Karier di Esport Bukan Cuma Jadi Profesional Player, Berminat?

Image title
6 Mei 2021, 19:14
Evos Legends esport
Instagram/evos.four
Evos Legends esport

ZIGI – Afrindo Valentino kini bekerja sebagai analis tim EVOS divisi Mobile Legends. Pemuda 26 tahun ini terjun di dunia esport sejak 2017 sebagai profesional player hingga berhasil menjadi juara MPL Season 1 di 2018 bersama tim Nxl>.

Hobi bermain game memang bisa menghasilkan uang namun perlu pembuktian dan proses yang tidak instan. Hal ini disampaikan Afrindo Valentino saat menjadi narasumber #Katadata9 Virtual Event: "Having Fun With Data", yang tayang di kanal YouTube Katadata Indonesia, Selasa, 4 Mei 2021.

Selain menjadi profesional player yang berkompetisi di liga utama. Seperti apa ya peluang karier di bidang esport? Yuk simak artikelnya di bawah ini!

Proses Atlet esport

image
Photo : Instagram/@evos.four

Di era digital ini sering terdengar kalimat ‘main game bisa dapat uang’. Hal itu juga dibenarkan oleh Afrindo Valentino yang memilih untuk menekuni dunia game sebagai sumber penghasilannya sejak 2017.

“Kalau kalimat main game bisa dapet duit itu fakta sih. Cuma balik lagi ke diri kita masing-masing. Kita main game untuk fun atau mau ditekunin gitu untuk mencari duit,” kata Afrindo Valentino.

Afrindo mengatakan bahwa awalnya ia hobi dalam bermain game. Namun ketika melihat penghasilan yang didapatkan menggiurkan, ia mulai tertarik untuk menggeluti hobi tersebut. Meski sudah berhenti dari pro scene, saat ini ia bekerja sebagai game analis di EVOS Esports.

“Kalau itu sih dari awal kita harus punya achievement dulu gak sekadar cuma masuk, kecuali kalau memang benar-benar bakat ya. Jadi kayak kita harus juara beberapa turnamen dulu di daerah-daerah nanti kita bisa masukin beberapa data kita atau data tim kita ke tim esport yang ada di Indonesia,” sambungnya.

Penghasilan dari Main Game

image
Photo : Instagram/@evos.four

Keseharian seorang pro player rupanya selalu berkutat dengan game dan latihan. Bahkan, Afrindo bisa menghabiskan waktu hingga 15 jam untuk latihan.

“Kami di sini atlet esport itu harus bisa dibilang tidur empat sampai enam jam doang karena kita bangun pagi kita harus udah main dulu. Itu di luar jam latihan ya, jadi kayak di luar jam latihan kita harus tetap main. Biasanya kita di tim sendiri yang sekarang itu paling minimal 12 jam paling maksimal 15 jam,” tutur Afrindo.

Namun, ia mengatakan bahwa latihan selama berjam-jam itu sebanding dengan penghasilan yang didapatkan. Bahkan, gaji pun akan terus naik sesuai dengan kesepakatan kontrak dan prestasi masing-masing.

“Kalau yang udah berprestasi ya itu bisa ratusan juta (gajinya). Kayak waktu saya dulu juara MPL Season 1, saya dapat perorang itu dari hadiahnya Rp100 juta kalau gaji itu kita dua kali lipat dari UMR Jakarta,” ungkapnya.

Peluang Karier

image
Photo : Instagram/evos.four

Afrindo mengatakan bahwa jenjang karier di esport pun cukup lebar bukan hanya sebagai pemain. Untuk player sendiri mulai dari usia 16 tahun hingga 25 tahun. Setelah itu, bisa juga berkarier sebagai manajer tim, coach hingga analis seperti dirinya sekarang yang berusia 26 tahun.

“Yang jadi player sekarang itu 16 tahun, tapi maksimalnya umur 25 karena sudah bakal kebuang sama generasi muda. Kalau bidangnya sih kita bisa di bagian kantornya atau bisa dibagian timnya kayak coach, analis, manajer banyak pokoknya,” ujar Afrindo.

Diketahui, pemain profesional yang berlaga di liga utama bisa mendapat popularitas. Dari situ, pemain atau pensiunan atlet esport bisa melanjutkan karier sebagai streamer atau YouTuber gaming seperti yang dilakukan Jess No Limit dan Ekooju, mantan pro player EVOS divisi Mobile Legends. Apakah kamu tertarik?

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...