TEI 2026 Targetkan Transaksi US$ 17,5 Miliar, Perkuat Ekspor Sawit

TEI ke-41 resmi dibuka, menargetkan transaksi US$ 17,5 miliar dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat sourcing global di hadapan pembeli dari 134 negara.
Try Surya Anditya
Oleh Try Surya Anditya - Tim Publikasi Katadata
3 November 2026, 19:43
TEI
Trade Expo Indonesia 2026
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 telah berlangsung pada Rabu (14/10/2026) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. Pameran perdagangan internasional yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 ini melibatkan 1.873 perusahaan peserta dan menargetkan transaksi sebesar US$ 17,5 miliar.

Mengusung posisi Indonesia sebagai pusat sourcing global, TEI 2026 diharapkan menjadi wadah untuk memperluas akses pasar produk dalam negeri, menjalin kemitraan dagang, serta menarik investasi dari berbagai negara. Ajang ini dihadiri pembeli (buyer) dari 134 negara.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, TEI merupakan salah satu ajang strategis untuk memperkuat hubungan perdagangan Indonesia dengan pasar internasional. Tingginya jumlah negara asal pembeli menunjukkan antusiasme pasar global terhadap produk unggulan Indonesia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mewakili Presiden Prabowo, menyampaikan, Pemerintah menekankan peran perdagangan luar negeri dalam mendorong hilirisasi industri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan pengembangan ekonomi daerah.

Selain mendorong ekspor, TEI 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat agenda ketahanan energi dan pangan nasional. Salah satu komoditas yang mendapat perhatian adalah kelapa sawit karena memiliki peran strategis dalam menghasilkan produk ekspor bernilai tambah sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan.

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjadi salah satu mitra strategis dalam pengembangan sektor tersebut. Lembaga ini mengelola dana pungutan ekspor kelapa sawit yang digunakan untuk mendukung berbagai program, mulai dari Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan biodiesel, riset dan inovasi, penguatan sumber daya manusia (SDM), hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dukungan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat hilirisasi dan daya saing industri sawit nasional. Selama ini, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas penyumbang devisa ekspor Indonesia. Produk yang diperdagangkan pun semakin beragam, mulai dari minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), produk pangan, oleokimia, hingga biodiesel.

Kehadiran produk perkebunan dan turunannya dalam TEI diharapkan dapat memperluas pasar internasional bagi industri hilir sawit. Langkah ini sekaligus memperlihatkan perkembangan industri perkebunan Indonesia dari ekspor bahan mentah menuju produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pengembangan Energi Hijau dan Ketahanan Pangan

Potensi kelapa sawit juga berkaitan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi. Selain digunakan sebagai bahan baku biodiesel untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, limbah perkebunan sawit berpeluang dikembangkan menjadi sumber energi alternatif.

Limbah berupa tandan kosong, cangkang, dan serat kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai biomassa untuk menghasilkan bahan bakar padat, listrik, hingga biofuel.

Sinergi TEI dan BPDP diharapkan dapat mempercepat pengembangan industri energi hijau berbasis komoditas perkebunan. Pemanfaatan limbah tersebut juga berpotensi membuka peluang ekspor baru bagi Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan energi terbarukan di pasar global.

Di sisi lain, TEI 2026 turut mendorong penguatan ketahanan pangan melalui Zona Makanan, Minuman, dan Produk Pertanian. Zona ini menjadi ruang promosi bagi produk pangan olahan dan hasil pertanian Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Perluasan pasar ekspor produk pangan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani, mendorong diversifikasi produk, serta memperkuat rantai nilai pangan nasional.

Pengembangan pangan bergizi juga dapat dilakukan melalui pemanfaatan komoditas perkebunan. Salah satu produk yang berpotensi dikembangkan adalah minyak makan merah yang mengandung provitamin A dan vitamin E serta memiliki peluang pasar.

Penguatan sektor pangan tersebut turut membutuhkan keterlibatan UMKM dan koperasi petani perkebunan. Pelaku usaha kecil dinilai memiliki peran dalam meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas akses pasar, dan memperbesar manfaat ekonomi yang diterima petani.

Melalui program inkubasi bisnis dan pengembangan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan, UMKM didorong mengembangkan produk pangan olahan maupun berbagai produk turunan lainnya. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan peluang ekspor baru.

Pemerintah berharap kolaborasi TEI sebagai pintu masuk ke pasar global dan BPDP sebagai penguat rantai nilai perkebunan dapat mempercepat transformasi ekonomi nasional. Sinergi tersebut diarahkan untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah, memperkuat ketahanan energi dan pangan, serta memperluas posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...