Laba Bersih BNI Naik 68% Jadi Rp 18,31 T, Cetak Rekor Tertinggi

Kenaikan laba BNI juga ditopang oleh kenaikan jumlah kredit yang tumbuh 10,9% secara tahunan.
 Zahwa Madjid
24 Januari 2023, 18:57
Naik 68% Jadi Rp 18,3 T, Bank BNI Cetak Rekor Laba Tertinggi di 2022
Dokumentasi perseroan

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp 18,31 triliun sepanjang 2022. Angka ini naik hingga 68% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, realisasi laba bersih tersebut lebih tinggi dari yang diestimasikan. Bahkan, realisasi ini jauh di atas pencapaian sebelum pandemi dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah BNI.

"Total kredit yang disalurkan di tahun 2022 telah mencapai Rp 646,19 triliun, tumbuh di atas target awal perusahaan yaitu mencapai 10,9% secara tahunan, diikuti dengan net interest margin (NIM) yang terjaga di posisi 4,8%. Pertumbuhan kredit yang sehat ditopang oleh ekspansi bisnis dari debitur top-tier dan bisnis turunannya yang berasal dari value chain debitur,” ujar Royke dalam Paparan Kinerja Keempat 2022, Selasa (24/1).

Sebagai informasi, pada tahun 2019 atau sebelum masa pandemi Covid-19, laba bersih BNI mencapai Rp 15,3 triliun.

"Kredit kami tumbuh 10,9% secara tahunan dengan sumber pertumbuhan dari nasabah yang tentunya berkualitas baik," lanjut Royke.

Penyaluran kredit yang dilakukan secara selektif ini, jelas Royke, berdampak pada perbaikan kualitas aset. Di mana rasio loan at risk (LAR) BNI turun dari 23% menjadi 16% dan tingkat biaya kredit turun dari 3,3% menjadi 1,9% di tahun 2022.

Dari sisi likuiditas, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan dana murah atau CASA yang kuat sebesar 10,1% secara tahunan. Dana tersebut dihasilkan dari strategi perseroan untuk membangun transaction-based CASA, melalui penyediaan solusi keuangan dan transaksi yang komprehensif dan terpercaya.

Pertumbuhan fee based income tercatat sebesar 8,7% secara tahunan menjadi Rp 14,8 triliun. Hal ini dicapai dengan melakukan pergeseran pola pertumbuhan fee based income untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan biaya transfer melalui program BI Fast. Hal itu sejalan dengan tren menurunnya transaksi transfer antar bank. 

Bank dengan kode emiten BBNI itu juga berhasil menumbuhkan pendapatan non bunga yang memberi nilai tambah bagi nasabah. Contohnya di retail banking, fitur bill payment atau pembayaran tagihan saat ini berkontribusi lebih dari Rp 300 miliar ke pendapatan atau tumbuh 18% secara tahunan.

Selain itu, di segmen business banking, BNI semakin aktif dalam memfasilitasi sindikasi dan mampu berkontribusi hampir Rp 1 triliun ke pendapatan non bunga atau naik 100% dibandingkan tahun lalu.

Hasil kinerja yang positif ini berdampak pada pre provisioning operating profit (PPOP) yang dibukukan sebesar Rp 34,4 triliun atau tumbuh 10,8% secara tahunan. 

Selain itu, upaya perbaikan kualitas kredit melalui kebijakan perkreditan yang efektif menekan rasio NPL sebesar 90 basis poin secara tahunan menjadi 2,8%.

Royke menambahkan, jumlah kredit yang direstrukturisasi dengan stimulus Covid juga terus menurun nilainya menjadi Rp 49,6 triliun atau setara dengan 7,8% dari total kredit. Penurunan di kuartal lalu terutama berasal dari sektor-sektor yang paling terdampak pandemi seperti restoran, hotel, tekstil dan konstruksi. Hal ini mengindikasikan bahwa bisnis debitur di sektor tersebut mulai kembali pulih. 

 

 

Reporter: Zahwa Madjid
Editor: Lona Olavia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait