Anak Indonesia Kehilangan Masa Kecil

Oleh Widya Nandini, 2/1/2019, 10.41 WIB

Tingkat putus sekolah dan pernikahan anak perempuan lebih dari 12 persen.

Anak Indonesia Kehilangan Masa Kecil rev
Unduh Infografik
Share

Banyak anak di Indonesia yang kehilangan masa kecilnya karena kasus kematian, gizi kronis, putus sekolah hingga pernikanan dini. Apalagi jika dibandingkan dengan anak-anak di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Menurut indeks akhir masa kecil dari End of Childhood Report 2018 Indonesia memiliki skor terburuk keempat di Asia Tenggara. Sementara peringkat pertama dihuni oleh Singapura. Negeri Singa ini bahkan menduduki posisi paling baik di dunia dengan skor mencapai 987 dari 1.000. Angka ini menunjukkan bahwa sangat sedikit anak yang kehilangan masa kecilnya.

Indeks tersebut diukur berdasarkan delapan indikator. Diantaranya adalah tingkat kematian anak dibawah lima tahun, tingkat stunting, tingkat putus sekolah, dan tenaga kerja di bawah umur. Selain itu, diukur berdasarkan tingkat pernikahan dan kelahiran serta kasus kekerasan pada anak.

Terkait tingkat kematian anak yang berusia di bawah lima tahun di Indonesia, saat ini mencapai 26 persen. Kondisi ini diperburuk dengan tingkat putus sekolah dan pernikahan anak perempuan di Indonesia yang lebih dari 12 persen. Terlebih lagi tingkat stunting atau balita pendek yang juga memprihatinkan yaitu sebesar 36 persen. Potensi kerugian produk domestik bruto (PDB) akibat stunting diperkirakan mencapai Rp 300 triliun per tahun.

(Baca : Anak Pendek, Tantangan Besar Jokowi di Tahun Terakhir Pemerintahan)