Bank Mayora Dilirik BNI: Bertahan dari Krisis hingga Laba Naik Drastis

Mayoritas saham Bank Mayora dimiliki oleh PT Mayora Inti Utama, yakni sebesar 80%. Sisanya, 20% dimiliki entitas usaha Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC).
Image title
19 Oktober 2021, 11:58
Bank Mayora, BNI, Perbankan
BNI
Gedung Bank Negara Indonesia (BNI)

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dikabarkan sudah mencapai kesepakatan akuisisi dengan PT Bank Mayora, meski masih menunggu perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lalu, bagaimana sepak terjang Bank Mayora di Indonesia?

Mayoritas saham Bank Mayora dimiliki oleh PT Mayora Inti Utama, yakni sebesar 80%. Sisanya, 20% dimiliki investor asal Amerika Serikat yang juga entitas usaha Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC). Bank Mayora diketahui memiliki hubungan afiliasi dengan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Berdasarkan laman resmi perusahaan, Bank Mayora mendapatkan izin usaha sebagai Bank Umum sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan pada 14 Juli 1993 dan menjadi Bank Umum Devisa sesuai Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia pada 7 Mei 2013.

Dalam perjalanannya, Bank Mayora mengalami pasang-surut, di mana ujian terberat yang dihadapi adalah krisis moneter pada 1997-1998. Sejumlah Bank berguguran di masa itu, sementara Bank Mayora menjadi salah satu bank yang sehat dan tidak perlu rekapitalisasi.

Fokus bisnis Bank Mayora yaitu, retail dan konsumer melalui produk pinjaman (lending) dan simpanan (funding). Sedangkan produk pinjamannya berupa, kredit kendaraan bermotor, kredit multiguna, kredit pemilikan rumah, pinjaman rekening koran), dan pinjaman berjangka.

Terkait simpanan, Bank Mayora memiliki produk giro, tabungan, dan deposito berjangka. Saat ini bank Mayora memiliki 58 unit ATM dengan jaringan kantor sebanyak 37 di Jabotabek, Bandung, Surabaya, dan Lampung.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Bank Mayora mengantongi laba bersih tahun berjalan Rp 18,53 miliar sepanjang semester I-2021. Laba bersih tersebut naik signifikan 651,5% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai Rp 2,46 miliar.

Padahal, pendapatan bunga Bank Mayora semester I-2021 senilai Rp 249,82 miliar atau turun 7,48% dari Rp 270,01 miliar. Bank Mayora catatkan beban bunga Rp 119,68 miliar atau turun 9,91% dari Rp 132,84 miliar.

Pendapatan bunga bersih hanya Rp 130,13 miliar atau turun 5,12% dari Rp 137,16 miliar. Rasio net interest margin (NIM) per Juni 2021 di level 3,27%, turun dari 4,2% pada Juni 2020.

Laba bersih Bank Mayora mampu meroket signifikan karena mampu menekan beban operasional hingga 17,58%. Semester I-2021 beban operasional Rp 110,88 miliar, sementara pada periode sama tahun lalu mencapai Rp 134,52 miliar.

Alhasil, laba operasional Bank Mayora dalam enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp 19,25 miliar atau naik 630,66% dari periode sama tahun lalu Rp 2,63 miliar.

Dari sisi fungsi intermediasi, Bank Mayora mampu menyalurkan kredit Rp 3,74 triliun hingga Juni 2021. Nilai penyaluran kredit tersebut turun 9,21% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 4,12 triliun.

Kualitas kredit yang diberikan pun mengalami perbaikan, yang terlihat dari rasio kredit seret atau non-performing loan (NPL). Per Juni 2021, rasio NPL di level 3,09%, turun signifikan dari 5,28% per Juni 2020.

Bank Mayora mencatatkan total dana pihak ketiga Rp 6,86 triliun per Juni 2021 atau tumbuh 17,29% dari Rp 5,84 triliun per Juni 2020. Pertumbuhan tersebut disokong kenaikan total deposito berjangka 29,69% menjadi Rp 4,78 triliun dari Rp 3,68 triliun.

Di sisi lain, simpanan murah (CASA) mengalami penurunan. Seperti giro per Juni 2021 Rp 1,28 triliun atau turun 3,75% dari Rp 1,33 triliun per Juni 2020. Sementara simpanan dalam bentuk tabungan per Juni 2021 Rp 792,1 miliar atau turun 4,08% dari Rp 825,76 miliar per Juni 2020.

Dengan penyaluran kredit yang menurun di tengah DPK yang naik, maka rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) cenderung menyusut. Per Juni 2021 ada di level 54,14%, sementara per Juni 2020 di level 69,47%. Rasio ini berada di bawah batas minimal LDR yang ditetapkan Bank Indonesia di level 78%.

Bank Mayora perlu mencari pendanaan untuk memenuhi ketentuan minimal modal inti Otoritas Jasa Keuangan. Pasalnya, per Juni 2021, modal inti tier 1 Bank Mayora hanya Rp 1,2 triliun. Masih di bawah ketentuan OJK Rp 2 triliun untuk akhir tahun ini dan Rp 3 triliun untuk tahun depan.

Bank Mayora Dilirik BNI

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar membenarkan kabar telah menyelesaikan kesepakatan awal akuisisi dengan salah satu bank kecil. Nantinya, menurut Royke, bank yang telah diambil alih ini akan ditransformasikan sebagai bank digital.

"Saya tidak bisa menyebut nama, tetapi proses cukup jauh dan sudah ada kesepakatan awal," ujar Royke kepada Katadata.co.id, Selasa (19/10).

Dua sumber Katadata.co.id yang mengetahui kabar ini mengatakan, BNI telah meneken kesepakatan awal pembelian saham dengan Bank Mayora. Namun, saat ini bank BUMN tersebut masih menunggu izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Langkah BNI mengakuisisi bank kecil untuk ditransformasikan sebagai bank digital sebelumnya telah dilakukan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA). BCA mengakuisisi Bank Royal pada 2019 dan merampungkan transformasinya menjadi BCA Digital pada Juli tahun ini.

Hal serupa juga dilakukan BRI yang mentransformasikan anak usahanya PT BRI Agro sebagai bank digital.

Di sisi lain, bank-bank kecil saat ini tengah membutuhkan permodalan untuk memenuhi ketentuan OJK terkait minimal modal inti Rp 3 triliun pada akhir 2022 yang harus dipenuhi bertahap. Pada akhir tahun ini, bank umum wajib memiliki modal inti Rp 2 triliun.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait