Wawancara

Semua Pemerintahan di Tahun Terakhir Lebih Populis

"Memang pada akhir suatu pemerintahan, kebijakannya lebih condong kepada keberpihakan, pemerataan."

Muchamad Nafi

Jusuf Kalla
Arief Kamaludin|Katadata

Publik kerap menyoroti tahun-tahun terakhir masa pemerintahan satu kabinet, termasuk di era kepemimpinan Joko Widodo saat ini. Misalnya, ada yang membandingkan target pertumbuhan ekonomi di awal menjabat dan pencapaian di 2018. Ada juga yang menyoroti politik anggaran pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Suara pro-kontra meruak. Kebijakan pemerintah yang memperluas  penyaluran dana sosial, termasuk memperbesar subsidi, dianggap sebagai upaya pencitraan pro-rakyat. Sebaliknya, pemerintah berargumen langkah ini diperlukan untuk menopang rakyat miskin.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Memang, hampir semua pemerintahan di mana saja, kalau tahun-tahun terakhir itu lebih populis,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam wawancara khusus dengan tim Katadata di kantornya di Jakarta, tiga pekan lalu.

Di luar soal ekonomi, Kalla yang selama ini dikenal sebagai “king maker” menyampaikan sejumlah pendapatnya tentang ajang Pemilu 2019, termasuk peluang Presiden Joko Widodo. 

 Di sisa satu setengah tahun pemerintahan, apa yang harus dikerjakan dan difokuskan?

Pemerintahan itu berkelanjutan, bersambung. Tidak berarti di tahun terakhir kami menurun atau melambat. Suatu pekerjaan butuh waktu. Ada jangka menengah, jangka pendek, dan jangka panjang. Pekerjaan seperti infrastruktur itu jangka panjang. Tidak bisa kami berhenti.

Pak Jokowi kemungkinan besar melanjutkan (pemerintahan). Jadi, tetap harus bekerja apa adanya. Pemerintah itu berdasarkan APBN dan rencana yang ada.

Memang, hampir semua pemerintahan di mana saja, pada tahun-tahun terakhir lebih populis. Banyak memberikan program kepada masyarakat, banyak subsidi. Di mana pun itu. Tapi yang lainnya, jalan saja seperti biasa.

Di tengah target yang telah dicanangkan, kendala harus populis ini bisa kontradiktif?

Betul. Secara umum, pada awal pemerintahan kami mencanangkan pertumbuhan ekonomi 7 persen. Tapi karena keadaan dunia dan internal, kita tidak bisa mencapainya. Hanya berkisar 5 persen. Karena memang keadaan dunia begitu. Tapi beberapa negara seperti India, Cina masih bisa di atas 6-7 persen.

Yang harus kita lakukan adalah percepatan. Jangan lupa, tahun ini tahun keempat. Memulai sesuatu yang dimulai pada awal pemerintahan, mungkin saja bisa diresmikan pada tahun ini atau tahun depan. Yang diresmikan pada 2015, itu pun dimulainya pada pemerintahan yang lama.

Sorotan terhadap kebijakan populis antara lain menyangkut soal keberlanjutan pengurangan subsidi. Sekarang harga minyak dunia naik, tapi harga BBM ditahan...

Memang pada akhir suatu pemerintahan, kebijakannya lebih condong kepada keberpihakan, pemerataan, dan sebagainya. Itu tercermin pada kebijakan subsidi, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan lainnya. Otomatis belanja barang dan modal akan berkurang.

Karena itu banyak kritik soal konsistensi kebijakan. Bagaimana menjelaskannya?

Harga listrik, BBM, bukan diturunkan tapi distabilkan. Efeknya subsidi cenderung naik, tapi masih lebih kecil dibanding dengan pada 2010, 2013, dan 2014. Subsidi saat itu sampai Rp 400 triliun. Sekarang total subsidi termasuk BBM, gas, lalu beras sekitar Rp 200 triliun. Jadi, walaupun naik, tidak setinggi akhir pemerintahan yang lama.

Ada juga kritik pembangunan infrastruktur yang dikaitkan dengan utang yang membesar. Bagaimana melihat hal itu?

Utang itu selalu dilihat dari dua sisi, yakni proporsinya terhadap PDB serta kesanggupan kita membayar bunga dan cicilannya yang tiap tahun bisa Rp 300 triliun. Utang baru sebenarnya tidak jauh beda dengan apa yang kami harus bayar. Kalau tidak berutang, belanja modal tidak bisa jalan. Belanja modal ini tetap harus kami jalankan untuk memperbaiki infrastruktur. Selain itu, anggaran rutin, pendidikan, kesehatan harus terus ada. Untuk mengisi gap ini, maka harus berutang lagi, tapi sambil membayar utang juga.

Sejauh ini utang masih terkelola dengan baik?

Manageable dalam arti dua hal, bahwa nilai utang di bawah 60 persen dari GDP (Produk Domestik Bruto). Tiap tahun (defisit) APBN pun masih di bawah 3 persen. Ada batasannya. Kedua, kita mampu membayar. Begitu tidak mampu membayar, maka akan terjadi masalah moneter dan fiskal, bunga tinggi, dan sebagainya.

Bagaimana soal kabinet yang sering tidak satu suara. Misalnya soal impor beras dan isu swasembada. Mengapa bisa terjadi?

Ini memang soal data. Data Pertanian, data BPS, kadang-kadang berbeda dari kenyataan di lapangan. Kementerian Pertanian mengatakan produksi hampir 80 juta ton padi. Padahal, kenyataannya mungkin sekitar 50-an juta ton. Jadi memang ada perbedaan antara data dan lapangan, sehingga sering menimbulkan perdebatan.

Tapi satu hal, kita dalam keadaan apa pun tidak boleh kekurangan pangan. Selain itu, harga tidak boleh terlalu terlalu tinggi. Harga beras yang terlalu tinggi akan menimbulkan inflasi, yang memukul masyarakat bawah. Kalau harga beras naik, yang menengah atas itu tidak masalah karena konsumsi beras paling tinggi 20 persen. Tapi masyarakat di bawah itu bisa sampai 60 persen.

Jadi mau tidak mau impor harus dilakukan?

Iya, di lapangan (kekurangan) supply tercermin dari harga yang naik, makanya impor.

Peraturan Presiden soal pengetatan pengambilalihan lahan sawah untuk kepentingan lain diterbitkan. Apakah terkait degradasi lahan di Jawa?

Ada aturan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) tentang tata guna lahan yang harus ditaati. Harus persetujuan DPR, pemerintah, DPRD, dan sebagainya. Itu untuk menjaga keberlanjutan pertanian. Namun perlu disadari bahwa penduduk semakin bertambah, butuh rumah, butuh pekerjaan.

Salah satu pekerjaan besar itu di bidang industri. Satu industri bisa memberi pekerjaan 100 hingga 200 orang. Apabila di sawah, paling tinggi tiga orang. Jadi tidak apa-apa kita konversi sawah ke industri, namun yang kita butuhkan peningkatan produktivitas sawah yang ada.

Karena setiap tahun sawah berkurang 1,5 persen dan penduduk bertambah 1,5 persen. Maka, setidaknya produktivitas harus naik tiga persen per tahun. Lahan berkurang, tapi kebutuhan pangan lebih banyak.

Masih soal pangan, ada keluhan pengusaha terhadap pengaturan tata niaga, misalnya soal harga eceran tertinggi (HET). Apakah pengaturan ini tepat?

Ini harga acuan. Banyak negara memberlakukannya, seperti Malaysia. Katakan beras medium Rp 9.000-9.500 per kilogram. Kalau melebihi angka tertentu, kita harus impor. Ada dua hal kenapa harus impor, yaitu kalau harga naik melebihi 10 persen di atas harga acuan atau stok Bulog di bawah satu juta ton.

Tanpa acuan harga itu, bagaimana mengintervensi pasar. Tidak ada dasarnya bagi pemerintah untuk operasi pasar. Namun, dengan acuan itu tidak berarti (langsung dikatakan) ada pelanggaran dan Anda masuk penjara. Itu cara pemerintah mengambil kebijakan dan mempersiapkan stok dan harga.

Tapi, keberadaan HET yang diikuti upaya penegakan hukum malah disebut-sebut menimbulkan kelangkaan ?

Iya betul.

Apa berarti kebijakan itu tidak tepat ?

Tidak. Itu hanya berlaku untuk kebutuhan pangan pokok. Beras, gula, minyak goreng. Hanya empat atau lima komoditas kebutuhan pokok masyarakat yang harus kita tahu batasannya. Law enforcement itu dilakukan agar jangan ada pengusaha yang seperti kemarin, sebenarnya beras hanya dicampur, lalu menjadi premium harganya Rp 20 ribu per kilo gram. Itu menipu masyarakat. Yang paling pokok, soal ketersediaan dan harga. Kalau tidak ada batasannya, bagaimana mengambil tindakan.

Beralih ke politik, Anda menyebut kemungkinan Jokowi akan melanjutkan pemerintahan. Anda melihat kans Jokowi besar?

Kalau kita baca dari survei-survei, peluangnya sangat besar. Saya pikir sulit untuk mencari siapa yang bisa melawan Jokowi. Berarti, kesempatan untuk maju lagi sangat besar. Di atas 50 persen setiap survei itu. Sehingga, pergulatannya di wapres (wakil presiden), bukan di presiden. Baru terakhir-terakhir ini saja Pak Prabowo siap mendeklarasikan dirinya.

Jadi, pertarungan akan ramai di posisi Wapres?

Kelihatannya lebih banyak siapa mau jadi wapres ketimbang siapa mau menantang presiden.

Bicara Wapres, Anda akan kembali mencalonkan diri atau tidak ?

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, umur saya pada 2019 sudah 77 tahun. Karena itu, mungkin saya perlu beristirahat. Kedua, juga tidak mudah (bagi saya) untuk maju lagi, karena masalah konstitusi (membatasi jabatan Presiden dan Wapres sebanyak dua kali). Kalau jadi Capres tahu diri lah kita, tidak mudah. Jadi, saya mengambil sikap untuk tidak ikut. Walaupun banyak teman yang mendorong, tapi terhalang dua masalah tadi.

Apa kriteria Cawapres Jokowi menurut Anda? Perlu kemampuan ekonomi?

Calon utama seseorang untuk jadi Wapres, yang pertama, bisa menambah elektabilitas Presiden. Karena itu, harus berbeda konstituennya. Boleh Jawa-Luar Jawa, itu sering dalam sejarah kita. Boleh berbeda kemampuannya. Tapi yang penting bisa menambah konstituen. Kedua, dia mampu untuk membantu Presiden, malah harus setara dengan Presiden. Dari enam Presiden, dua di antaranya menjadi Presiden juga karena posisinya sebagai Wakil Presiden, yaitu Habibie dan Megawati.

Dalam proses seleksi Wapres Jokowi, Anda juga dilibatkan? Siapa saja yang sudah masuk daftar?

Belum detail. Nama-nama yang sering kita baca itu banyak. Tapi, tentu punya faktor politik dalam memilihnya. Ada hubungannya dengan elektabilitas, juga ada hubungannya dengan berasal dari mana, apakah dari partai atau dari mana. Saya dua kali jadi Wapres semuanya tidak dari partai. Profesional saya. Kemampuan saja. Waktu 2004 yang mewakili Golkar Pak Wiranto. Lalu 2014 Golkar mendukung Prabowo. Justru saya dua-duanya tidak didukung partai.

Untuk kali ini apa Golkar akan punya peran penting? Apalagi Ketua Umum Golkar Airlangga disebut sebagai salah satu calon Wapres potensial?

Yang pasti semua punya kesempatan. Kan sangat tergantung kepada Presidennya, Pak Jokowi, dengan partai, terutama partai yang besar seperti PDIP.

Apakah sudah ada pembicaraan intens dengan Anda mengenai Airlangga atau Muhaimin Iskandar?

Belum, kan masih ada empat bulan.

Bukannya sudah dekat?

Memang dekat, tapi ini sangat tergantung pada pilihan Pak Jokowi.

Anda yang mengusulkan Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI. Sekarang, Anies juga digadang-gadang sebagai salah satu sosok Cawapres. Menurut Anda?

Banyak pihak yang punya kemampuan. Anies tentu punya kemampuan, punya kesempatan. Tapi tanggung jawabnya di DKI Jakarta masih besar. Dia juga masih muda. Tergantung Anies sendiri apakah mau ambil kesempatan sekarang? Tapi tentu lewat partai lain. Saya tidak yakin bisa dengan Pak Jokowi.

Pendapat Anda sendiri, apakah Anies sebaiknya di Jakarta atau maju dalam Pemilu 2019?

Kalau saya bilang, Jakarta juga sangat penting dan itu amanah. Walaupun memang ada peluang, karena Gubernur kalau mau jadi calon presiden atau wapres tidak perlu mundur, hanya cuti saja. Berbeda dengan anggota DPR, kalau ingin jadi Gubernur atau Bupati, harus mundur.

Apa tantangan pemerintahan baru nanti?

Tetap saja tantangan kita paling banyak dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan keadilan serta pemerataannya. Dari sisi politik, boleh dibilang Indonesia termasuk negara yang stabil apabila dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, atau negara lain sekitar kita.

Kalau tidak jadi Wapres, Anda sudah memiliki rencana apa?

Sebelum saya jadi Wapres kedua kali, saya banyak mengurus masalah sosial, pendidikan agama. Lalu PMI (Palang Merah Indonesia), Dewan Masjid Indonesia, dan pendidikan. Insya Allah saya akan melanjutkan upaya-upaya ini karena juga sangat penting untuk masyarakat.

Tidak terjun lagi mengurusi bisnis?

Bisnis sudah saya tinggalkan. Tinggal menerima hasilnya dari anak atau adik saya.