5 Jenis Burung Hantu Asli Indonesia yang Nyaris Punah di Habitatnya

Berikut 5 jenis burung hantu yang nyaris punah akibat ketidakseimbangan alam, mulai dari penebangan liar hingga efek rumah kaca.
Image title
16 September 2021, 17:26
5 jenis burung hantu yang nyaris punah
https://ebird.org/
Ilustrasi Celepuk Sulawesi yang termasuk dari 5 burung hantu yang nyaris punah

Sebagai wilayah tropis, Burung Hantu banyak terbang di sejumlah penjuru Indonesia. Hewan nokturnal tersebut merupakan spesies dari ordo Strigiformes. Dari segi fisik, Burung Hantu memiliki ciri wajah berbentuk hati, ekor pendek, dan mata kecil.

Dalam mitologi Indonesia spesies ini sering diartikan sebagai pertanda maut. Padahal, di negara-negara barat, Burung Hantu merupakan simbol keagungan dan kebijaksanaan.

Terlepas dari hal itu, jumlah burung hantu di Indonesia kini mengalami penyusutan. Mengutip okezone.com seorang antroplog dari The Owl World Indonesia, Dyah Wara, menjelaskan bahwa burung hantu yang diperdagangkan umumnya diambil dari habitatnya langsung. Sehingga menyebabkan keberlangsungan hidup dan populasi spesies tersebut terancam.

Parahnya lagi, kebanyakan pemelihara burung tidak memperhatikan kesejahteraan hewan. seperti menaruh burung hantu pada kendang kecil atau membiarkan kandang kotor sedangkan burung hantu merupakan binatang yang sensitif.

Padahal Kementerian Lingkungan Hidup telah memberikan aturan dari 57 jenis burung hantu yang terbang di Indonesia 16 di antaranya dilindungi. Adapun dasar hukumnya adalah Peraturan Menteri Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Spesies Burung Hantu yang Dilindungi

Adapun spesies Burung Hantu yang dilindungi antara lain:

  • Pungguk togian (Ninox burhani)
  • Pungguk merah-tua (Ninox ios)
  • Celepuk flores (Otus alfredi)
  • Celepuk jawa (Otus angelinae)
  • Celepuk biak (Otus beccarii)
  • Celepuk raja (Otus brookii)
  • Celepuk sangihe (Otus collari)
  • Celepuk enggano (Otus enganensis)
  • Celepuk rinjani (Otus jolandae)
  • Celepuk sulawesi (Otus manadensis)
  • Celepuk banggai (Otus mendeni)
  • Celepuk mentawai (Otus mentawi)
  • Celepuk siau (Otus siaoensis)
  • Celepuk simalur (Otus umbra)
  • Serak minahasa (Tyto inexspectata)
  • Serak taliabu (Tyto nigrobrunnea)

 

Dirangkum dari Garda Animalia, berikut 5 jenis Burung Hantu dengan jenis celepuk yang dilindungi oleh pemerintah:

1. Celepuk Sulawesi (Otus manadensis)

Hewan ini memiliki ciri fisik berwarna coklat dan mata yang berwarna kuning. Bila bertengger di atas pohon akan menghadap ke depan dan telinganya akan menunjukkan jumbai yang berbulu. Hidupnya lebih banyak menghuni hutan lapisan bawah dan tepian hutan dataran rendah hingga lereng pegunungan.

Selain di wilayah hutan dan pegunungan, Celepuk Sulawesi juga hidup di persawahan. Akan tetapi mereka lebih banyak berada di ketinggian 1.200-2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Seperti namanya, spesies ini banyak ditemukan di Sulawesi, khususnya di Sulawesi Utara. Masyarakat Minahasa menyebut hewan ini Burung Manguni. Burung ini memiliki kesan tersendiri bagi kebudayaan mereka, karena dianggap dapat memberi tanda apabila sesuatu akan terjadi.

Hewan ini juga memiliki peran khusus bagi masyarakat. Sebagai predator alam, celepuk sulawesi merupakan pemburu tikus paling andal, baik di perkebunan kelapa sawit hingga di area persawahan.

Dari data Kompas.com, Celepuk Sulawesi sudah jangan jarang ditemui selama beberapa dekade terakhir. Apabila ingin melihatnya, bisa dilihat dari Cagar Alam Tangkoko dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Kerusakan lahan dan penebangan liar menjadi penyebab kepunahan dari hewan ini.

2. Celepuk Banggai (Otus mendeni)

Secara fisik hewan ini mirip dengan Celepuk Sulawesi. Pembedanya adalah bentuk telinga yang berukuran lebih kecil, hanya berkisar 18 sentimeter (cm), dengan mahkota lebih gelap dari punggung.

Celepuk Banggai betina memiliki ukuran sayap lebih panjang dari yang jantan. Burung ini hanya dapat ditemui di Kepulauan Banggai. Jumlahnya pun lebih menunjukkan pada tren penurunan dan mendekati angka kepunahan.

3. Celepuk Mentawai (Otus mentawi)

Mempunyai ukuran badan kecil dengan panjang dewasanya hanya sekitar 20 cm menjadi ciri khas dari Celepuk Mentawai. Serupa dengan burung hantu jenis lainnya, bulunya dipenuhi warna coklat gelap dan memiliki bintik. Matanya besar dengan warna kuning kecoklatan. Memiliki bentuk paruh pemangsa berwarna coklat dan makanan utamanya adalah serangga.

Hewan ini hanya dijumpai di Kepulauan Mentawai. Habitatnya meliputi hutan hujan dataran rendah dan hutan sekunder. Namun, mereka juga sering terlihat berkeliaran atau bertengger di pohon-pohon sekitar pemukiman warga. Nasibnya malang, jumlah populasinya terus berkurang.

4. Celepuk Siau (Otus siaoensis)

Burung ini mendiami Pulau Siau di Kepulauan Sangihe sebagai burung endemik. Hidup nun jauh di utara Indonesia, burung ini memiliki ukuran kecil sekitar 17 cm. Data keberadaannya juga belum banyak ditemui.

Kini jumlahnya juga menurun drastis, seiring dengan perubahan hutan menjadi pemukiman. Bahkan, Organisasi Internasional Konservasi Alam (IUCN) mencatat di tahun 2013, hewan ini hanya tersisa 50 ekor saja di habitat aslinya.

5. Celepuk Simalur (Otus umbra)

Celepuk simalur berukuran kecil dengan panjang badan dewasa hanya sekitar 19 cm, dengan bulu berwarna coklat kemerahan gelap dan berbintik-bintik.Memiliki ciri khas dengan mata berwarna kuning dan berkas telinga mencolok.

Secara habitat, mereka hidup di tepian hutan, kebun cengkeh, serta hutan terbuka di Pulau Simalur, bagian barat laut lepas pantai Sumatera. Menurut IUCN Red List, celepuk simalur berada pada status nyaris punah.

Editor: Safrezi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait