SMBC Indonesia Soroti Pentingnya Stabilitas dan Investasi Berkelanjutan

SMBC Indonesia Economic Forum 2026 menyoroti pentingnya stabilitas sistem keuangan, transformasi ekonomi, dan investasi berkelanjutan di tengah dinamika global.
Ratu Monita
Oleh Ratu Monita - Tim Publikasi Katadata
22 Mei 2026, 18:59
SMBC Indonesia Economic Forum 2026
SMBC Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Bank SMBC Indonesia Tbk (“SMBC Indonesia”) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung stabilitas sistem keuangan dan ketahanan ekonomi nasional melalui penyelenggaraan SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Senin (19/5/2026) lalu.

Mengusung tema “Resilience in a Shifting Global Landscape”, forum ini menjadi ruang diskusi lintas sektor untuk membahas strategi menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.

Di tengah tekanan geopolitik, fluktuasi nilai tukar, hingga tantangan terhadap ruang fiskal, Indonesia dinilai perlu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sektor keuangan, dan pelaku usaha. Sinergi tersebut menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Head of Economics Portfolio Alignment and Sustainability Danantara Indonesia, Masyita Crystallin, menyoroti pentingnya instrumen strategis nasional seperti Danantara dalam menghadapi fragmentasi geopolitik, volatilitas energi, dan perubahan arsitektur perdagangan global.

“Fokus Danantara saat ini mencakup beberapa sektor strategis, yaitu mineral, digital energy, digital infrastructure, health care, financial service, infrastructure utility, industrial asset, food, dan industry. Poin terpenting, Danantara tidak hanya berfokus pada dampak ekonomi nasional dan menghasilkan imbal hasil berkelanjutan, tetapi juga bergerak aktif berdasarkan peluang investasi yang tersedia,” ujar Masyita, dikutip dari keterangan resminya.

Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, mengatakan sektor keuangan memiliki peran penting dalam memperkuat resiliensi ekonomi, terutama melalui optimalisasi fungsi intermediasi dan dukungan terhadap investasi jangka panjang.

“Di tengah dinamika global, hal ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, sektor publik, dan swasta. Melalui SMBC Indonesia Economic Forum 2026, kami berharap forum ini dapat menjadi ruang dialog yang konstruktif sekaligus memperkaya perspektif dalam merespons dinamika ekonomi ke depan,” kata Henoch.

Dari perspektif global, Distinguished Fellow Asia Research Institute National University of Singapore, Kishore Mahbubani, menilai Indonesia perlu memperkuat peran kolektif ASEAN dalam menghadapi kompetisi geopolitik global. Menurutnya, kekuatan kawasan menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas dan posisi tawar di tingkat internasional.

“Menghadapi persaingan geopolitik akan sulit jika bergerak sendiri-sendiri. Namun, jika seluruh negara ASEAN bersatu dan menyampaikan pesan yang sama, dampaknya akan jauh lebih kuat. Itulah mengapa ASEAN menjadi instrumen yang sangat penting,” katanya.

Sementara itu, ekonom senior Raden Pardede menekankan pentingnya transformasi struktur ekonomi Indonesia agar tidak terus bergantung pada sumber daya alam. Ia menilai inovasi teknologi dan digitalisasi harus menjadi motor pertumbuhan baru.

“Transformasi ekonomi harus bergerak dari agriculture ke manufacturing, lalu ke services, dan pada saat yang sama diiringi peningkatan produktivitas serta kualitas SDM. Pada akhirnya, negara yang berhasil adalah negara yang mampu menguasai teknologi dan menciptakan industrialisasi bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, juga menyoroti pentingnya kepastian dan konsistensi kebijakan untuk menjaga kepercayaan dunia usaha dan investor di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

“Yang paling rasional bagi dunia usaha adalah kepastian. Dunia usaha tidak bisa diberikan ketidakpastian dan volatilitas. Yang mereka butuhkan adalah arah kebijakan yang jelas, angka, dan data,” katanya.

Dalam sesi panel diskusi, President Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Lilis Setiadi, dan Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk, Arief Wana, turut membahas prospek pasar obligasi dan saham Indonesia pada 2026 yang dinilai masih relatif positif.

Pada pasar obligasi, volatilitas akibat risiko global dan domestik dinilai perlu disiasati melalui diversifikasi dan strategi portofolio berdurasi lebih pendek dengan seleksi kualitas kredit yang ketat. Sementara pada pasar saham, strategi investasi dinilai harus lebih selektif dengan fokus pada sektor berkelanjutan dan pendekatan defensif di tengah rotasi sektor serta tekanan geopolitik.

Melalui SMBC Indonesia Economic Forum 2026, SMBC Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai mitra strategis dalam mendukung ketahanan ekonomi nasional. Di tengah lanskap global yang terus berubah, perusahaan berkomitmen menghadirkan solusi keuangan inovatif dan komprehensif guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...