Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Suara mesin pesawat mengiringi sebuah momen bersejarah di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada 10 Agustus 1995. N-250 Gatotkaca, pesawat turboprop rancangan industri dirgantara Indonesia, lepas landas untuk pertama kalinya di hadapan para undangan.

Setelah lebih dari 50 menit mengudara, N-250 kembali mendarat dengan selamat. Sejak itu, nama Bacharuddin Jusuf Habibie atau B.J. Habibie makin dikenal luas. Penerbangan itu menjadi salah satu tonggak penting dan membawa harapan besar tentang kemampuan Indonesia merancang dan mengembangkan teknologi penerbangan yang mandiri.

Habibie, sosok di balik pengembangan Gatotkaca, meyakini kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari kekayaan sumber daya alam, pembangunan fisik, atau pertumbuhan ekonomi. Indonesia juga harus mampu merancang, mengembangkan, dan menghasilkan teknologi berdaya saing tinggi.

"Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan harapkan orang lain datang membangun bangsa kita," ujar Habibie semasa hidupnya saat berbicara di hadapan ratusan mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Makassar, 30 Agustus 2014. 

Keyakinan akan kemandirian itu pula yang membentuk perjalanan hidup Habibie. Dari kota kecil di Parepare, Sulawesi Selatan, ia membangun mimpi hingga menjadi insinyur penerbangan di Jerman dan Presiden ketiga Republik Indonesia.

Dari Parepare ke Jerman

Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare pada 25 Juni 1936. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo.

Ketika berusia 14 tahun, ayahnya meninggal akibat serangan jantung. Ibunya kemudian memegang peran penting dalam memastikan pendidikan. Habibie tumbuh menjadi anak yang cekatan dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun melanjutkan sekolah di Bandung dan dikenal menonjol dalam pelajaran matematika serta ilmu pengetahuan alam.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada 1954, Habibie melanjutkan studi teknik di Bandung, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia kemudian berangkat ke Jerman untuk mendalami teknik penerbangan di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen.

Di sana, Habibie mempelajari konstruksi pesawat, termasuk persoalan kekuatan dan keamanan struktur penerbangan. Ia memperoleh gelar Diplom-Ingenieur pada 1960 dan menyelesaikan pendidikan doktor di bidang teknik pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Habibie menikahi Hasri Ainun Besari pada 12 Mei 1962. Ainun mendampinginya melewati berbagai fase kehidupan, dari membangun karier di Jerman hingga menjalani tugas sebagai kepala negara. Mereka dikaruniai dua putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

Keahliannya membawa Habibie muda bekerja di industri dirgantara Jerman, termasuk di Messerschmitt-Bölkow-Blohm. Di lingkungan industri tersebut, ia memperdalam pengalaman rekayasa pesawat sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk mengembangkan teknologi nasional. 

Membangun Industri Pesawat Nasional

Setelah membangun karier di Jerman, Habibie menerima ajakan Presiden ke-2 RI, Soeharto, untuk kembali dan berkontribusi pada pembangunan Indonesia. Kepulangannya menjadi awal babak baru. Dari seorang insinyur yang bekerja dalam industri penerbangan Eropa, ia beralih menjadi tokoh utama dalam pengembangan teknologi dan industri strategis nasional.

Pada 1970-an, Indonesia masih bergantung pada teknologi impor. Habibie melihat bahwa pembangunan industri tidak cukup dilakukan dengan membeli mesin atau mendirikan pabrik. Penguasaan teknologi memerlukan sumber daya manusia, penelitian, dan kemampuan rekayasa yang dibangun secara berkelanjutan.

Pengembangan industri pesawat nasional telah dimulai sebelum 1976. Pada tahun tersebut, Industri Pesawat Terbang Nurtanio berkembang menjadi  Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Habibie menjadi figur sentral dalam pengembangan industri ini, yang bertujuan membangun kemampuan desain, manufaktur, dan rekayasa pesawat di Indonesia. 

Pada 1978, Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jabatan tersebut diembannya hingga 1998. Ia turut mendorong pengembangan industri strategis, dengan keyakinan bahwa penguasaan teknologi merupakan bagian penting dari kemandirian bangsa.

Salah satu hasil paling menonjol dari gagasan itu adalah N-250 Gatotkaca, yang menjalani penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995. Pesawat tersebut menjadi simbol kemampuan Indonesia mengembangkan rancangan penerbangan sendiri. Namun, ambisi itu tidak berlanjut hingga produksi komersial. 

Krisis ekonomi 1997–1998 dan perubahan kebijakan pemerintah kemudian menghentikan kelanjutan program pengembangan N-250. Pesawat tersebut tidak mencapai tahap produksi komersial, meskipun penerbangan perdananya telah menunjukkan kemampuan rekayasa industri dirgantara Indonesia. 

Dari Menteri Menjadi Presiden, Dua Warisan

Perjalanan Habibie memasuki babak baru ketika ia terjun ke pucuk kepemimpinan negara. Pada 11 Maret 1998, ia terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Soeharto. Namun, krisis ekonomi dan gelombang demonstrasi mahasiswa segera mengguncang pemerintahan Orde Baru.

Setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, Habibie dilantik menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia. Ia mewarisi negara yang menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpercayaan publik, dan tuntutan reformasi politik.

Dalam masa pemerintahan sekitar 17 bulan, Habibie membuka ruang yang lebih luas bagi pers, yang kemudian diperkuat melalui UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ia juga mendorong pembentukan partai politik baru, dan menyelenggarakan Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai. Pemerintahannya juga mengesahkan sejumlah undang-undang penting, termasuk UU Pemerintahan Daerah, UU Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta UU Bank Indonesia yang memperkuat independensi bank sentral.

Di tengah berbagai capaian, pemerintahannya juga menghadapi keputusan kontroversial mengenai Timor Timur. Jajak pendapat yang berlangsung melalui kesepakatan yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 30 Agustus 1999 menghasilkan mayoritas suara mendukung terwujudnya kemerdekaan Timor-Leste. 

Pada Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie. Ia tidak melanjutkan pencalonannya sebagai presiden. Masa kepemimpinan Habibie pun berakhir pada 20 Oktober 1999 dan Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden berikutnya.

Setelah meninggalkan kursi kepresidenan, Habibie tetap aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan demokrasi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan masyarakat melalui The Habibie Center, lembaga yang didirikannya pada 1999.

Habibie meninggal dunia di Jakarta pada 11 September 2019 dalam usia 83 tahun. Ia meninggalkan perjalanan yang merentang dari industri penerbangan Eropa, pembangunan teknologi nasional, hingga kepemimpinan di masa transisi demokrasi.

Warisan Habibie tidak hanya terletak pada N-250 yang pernah mengudara atau jabatan yang pernah diembannya. Ia meninggalkan gagasan bahwa kemandirian bangsa membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan berikutnya bagi Indonesia adalah memastikan gagasan tersebut tumbuh menjadi kemampuan industri yang berkelanjutan, bukan sekadar pencapaian yang dikenang dalam sejarah.

Bagi putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie, masyarakat perlu mengingat kontribusi ayahnya dalam membangun teknologi dan demokrasi Indonesia. Menurut Ilham, kedua bidang tersebut saling berkaitan karena membutuhkan ilmu pengetahuan dalam pengembangannya. 

Ilmu diperlukan untuk mengembangkan teknologi inovasi dan industri. Ia juga menyebut ilmu diperlukan untuk mengembangkan negara dan demokrasi.

“Bapak jangan hanya dikenang sebagai teknologi dan industri, itu kontribusi Bapak sebagai Menteri. Waktu Bapak menjabat sebagai Presiden justru ke demokrasi,” kata Ilham dalam malam apresiasi Lifetime Achievement Award Katadata Indonesia di Sequis Tower, Jakarta Selatan, pada Senin (26/10).

Ilham mengatakan Habibie telah mendidiknya dengan nilai demokrasi yang kuat. Bagi Ilham Habibie memberinya ruang untuk menyampaikan pandangan dengan kedudukan setara yang juga ia wariskan kepada anak cucu bangsa. 

“InsyaAllah apa yang dilakukan oleh Bapak bisa memberi contoh generasi lanjutan dan anak-anak kita,” kata Ilham.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini