Hilirisasi Riset, Kunci Lahirnya Inovasi Kesehatan
Hilirisasi riset menjadi kunci dalam mendorong lahirnya inovasi kesehatan yang berdampak nyata bagi masyarakat. Hal ini menjadi sorotan dalam The International Science Partnerships Fund Indonesia-UK Research Translation Forum yang diselenggarakan oleh British Council bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), dan didukung oleh Universitas Bina Nusantara sebagai mitra penyelenggara, Rabu (4/3).
Adapun, International Science Partnerships Fund (ISPF) yang dibentuk pada 2022 merupakan inisiatif internasional di bidang sains, riset, teknologi, dan inovasi, yang didanai oleh pemerintah Inggris melalui Department for Science, Innovation and Technology (DSIT), untuk mendorong kerja sama riset dan inovasi internasional yang berkelanjutan.
Forum tersebut menegaskan pentingnya percepatan hilirisasi riset di sektor kesehatan dan pengembangan obat agar temuan ilmiah tidak hanya terhenti di ranah akademik, tetapi dapat diimplementasikan menjadi solusi konkret dalam layanan kesehatan maupun produk inovatif.
Secara sederhana, hilirisasi riset adalah proses strategis menjembatani penemuan ilmiah menjadi inovasi yang siap diterapkan dan berdampak nyata bagi masyarakat. Dalam diskursus internasional, proses ini sering disebut sebagai research translation.
Dalam sektor kesehatan dan pengembangan obat, research translation dapat dijelaskan melalui kerangka Translational Research Spectrum, dimulai dari T0 (riset dasar), dilanjutkan T1 (pembuktian konsep dan uji awal), T2 (uji klinis), T3 (implementasi dalam layanan kesehatan), hingga T4, yaitu ketika inovasi benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.
Inovasi dalam sektor kesehatan dan pengembangan obat berkembang dengan pesat, namun banyak hasil riset potensial yang terhenti di tataran akademik dan belum terwujud menjadi solusi kesehatan praktis.
Tantangan utama yang dihadapi adalah fenomena Valley of Death, yaitu kegagalan dalam menjembatani transisi dari riset dasar menuju tahap komersialisasi.
Fase kritis ini umumnya dipicu oleh beberapa faktor, antara lain sinergi sektor yang belum optimal, di mana kolaborasi antara peneliti dan mitra industri belum terbangun kuat sejak awal pengembangan.
Kemudian, keterbatasan infrastruktur, terutama dalam kapasitas dan dukungan fasilitas untuk pelaksanaan uji klinis. Selain itu, kompleksitas regulasi juga menjadi hambatan, khususnya terkait proses administratif dan tata kelola pelindungan kekayaan intelektual yang kerap memperlambat laju inovasi.
Berdasarkan data yang sejauh ini telah dikumpulkan dalam Dashboard Pemetaan Riset Berdampak Kemdiktisaintek, terlihat adanya produktivitas riset yang sangat tinggi dengan puluhan ribu penelitian telah dihasilkan.
Dari jumlah tersebut, baru ribuan penelitian sudah berhasil melangkah ke tahap hilirisasi. Capaian ini mencerminkan potensi besar yang dapat terus diperkuat ke depan agar semakin banyak hasil riset yang terhubung dengan kebutuhan industri dan masyarakat, sehingga dampak nyatanya dapat dirasakan lebih luas.
Dalam upaya mengoptimalkan potensi ini, kolaborasi internasional hadir sebagai peluang strategis, termasuk melalui sinergi yang erat antara Indonesia dan Inggris.
Kedua negara memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan kekayaan biodiversitas, jumlah penduduk yang besar, serta infrastruktur data kesehatan yang terus berkembang dan kapasitas manufaktur yang meningkat.
Sementara itu, Inggris memiliki sistem yang matang untuk mengubah penemuan ilmiah menjadi inovasi yang berdampak untuk masyarakat, keahlian tata kelola, jejaring uji klinis global.
Potensi kolaborasi ini difokuskan pada dua prioritas utama, yaitu integrasi data riset kesehatan dan pengembangan obat berbasis biodiversitas.
Dengan memadukan kekuatan tersebut, diharapkan proses hilirisasi riset dapat dipercepat dan lebih efektif, sehingga hasil riset tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi benar-benar menjadi inovasi yang meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Selain itu, teknologi seperti artificial intelligence (AI) dinilai penting untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset. AI dapat membantu mengolah data kesehatan, meningkatkan akurasi diagnosis, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Kolaborasi antara Indonesia dan Inggris juga menjadi relevan. Inggris memiliki pengalaman dalam pengelolaan data kesehatan yang aman dan berbasis privasi melalui inisiatif seperti Health Data Research UK dan OpenSAFELY. Melalui kerja sama ini, Indonesia dapat memanfaatkan kekuatan data nasional, sementara Inggris berkontribusi dalam keahlian analisis AI dan tata kelola data.
Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan data kesehatan dalam skala besar tanpa mengabaikan keamanan dan kepercayaan publik.
Pada akhirnya, hilirisasi riset menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.
