Data eHAC Bocor, Ini Bahaya yang Perlu Kamu Ketahui

Image title
1 September 2021, 12:10
Data eHAC
Canva
Data eHAC

ZIGI – Data eHAC di aplikasi lama telah dikonfirmasi mengalami kebocoran. eHAC adalah Electronic Health Alert Card, aplikasi dari Kementerian Kesehatan yang digunakan untuk mendata warga lokal maupun asing yang berpergian di wiliayah Indonesia di tengah pandemi. 

Aplikasi eHAC memuat alamat penggunaa aplikasi, jenis tes Covid-19, identitas rumah sakit, hasil tes, hingga dokumen eHAC. Apa bahaya dari bocornya data eHAC ini? Simak selengkapnya di bawah ini. 

Mengenal Aplikasi eHAC 

image
Photo : App Store

Sistem eHAC dikembangkan oleh Direktorat Pengawasan dan Karantina Kesehatan, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Lembaga ini ada di bawah komando Kemenkes. Tujuan dari aplikasi ini adalah pengawasan terhadap seluruh pihak yang akan memasuki Indonesia selama pandemi berlangsung. 

Salah satu contohnya setiap orang perlu melengkapi dokumen eHAC ketika tiba di bandara Indonesia. Dokumen ini berupa pengisian nama depan-belakang, usia, jenis kelamin, kewarganegaraan, nomor KTP, alamat lengkap, hingga kondisi kesehatan. 

Data yang bocor ini merupakan data dari aplikasi eHAC lama. Sedangkan aplikasi eHAC baru adalah aplikasi PeduliLindungi. Berikut bahaya kebocoran data eHAC yang perlu kamu ketahui:

  1. Resiko Untuk Pengguna Aplikasi eHAC

Menurut founder Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi di akun Twitter @ismailfahmi. Kebocoran data eHAC akan memiliki dampak besar. Data pengguna yang terbuka ini memungkinkan peretas untuk mengakses informasi pada kartu pengenal dan atau paspor yag didaftarakan. 

Artinya mulai dari tangga lahir, identitas pribadi, hingga riwayat perjalanan yang termuat bisa digunakan untuk kriminalitas. Mulai dari pencurian data, pelacakan indvidu, telemedicine palsu, hingga penipuan. 

  1. Resiko Untuk Rumah Sakit

Peretas dapat mengambil data dari aplikasi yang digunakan oleh rumah sakit dan staf rumah sakit. Informasi yang didapat bisa membuat rumah sakit dan staf menjadi target dari penipuan, pelabuan data, hingga serangan-serangan lain. Keberhasilan mengatasi skema kriminalitas digital ini tergantung seberapa besar kewaspadaan rumah sakit terhadap serangan dunia maya. 

  1. Resiko Untuk Pemerintah 

Bocornya data eHAC akan membuat kredibilitas Indonesia menurun. Pasalnya pemerintah mewajibkan setiap orang asing yang masuk ke Indonesia untuk mengunduh aplikasi ini. 

Masyarakat secara luas juga akan menganggap pemerintah tidak mampu melindungi data kesehatan masyatakat. Secara luas kebocoran ini akan mengakibatkan terhambatnya penanganan pandemi Covid-19. 

Kemenkes Ambil Tindakan

image
Photo : Yt/berita satu

Investigasi kebocoran data akan dilakukan Kemenkes dengan menggandeng lembaga lain seperti Kominfo dan Badan Siber dan Sandi Negara. Lebih lanjut, Kemenkes meminta masyarakat untuk mengapus aplikasi eHAC yang lama. 

Saat ini memang eHAC yang baru sudah terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi. Sistem eHAC yang ada di PeduliLindungi berbeda dengan eHAC yang lama.

"Perlu saya sampaikan bahwa eHAC yang ada di PeduliLindungi, baik server dan infrastruktur berada di pusat data nasional," jelas pihak Kemenkes seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Data eHAC dilaporkan bocor pada 31 Agustus 2021. Aplikasi ini memuat data pribadi, sehingga kebocoran tersebut bisa menargetkan penipuan untuk pengguna. Saat ini Kemenkes dibantu oleh Kominfo dan Bidan Siber dan Sandi Negara sedang melakukan investigasi lebih lanjut. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...