Penjelasan Fenomena Aphelion yang Baru Terjadi di Indonesia
ZIGI – Pernahkah kamu mendengar istilah aphelion dan perihelion? Dalam dunia sains, keduanya merupakan istilah untuk menjelaskan jarak posisi bumi dengan matahari.
Aphelion merupakan fenomena yang terjadi ketika posisi Bumi berada pada titik terjauh dari matahari. Sedangkan Perihelion adalah sebaliknya, ketika posisi Bumi berada di jarak terdekat dengan matahari.
Kali ini, Zigi.id telah merangkum beberapa informasi mengenai aphelion. Sebab aphelion diketahui baru saja terjadi di Indonesia pada Selasa, 6 Juli 2021, yang mana puncaknya terjadi pada pukul 05.27 WIB, 06.27 WITA, 07.27 WIT. Seperti apa penjelasannya? Simak artikel di bawah ini yuk!
Apa Itu Aphelion?
Aphelion merupakan istilah saat bumi berada di titik terjauh dari matahari. Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Pusat Penelitian Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), fenomena aphelion tidak perlu dikhawatirkan karena terjadi setiap tahun.
Menurut sejarah, tepatnya tahun 1248, aphelion pernah bertepatan dengan titik balik utara matahari yang menyebabkan durasi musim gugur astronomis di belahan bumi utara. Saat terjadi fenomena aphelion, diameter matahari akan tampak sedikit lebih kecil dibanding rata-ratanya yakni sekitar 15,73 menit busur atau berkurang 1,68 persen.
Dampak Aphelion terhadap Bumi
Secara umum, aphelion tidak menimbulkan dampak signifikan. Adapun suhu yang terasa dingin ketika pagi hari akhir-akhir ini adalah sesuatu yang lumrah di musim kemarau.
Posisi matahari yang sekarang berada di belahan bumi utara mengakibatkan tekanan udara di belahan utara akan lebih rendah dibanding belahan selatan yang mengalami musim dingin. Jadi, jangan heran apabila angin dari arah selatan akan bertiup menuju utara.
Di Indonesia, aphelion berdampak pada penurunan suhu terutama di Pulau Bali, Jawa dan Nusa Tenggara karena adanya hembusan angin dari arah selatan (Australia). Lantas kamu tidak perlu cemas jika suhu saat ini terasa lebih dingin karena angin berhembus dari selatan yang sedang mengalami musim dingin.
Bagaimana Aphelion Bisa Terjadi?
Melansir dari laman resmi NASA, fenomena aphelion terjadi karena planet bumi dalam waktu tertentu kondisinya miring. Ilmuwan dari Pusat Hidrologi dan Iklim Global di Huntsville, Alabama, Roy Spencer menjelaskan bahwa selama bulan Juli, bagian utara planet kita yang padat akan condong ke arah matahari yang membuat bagian selatan mengalami musim dingin.
"Rata-rata di seluruh dunia, sinar matahari yang jatuh di bumi pada bulan Juli (aphelion) memang sekitar 7 persen lebih rendah daripada di bulan Januari (perihelion)," ungkap Roy Spencer.
Meski begitu, Roy Spencer mengatakan bahwa suhu rata-rata bumi saat aphelion kali ini berada di sekitar 4 derajat F (2,3 derajat C) lebih tinggi daripada di Perihelion. Oleh karena itu, bumi sebenarnya justru lebih hangat ketika jauh dari matahari.
Kapan Aphelion Terjadi?

Source: NASA
Menurut keterangan LAPAN, aphelion tahun ini terjadi pada tanggal 6 Juli 2021 pukul 05.27 WIB / 06.27 WITA / 07.27 WIT pada jarak 152.100.527 km. Sedangkan menurut NASA, aphelion tahun ini terjadi tepat di Hari Kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 2021 lalu.
“Kami melakukan pendekatan terdekat kami ke Matahari (147,5 juta km) pada bulan Januari, yang disebut perihelion, dan kami terjauh dari Matahari (152,6 juta km) pada bulan Juli, itu aphelion. Tahun ini, aphelion jatuh pada Hari Kemerdekaan di Amerika Serikat," terang profesor astronomi George Lebo, seorang Summer Faculty Fellow di NASA Marshall Space Flight Center.
Jadi bagi kamu yang merasa kedinginan akibat cuaca, mungkin ada pengaruh dari angin selatan yang berhembus ke utara. Selain itu, fenomena aphelion memang baru-baru ini terjadi.
