Surplus adalah Kelebihan Sisa, Ini Jenis dan Contohnya

Surplus adalah kelebihan antara belanja dan pendapatan. Surplus disebut juga kelebihan atau sisa. Berikut penjelasan mengenai surplus, jenis surplus, dan contoh soalnya.
Dwi Latifatul Fajri
4 Agustus 2022, 12:56
Surplus adalah kelebihan atau sisa
pexels.com/Karolina Grabowska
Ilustrasi Surplus

Surplus adalah perbedaan selisih lebih antara pendapatan dan belanja untuk satu periode pelaporan. Contoh sederhana dari surplus adalah, ketika Anda memiliki kelebihan sisa uang setelah membeli barang. Kelebihan atau sisa tersebut disebut surplus.

Ada dua jenis surplus, yaitu surplus konsumen dan produsen. Dua jenis surplus itu dipakai untuk menganalisa cara kerja pasar. Misalnya menganalisis penawaran, permintaan, keseimbangan, hingga perdagangan internasional.

Pengertian Surplus

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia, surplus adalah jumlah yang melebihi hasil biasanya. Surplus disebut juga kelebihan atau sisa. Dalam buku Akuntansi Keuangan Daerah, surplus adalah selisih lebih antara belanja dan pendapatan.

Surplus kebalikan dari defisit yaitu selisih kurang antara pendapatan dan belanja. Selisih lebih dan kurang dari pendapatan dan belanja ini dicatat dalam pos surplus atau defisit.

Advertisement

Jika terjadi surplus, diutamakan untuk pembayaran pokok utang, penyertaan modal, pemberian pinjaman, dan pendanaan belanja. Dalam ilmu ekonomi, dikenal surplus ekonomi yaitu total surplus konsumen dan produsen dalam perekonomian.

Kedua jenis surplus ini untuk membandingkan besar pengurangan kesejahteraan pembeli, penjual, dan kenaikan jumlah pendapatan pemerintah.

Jenis Surplus

1. Surplus Konsumen

Grafik Surplus Konsumen
Grafik Surplus Konsumen (Buku PENGANTAR ILMU EKONOMI)

 

Surplus konsumen adalah perbedaan jumlah maksimum yang dibayar konsumen untuk suatu produk berdasarkan harga pasar. Surplus konsumen ini untuk mengukur keuntungan konsumen atas partisipasi dalam suatu pasar.

Mengutip dari buku Pengantar Ilmu Ekonomi, contoh sederhana dari surplus konsumen yaitu seseorang membeli mie instan seharga Rp 25 ribu. Ternyata, harga mie instan tersebut Rp 18 ribu. Jadi, konsumen mendapat surplus Rp 2 ribu.

Surplus konsumen terjadi ketika konsumen membayar dengan harga lebih tinggi, dari harga pasar. Grafik dari surplus konsumen menjelaskan penawaran dan permintaan barang. Konsumen akan mengkonsumsi sejumlah barang, bahkan mereka akan membayar harga lebih tinggi dari harga pasar.

Rumus Surplus Konsumen

Surplus Konsumen = (1/2) x Qe x ∆P

Keterangan:

Qe = kuantitas permintaan pada titik ekuilibrium, dimana permintaan dan penawaran sama
∆P = P max - Pe
Pmax = harga yang bersedia dibayarkan konsumen
Pe = harga pada ekuilibrium, dimana permintaan dan penawaran sama

Contoh Soal

Konsumen bersedia membayar Rp 10 untuk sebuah permen. Harga tersebut merupakan harga tertinggi diantara harga permen yang sama. Sebagian konsumen bersedia membayar Rp 5. Konsumen membeli permen sebanyak 20 buah. Jadi, surplus yang dinikmati konsumen yaitu:

Surplus Konsumen = (1/2) x Qe x ∆P
Rp 50 = (1/2) x 20 x (Rp 10 - Rp 5)

2. Surplus Produsen

Surplus produsen adalah selisih harga terendah, dimana produsen siap menjual barang sesuai harga. Surplus produsen menjelaskan harga jual yang diterima produsen lebih besar dari harga mereka yang bersedia untuk menerimanya.

Contohnya perusahaan A bersedia menjual motor baru A seharga Rp 12 juta. Ternyata motor tersebut laku terjual seharga Rp 14 juta. Jadi, perusahaan A sebagai produsen mendapatkan surplus sebesar Rp 2 juta.

Surplus produsen dialami oleh perusahaan, pemerintah, dan individu. Mereka mendapatkan surplus anggaran. Artinya membelanjakan lebih sedikit uang daripada yang mereka hasilkan selama waktu tertentu.

Rumus Surplus Produsen

Rumus Surplus Produsen
Rumus Surplus Produsen (Buku PENGANTAR ILMU EKONOMI)

 

Neraca Surplus Adalah

Neraca surplus adalah neraca pembayaran, di mana jumlah pemasukan lebih besar dari jumlah pengeluaran suatu negara. Dalam buku Ekonomi Makro Islam, neraca pembayaran surplus menunjukkan transaksi debet lebih kecil dibanding transaksi kredit.

Neraca surplus bisa menguntungkan karena negara memiliki lebih banyak cadangan devisa. Tetapi, surplus neraca pembayaran dapat menaikkan nilai tukar suatu negara. Hal ini berdampak pada jasa ekspor dan nilai tukar barang.

Naiknya nilai tukar atau kurs valuta asing akan menaikkan harga barang dan jasa ekspor. Sebaliknya, jika barang dan jasa impor lebih murah, maka penduduk lebih memilih membeli barang impor. Sehingga, surplus neraca pembayaran hanya dipakai untuk membiayai impor.

Editor: Intan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait