Tujuh Wawasan dari KESGI Award 2026
Siang, 17 September, di Sudirman Hall, Sequis Tower, kawasan SCBD Jakarta, Katadata menyerahkan KESGI Award 2026 kepada perusahaan dengan kinerja lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) terbaik di Indonesia di 13 sektor industri. Penghargaan independen ini telah berjalan sejak 2022, menjadi bagian dari rangkaian Katadata SAFE yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketujuh dengan tema “The Green Changer.”
Di balik seremoni itu ada empat tahun kerja mengolah data mentah menjadi angka yang bisa dipercaya. Katadata mengembangkan dashboard KESGI selama empat tahun untuk mengubah data perusahaan menjadi wawasan (insight) dan pembanding (benchmark).
Pemetaan tahun ini mencakup sekitar 400 perusahaan menggunakan 100 indikator, hasil dari penyempurnaan dan penguatan metodologi yang disusun ke dalam 15 topik dengan lebih dari 150 indikator kontekstual per sektor. Dari tumpukan data tersebut, setidaknya ada tujuh wawasan yang menonjol.
Ini penting bukan hanya untuk investor dan analis, tetapi untuk siapa saja yang ingin memahami ke mana arah bisnis dan ekonomi Indonesia sedang berjalan.
Wawasan pertama adalah bahwa kemajuan itu nyata, dan lajunya lebih cepat dari yang banyak orang duga. Skor ESG rerata 13 sektor naik dari 28,3 menjadi 42,4 sepanjang 2021–2025. Kenaikan 14,1 poin dalam lima tahun yang, untuk ukuran korporasi Indonesia, yang kerap dianggap birokratis, tergolong cepat.
Tata Kelola memimpin dengan skor 49,0, disusul Lingkungan pada 47,9. Bank Mandiri, misalnya, mencatatkan skor KESGI keseluruhan 64,8 dan meraih penghargaan pilar Tata Kelola sektor perbankan berkat kerangka manajemen risiko terintegrasi serta pelaporan regulatori yang terstruktur.
Ini bukan lagi tren niche segelintir emiten hijau; adopsinya sudah meluas dan terukur. Tentu saja, lantaran angka-angka tersebut diberikan dalam skala 100, maka ruang perbaikan juga masih sangat luas.
Wawasan kedua, dan mungkin yang paling mengganggu kenyamanan banyak manajemen puncak, adalah bahwa pilar Sosial tertinggal jauh di belakang dengan skor hanya 30,7. Isu ketenagakerjaan, dampak terhadap masyarakat, dan hubungan dengan komunitas di sekitar operasi—yang justru paling rawan menjelma krisis reputasi dan hukum—juga adalah yang paling lamban membaik.
Bagi perusahaan ekstraktif dan perkebunan yang beroperasi di tengah masyarakat adat dan lahan yang disengketakan, ini adalah kesenjangan yang tak lagi bisa disembunyikan di balik laporan keberlanjutan yang rapi dan penuh foto-foto masyarakat yang tersenyum. Mereka harus jauh lebih serius dalam pengelolaan aspek sosial.
Wawasan ketiga adalah soal cara membaca risiko pada skor ESG. Ternyata, risiko paling berbahaya bukanlah pada angka terendah, melainkan pada isu yang paling material bagi sektor tertentu namun kinerjanya masih lemah.
Perbankan mencatat skor serendah 15 untuk dampak terhadap masyarakat, padahal isu itu dinilai paling krusial bagi sektor tersebut. Perkebunan menghadapi pola serupa pada ketenagakerjaan, dan sektor utilitas serta listrik pada manajemen energi.
Mismatch antara materialitas dan kinerja pengelolaannya inilah yang melahirkan risiko terbesar: bukan sekadar rapor merah, tetapi titik rawan yang, jika dibiarkan, bisa berubah menjadi krisis operasional maupun reputasi dalam semalam, dan pada akhirnya akan tercermin dalam kinerja finansial yang turun.
Wawasan keempat: kemajuan ESG Indonesia sangat tidak merata antar-sektor, dan tidak ada satu playbook yang bisa dinyatakan berlaku universal. Perbankan memang melompat 21,3 poin, mineral 19,1 poin, dan material konstruksi 18,7 poin, yang didorong tekanan regulator, akses pembiayaan hijau, dan sorotan investor institusional.
Chandra Asri Pacific diapresiasi atas inisiatif pengelolaan emisi di sektor kimia dan kemasan sekaligus keunggulan dalam pengembangan dan retensi karyawan; sementara Barito Renewables Energy diganjar atas efisiensi dan manajemen energi di sektor utilitas dan listrik.
Sebaliknya, sektor kebutuhan rumah tangga hanya naik 5,7 poin dan makanan-minuman 7,6 poin, jauh tertinggal meski menyentuh jutaan konsumen setiap hari. Kinerja sektor migas dan batubara juga bergerak sangat lamban, dan menjadi paradoks mengingat besarnya tekanan dan risiko transisi energi yang mereka hadapi.
Wawasan kelima menyangkut tata kelola penilaian itu sendiri. KESGI dibangun melalui lima tahap: ingestion data dan pengungkapan, processing dengan pembobotan panel ahli sektor, benchmarking berjenjang dari indikator hingga skor total, quality control untuk memvalidasi anomali, dan akhirnya keputusan penghargaan.
Struktur berjenjang dari indikator mentah menuju skor gabungan tiga pilar ini dirancang meminimalkan bias subjektif sekaligus menjaga independensi. Ini adalah kebutuhan mendesak di pasar yang selama ini rawan tuduhan greenwashing.
Wuling diakui atas kontribusinya membangun ekosistem kendaraan listrik melalui lokalisasi pabrik baterai dan peningkatan rasio Total Kandungan Dalam Negeri selama hampir satu dekade—menunjukkan bahwa validasi berbasis bukti empiris, bukan klaim semata, yang menjadi tumpuan penilaian.
Wawasan keenam: penghargaan hanyalah persinggahan, bukan garis akhir. Dashboard KESGI dirancang melampaui seremoni tahunan, menjadi alat kerja lintas-fungsi. Tim keberlanjutan dapat terus memantau isu material dan kesenjangan kinerja spesifik; manajemen dan dewan direksi mendukung alokasi modal dan keputusan strategis; tim investor relations menyusun peta komunikasi perbaikan kepada investor.
Pergeseran dari sekadar trofi menuju wawasan yang bisa ditindaklanjuti inilah yang membedakan KESGI dari ajang seremonial yang kerap usai begitu lampu di panggung acara penghargaan padam.
Wawasan ketujuh, dan barangkali paling penting bagi masa depan keberlanjutan perusahaan di Indonesia, adalah kebutuhan mendesak untuk terus menyempurnakan metodologi penilaian agar benar-benar menghubungkan kinerja ESG dengan kinerja finansial perusahaan.
Katadata sendiri tampak menyadari titik lemah ini: dalam pembukaan SAFE 2026, manajemennya memperkenalkan rencana peluncuran KESGI 50 Index, yang akan memuat 50 emiten dinilai berdasarkan aspek keberlanjutan sekaligus kondisi fundamental perusahaan, dengan rencana pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah ini sejalan dengan yang dilakukan regulator. OJK belum lama ini menerbitkan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030 untuk memperkuat instrumen berbasis ESG dan pendanaan investasi berkelanjutan guna mendukung target net zero emission nasional.
Namun, niat baik ini belum otomatis menjawab pertanyaan yang lebih sulit: apakah skor ESG yang tinggi benar-benar berkontribusi pada return saham yang lebih baik, biaya modal yang lebih rendah, atau ketahanan laba jangka panjang di pasar Indonesia yang volatil dan didominasi komoditas?
Selama hal tersebut belum teruji secara robust dan spesifik konteks lokal—bukan sekadar meniru studi pasar maju yang struktur ekonominya jauh berbeda—skor ESG berisiko tetap dipandang sebagai beban kepatuhan ketimbang sumber nilai bagi pemegang saham.
Di sinilah pekerjaan rumah sesungguhnya dimulai: memperkaya metodologi dengan data panel jangka panjang, menguji hubungan sebab-akibat antara perbaikan kinerja Lingkungan dan Sosial dengan penurunan risiko litigasi atau konflik sosial, serta memastikan bobot materialitas benar-benar mencerminkan risiko finansial yang nyata, bukan sekadar preferensi normatif para penyusun kerangka.
Jika KESGI Award adalah pengakuan atas pencapaian yang telah lewat, KESGI 50 Index adalah taruhan atas masa depan, terutama taruhan bahwa keberlanjutan dan keuntungan, pada akhirnya, bukan dua bahasa yang berbeda, melainkan ada dalam satu neraca yang sama dan saling menguatkan.
Pertanyaan untuk Katadata bukan lagi apakah Indonesia bisa mengukur ESG. Melainkan, apakah pengukuran itu cukup tajam untuk meyakinkan pasar modal bahwa keberlanjutan layak dihargai dengan harga saham, bukan hanya dengan piala di atas panggung.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
