Museum Ghibli di Jepang Terancam Bangkrut Sampai Buka Donasi
ZIGI – Museum Ghibli yang berlokasi di Mitaka, Tokyo, Jepang, mengalami kesulitan dalam membayar biaya operasional karena pemasukkannya menurun setelah ditutup sementara karena pandemi Covid-19. Terkait hal ini, pemerintah sudah memberikan bantuan dana.
Tapi sumbangan itu masih kurang. Kini, museum Studio Ghibli ini membuka donasi untuk penggemarnya dalam membantu membayar biaya perbaikan. Lantas seperti apa donasi untuk membantu biaya operasional Museum Ghibli ini? Keep scrolling!
Baca juga: 10 Museum Unik di Jepang, Wajib ke Studio Ghibli
Pemerintah Ajak Beri Dukungan ke Museum Ghibli
Dilansir Zigi.id dari Dazed Digital, Senin, 19 Juli 2021, pemerintah Kota Mitaka, Jepang mengumumkan rencana untuk membantu menyelamatkan Museum Ghibli yang sedang berjuang secara finansial sejak pandemi memaksa mereka untuk tutup tahun 2020 lalu.
Mereka sudah memberikan bantuan dana. Tidak hanya itu, pada Mei 2021 lalu, sebuah laporan dari dewan kota Mitaka mengatakan bahwa mereka ingin mengumpulkan donasi sebanyak 10 juta yen atau sekitar Rp1,3 miliar untuk membantu museum dalam rekonstruksi dan perbaikan.
Laporan itu juga mengatakan meskipun museum terbuka untuk umum, pengurangan dan pembatasan pengunjung yang masuk karena adanya virus corona membuat museum juga tidak akan dapat mempertahankan pelestariannya.
Pernyataan Museum Ghibli
Museum Ghibli sebelumnya dianggap sebagai lisensi untuk mencetak uang. Meskipun tiketnya sangat murah dengan harga hanya 1.000 yen (Rp131 ribu) untuk orang dewasa dan pengunjung dibatasi untuk mencegah kepadatan, kafe di Museum Ghibli ini begitu ramai.
Toko suvenir museum juga mampu membuat dompet para penggemar anime kosong tetapi hati mereka penuh kegembiraan. Tapi karena melalui beberapa kali penutupan sementara selama pandemi Covid-19, mereka sulit untuk menerima pengunjung dan membuat mereka kesulitan untuk membayar biaya operasional.
"Saat ini, operasi kami sangat merah. Pada bulan Maret, kami menerima dana dari Kota Mitaka untuk mendukung biaya operasional kami. Tetapi bahkan dengan itu, kami harus menggunakan dana lain yang telah kami rencanakan untuk digunakan perbaikan dan pemeliharaan skala besar," begitu pernyataan pihak Museum Ghibli yang dilansir dari SoraNews24, 19 Juli 2021.
"Pandemi virus corona diperkirakan akan berlanjut untuk beberapa waktu dan jika kami terus memanfaatkan cadangan keuangan kami. Tapi hal ini membuat kami yakin pengoperasian fasilitas dan pemeliharaan yang direncanakan berada dalam bahaya," tandas Museum Ghibli.
Donasi Untuk Museum Ghibli
Pemerintah kota lantas mengumumkan kalau mereka akan menggunakan sistem furusato nozei, atau sistem hometown tax (pajak kampung halaman). Pajak ini berbeda dengan pajak tempat tinggal yang harus dibayar oleh orang dewasa yang bekerja di Jepang. Sistem ini lebih seperti pajak kredit dan donasi.
Dimulai pada tahun 2008, furusati nozei memungkinkan individu memberikan sumbangan untuk bisnis yang sedang jatuh ke masa-masa sulit. Biasanya, ada semacam hadiah yang diberikan oleh pemilik bisnis untuk para pemberi donasi.
Kali ini, dewan kota akan mengirimkan merchandise berupa ucapan terima kasih dari Museum Ghibli sebagai imbalan donasi. Setiap orang yang ingin berdonasi diminta untuk menyumbang tidak kurang dari 5.000 yen atau sekitar Rp650 ribu. Tidak disangka, donasi ini rupanya mendapat respon yang luar biasa dari penggemar.
Kurang dari 24 jam sejak dibuka pada Jumat, 16 Juli 2021, donasi yang terkumpul sudah mencapai lebih dari 12 juta yen (Rp1,5 miliar) dari target 10 juta yen. Donasi itu berasal dari 1.478 orang. Saat berita ini ditulis, donasi yang terkumpul sudah mencapai 21,9 juta yen atau sekitar Rp2,9 miliar.
Sesuai ketentuan, jumlah yang disumbangkan di luar target 10 juta yen akan tetap diberikan kepada Tokuma Memorial Cultural Foundation for Animation yakni operator legal Museum Ghibli yang dipimpin oleh salah satu pendiri Studio Ghibli yakni Hayao Miyazaki.
Baca juga: 10 Lokasi Film Studio Ghibli yang Ada di Dunia Nyata
