, pertanyaan penelitian menjadi lebih terukur: apakah perubahan perilaku satwa terjadi sebelum, bersamaan dengan, atau setelah perubahan geofisik tertentu?

Seekor badak yang tiba-tiba meninggalkan wilayahnya tidak dapat langsung dianggap sebagai tanda gempa. Penyebabnya bisa berupa hujan, perubahan pakan, predator, penyakit, atau gangguan manusia. 

Namun, apabila beberapa spesies menunjukkan perubahan serupa, pola itu berulang dalam berbagai kejadian, dan pada saat yang sama instrumen merekam anomali geofisika, maka hubungan tersebut dapat menjadi hipotesis ilmiah yang kuat untuk diuji.

Di sinilah konsep jaringan sensor biologis menjadi menarik. Satwa bukan peramal bencana. Setiap spesies memiliki sistem sensorik dan respons ekologis berbeda. Jika respons tersebut direkam secara sistematis dan dibandingkan dengan data instrumen, satwa dapat menjadi bagian tambahan dari sistem pengamatan perubahan lingkungan.

Pengalaman 2018 menunjukkan pentingnya pendekatan tersebut. Tsunami akibat longsoran tubuh Anak Krakatau memperlihatkan bahwa dinamika gunung api dapat memberikan dampak langsung terhadap ekosistem Ujung Kulon. Namun, erupsi tidak otomatis menghasilkan tsunami. 

Dalam evaluasi aktivitas Anak Krakatau pada 5 September 2026, Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh gunung yang tumbuh kembali setelah 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan kondisi saat itu tidak dinilai berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami. Aktivitas vulkanik dan perubahan morfologinya tetap perlu dipantau (Badan Geologi, 2026).

Karena itu, pemantauan perilaku satwa harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti sistem peringatan dini resmi.

Konservasi Ujung Kulon selama ini sangat wajar berfokus pada penyelamatan badak Jawa. Namun, masa depan kawasan membutuhkan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana seluruh komunitas satwa menggunakan ruang dan merespons perubahan lingkungan.

Manusia membaca bumi melalui instrumen. Satwa membacanya melalui tubuh dan inderanya. Dunia sensorik mereka tidak selalu sama dengan dunia sensorik manusia. Tantangan ilmu pengetahuan bukan membuktikan bahwa satwa mampu meramal bencana. Melainkan, menemukan apakah respons mereka menyimpan sinyal lingkungan yang dapat diukur, diuji, dan diverifikasi secara independen.

Ujung Kulon memiliki kombinasi unik: ekosistem dengan satwa besar yang sangat bernilai konservasi dan Selat Sunda dengan dinamika vulkanik yang aktif. Pertemuan keduanya menciptakan laboratorium alami yang menarik.

Satwa bukan peramal bencana. Tetapi perilaku mereka mungkin menyimpan sinyal tentang perubahan bumi yang belum sepenuhnya kita pahami. Tugas ilmu pengetahuan adalah membedakan sinyal dari kebetulan, mengujinya dengan instrumen, dan menjadikannya bagian dari pemahaman yang lebih lengkap mengenai alam.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Azhar
Azhar
Spesialis Konservasi Alam dan Manajemen Habitat

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...