Krisis Ekologi dan Cara Manusia Memahami Alam

Anggoro Yudo Mahendro
Oleh Anggoro Yudo Mahendro
3 Oktober 2026, 06:25
Anggoro Yudo Mahendro
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bahasa Indonesia banyak memiliki kata yang berasal dari Bahasa Arab, di antaranya adalah ilmu dan alam. Menariknya, meskipun dua kata itu memiliki makna yang berbeda namun berasal dari akar kata yang sama yaitu ع-ل-م (ʿ-l-m). Masih dari asal kata yang sama, ‘alim dimaknai sebagai entitas yang menguasai ilmu dalam hal ini adalah manusia. 

Dalam kaitan itu, tulisan ini ingin menggali kaitan antara ilmu dan alam sebagai sebuah diskusi yang menarik untuk memahami alam dalam konteks menjawab tantangan dari krisis ekologi yang semakin nyata. Krisis ekologis bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga krisis cara manusia mengetahui dan menempatkan dirinya terhadap alam.

Si Alim adalah Sapiens?

Yoval Noah Harari melalui bukunya dengan judul Sapiens yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris pada 2014, menjelaskan bahwa Homo Sapiens bisa bertahan dalam evolusi bukan hanya karena kekuatan fisiknya, namun karena kemampuannya untuk bekerja sama melalui bahasa, cerita, simbol, dan institusi. 

Penjelasan ini menarik karena Sapiens bisa bertahan melalui kemampuan membangun seperangkat pengetahuan yang melampaui interaksinya dengan alam dalam hal ini adalah realitas bio-fisik. Dengan demikian, maka pengetahuan terus berkembang dengan tujuan baru yaitu membangun stabilitas Kerjasama antar manusia seperti politik, ekonomi, dan juga teknologi. 

Salah satu titik balik perkembangan peradaban manusia adalah pertanian. Menurut Harari, semenjak 12.000 tahun yang lalu Sapiens telah berhasil mengembangkan teknik budidaya tanaman dan domestikasi hewan yang menyebabkan mereka tidak lagi perlu untuk melakukan kegiatan berburu dan meramu dalam rangka bertahan hidup. 

Melalui pertanian dan peternakan, manusia dapat hidup menetap karena adanya kemampuan mengelola dan mengumpulkan makanan secara intensif.  Revolusi Pertanian membuat manusia tidak lagi sekadar mengambil apa yang disediakan alam, tetapi mulai mengatur tanaman, hewan, tanah, air, dan ruang untuk memenuhi kebutuhannya. Ribuan tahun kemudian, kemampuan itu berkembang menjadi teknologi dan sistem produksi yang memungkinkan manusia mengubah bumi dalam skala global.

Kooptasi Si Alim terhadap Si Alam 

Perkembangan ilmu yang kemudian dikenal dengan ilmu pengetahuan dan juga teknologi terus berkembang secara eksponensial. Permasalahan manusia modern itu bukan keterbatasan pengetahuan namun masalahnya terletak pada perkembangan kebijaksanaan tidak secepat dengan perkembangan pengetahuan. 

Erich Fromm melalui bukunya To Have or To Be? Yang ditulis pada 1976, menjelaskan orientasi manusia terhadap alam dalam kerangka kepemilikan (having). Fromm menjelaskan bahwa dalam masyarakat industri modern, hubungan yang tercipta adalah relasi penguasaan terhadap alam sebagai aset dan juga komoditas. 

Dengan demikian terbentuklah sistem ekonomi dan politik yang berupaya untuk mengkooptasi alam bahkan manusia lainnya, yang bukan hanya pada level dimiliki, namun juga dikuasai, dikontrol, kemudian dieksploitasi. 

Dampak dari kerusakan lingkungan sudah semakin nyata dirasakan oleh Si Alim. Peningkatan suhu bumi, pencemaran air dan udara, serangan hama, penyakit menular dan lain sebagainya. Dengan kondisi demikian, tantangan kehidupan bagi Si Alim semakin kompleks. Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki kehidupan baik pada level konseptual maupun praktis. 

Fromm menawarkan kebijaksanaan dalam memandang relasi Si Alim dan Si Alam melalui konsep being. Being adalah cara manusia menjalani keberadaan secara aktif, terbuka, dan berelasi, bukan menjadikan kepemilikan sebagai pusat identitas. Sinergi Alim, Ilmu, dan Alam terus diupayakan dengan berbagai konsep yang ditawarkan, ekonomi hijau, sustainability, zero emission, zero deforestation dan lain sebagainya. 

Nature-based Solution: Si Alam yang Mengetahui 

Nature-based Solution (NbS) adalah tindakan untuk melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan memulihkan ekosistem alami atau ekosistem yang telah dimodifikasi yang menjawab tantangan masyarakat secara efektif dan adaptif, sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan manusia dan biodiversitas (IUCN, 2020). 

Dalam studi mutakhir beberapa spesies kunci seperti berang-berang, burung ibis, burung hantu, harimau, dan lain sebagainya berhasil memperbaiki kondisi ekologi awalnya rusak (IUCN, 2025). Para spesies kunci telah memainkan pengetahuannya sebagai arsitek alamiah yang mampu menjawab tantangan ekologi yang kompleks. 

NbS mengajak Si Alim mengubah cara berpikirnya: alam tidak lagi semata-mata objek yang harus dikuasai untuk menyelesaikan masalah manusia, tetapi mitra ekologis yang memiliki proses dan kapasitas sendiri untuk menjadi bagian dari solusi.

Salah satu contoh yang saat ini lazim digunakan di Indonesia adalah pemanfaatan Burung hantu, khususnya serak jawa (Tyto alba). Spesies kunci ini merupakan salah satu predator alami yang memiliki peran penting dalam ekosistem pertanian karena memangsa tikus yang menjadi salah satu hama utama tanaman pangan. 

Keberadaan burung hantu dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari mekanisme pengendalian hama secara ekologis, bukan semata-mata melalui penggunaan pestisida atau racun. 

Manusia dapat menciptakan kondisi yang mendukung keberadaannya, misalnya dengan menyediakan tempat bersarang, mempertahankan habitat, dan mengurangi penggunaan bahan beracun. Sementara burung hantu menjalankan fungsi ekologisnya melalui predasi terhadap tikus yang jumlahnya terus meningkat.

Mendamaikan Si Alim dan Si Alam: Sebuah Perubahan Paradigmatik

Pada akhirnya, kisah tentang burung hantu, tikus, padi, petani, dan ekosistem membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana manusia memahami pengetahuan. Dalam paradigma pengetahuan modern, manusia sering ditempatkan sebagai subjek yang mengetahui (subjectum), sementara alam diposisikan sebagai objek yang dapat diamati, diukur, dikendalikan, dan dimanfaatkan. 

Alam menjadi sesuatu yang berada “di luar” manusia, sementara manusia berdiri sebagai pengamat di luarnya. Namun, krisis ekologis menunjukkan keterbatasan cara pandang tersebut. Manusia ternyata tidak pernah benar-benar berada di luar alam; kehidupan manusia selalu berlangsung melalui jejaring relasi dengan tanah, air, iklim, tumbuhan, hewan, mikroorganisme, teknologi, institusi, dan berbagai unsur nonmanusia lainnya. 

Bruno Latour (2005) mengkritik pemisahan tersebut melalui apa yang ia sebut sebagai praktik “purification”, yaitu kecenderungan modern untuk memisahkan manusia dan nonmanusia, masyarakat dan alam, sebagai dua wilayah yang berbeda. Bagi Latour, kenyataan justru dipenuhi oleh hybrid networks yang mempertautkan unsur manusia dan nonmanusia dalam satu jejaring. 

Mungkin persoalannya bukan lagi siapa yang lebih mengetahui; Si Alim atau Si Alam. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana keduanya saling membentuk. Burung hantu tidak memiliki teori tentang tikus, petani tidak mengendalikan seluruh perilaku burung hantu, dan ekosistem tidak bekerja mengikuti rancangan manusia. Namun, ketika semuanya berjejaring, perubahan pada satu unsur dapat mengubah keseluruhan sistem.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Anggoro Yudo Mahendro
Anggoro Yudo Mahendro
Mahasiswa Program Doktor Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, IPB University

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...