Adu Kinerja Bank Digital: Siapa Paling Sehat?

Uji Sukma Medianti
Oleh Uji Sukma Medianti - Tim Publikasi Katadata
27 Agustus 2026, 14:36

Industri perbankan digital Indonesia memasuki babak baru. Setelah beberapa tahun berada dalam fase ekspansi dan berlomba memperbesar basis nasabah, bank digital kini dituntut menunjukkan kemampuan untuk tumbuh secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Pertumbuhan bisnis tidak lagi cukup diukur dari seberapa besar penyaluran kredit atau jumlah dana yang berhasil dihimpun.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan bank dalam menjaga kualitas aset, mengelola risiko kredit, serta memperoleh sumber pendanaan yang efisien menjadi semakin penting.

Kondisi tersebut terlihat dari kinerja sejumlah bank digital pada semester I 2026. Enam pemain bank digital, SeaBank, Bank Jago, Superbank, Allo Bank, BCA Digital, dan Bank Neo Commerce memiliki karakteristik dan strategi pertumbuhan yang berbeda.

Dari sisi skala kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK), SeaBank berada di posisi teratas. Hingga semester I 2026, penyaluran kredit SeaBank mencapai Rp39,81 triliun, sementara DPK mencapai Rp41,8 triliun. Angka tersebut menunjukkan skala bisnis SeaBank yang relatif besar dibandingkan pemain digital lainnya.

Bank Jago menyusul dengan kredit sebesar Rp26,6 triliun dan DPK Rp27,6 triliun. Sementara Superbank mencatat kredit Rp13,4 triliun dan DPK Rp15,9 triliun.

Adapun, Allo Bank memiliki kredit Rp9,55 triliun dengan DPK Rp5,83 triliun, sedangkan BCA Digital mencatat kredit Rp8,99 triliun dan DPK Rp15,78 triliun. Bank Neo Commerce memiliki kredit Rp7,13 triliun dan DPK Rp12,3 triliun.

Besarnya penyaluran kredit memang dapat mencerminkan kemampuan bank dalam memperluas bisnis. Namun, ekspansi kredit juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya kebutuhan pengelolaan risiko. Karena itu, indikator kedua yang perlu diperhatikan adalah kualitas kredit.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross menjadi salah satu indikator untuk melihat kualitas portofolio kredit. Semakin rendah rasio NPL, semakin kecil proporsi kredit bermasalah terhadap total kredit yang disalurkan.

Dalam perbandingan ini, Bank Jago mencatat NPL gross terendah sebesar 0,80 persen, disusul BCA Digital sebesar 0,94 persen. Superbank mencatat rasio NPL 1,60 persen, SeaBank 1,65 persen, Allo Bank 1,73 persen, sementara Bank Neo Commerce berada di posisi tertinggi dengan 2,99 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan kredit perlu dibarengi dengan kemampuan menjaga kualitas aset. Bank yang mampu memperbesar penyaluran kredit sekaligus mempertahankan NPL pada level rendah memiliki ruang lebih besar untuk menunjukkan pertumbuhan yang sehat.

Selain kredit dan kualitas aset, struktur pendanaan juga menjadi faktor penting dalam menentukan kesehatan dan efisiensi bisnis bank. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah porsi Current Account Saving Account (CASA), yakni dana murah yang berasal dari giro dan tabungan.

Semakin tinggi porsi CASA, semakin besar proporsi dana murah yang dapat dimanfaatkan bank sebagai sumber pendanaan. Kondisi ini berpotensi membantu bank menekan biaya dana dan meningkatkan efisiensi.

Dalam aspek ini, SeaBank menjadi yang teratas dengan porsi CASA 69,6 persen. BCA Digital berada di posisi berikutnya dengan 54,4 persen, disusul Bank Jago sebesar 53 persen. Allo Bank mencatat CASA 41,2 persen, Bank Neo Commerce 32,21 persen, sementara Superbank berada di posisi terendah dengan 21,83 persen.

Jika ketiga indikator tersebut dilihat secara bersamaan, terlihat bahwa setiap bank memiliki keunggulan masing-masing. SeaBank unggul dari sisi skala bisnis dan kekuatan dana murah, tetapi ekspansi yang besar juga perlu diikuti dengan konsistensi dalam menjaga kualitas kredit. 

Bank Jago terlihat lebih seimbang, dengan NPL terendah sekaligus porsi CASA yang tinggi dan skala kredit yang cukup besar.

Sementara itu, BCA Digital menunjukkan kualitas kredit yang relatif baik dan memiliki porsi CASA tinggi, meski skala penyaluran kreditnya masih lebih kecil dibandingkan SeaBank dan Bank Jago. Adapun pemain lain seperti Superbank, Allo Bank, dan Bank Neo Commerce masih memiliki ruang untuk memperkuat kombinasi antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan efisiensi pendanaan.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa bank digital yang paling sehat bukan semata-mata bank dengan kredit terbesar. Kinerja yang solid justru ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara tiga aspek: memperbesar bisnis, mempertahankan kualitas kredit, dan membangun sumber pendanaan murah.

Memasuki fase yang lebih matang, tantangan bank digital Indonesia pun bergeser. Jika sebelumnya fokus utama adalah mengejar pertumbuhan dan memperluas pasar, kini kemampuan menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas akan menjadi pembeda utama.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini