Sejarah Reog Ponorogo, Budaya Indonesia yang Ingin Diklaim Malaysia
ZIGI – Ratusan seniman reog se-Solo Raya sempat mengadakan demo di Jalan Ir. Haji Juanda pada Sabtu, 9 April 2022. Aksi ini terjadi lantaran Malaysia kembali mengklaim reog merupakan warisan budaya mereka.
Tak hanya itu, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Efendi mengatakan bahwa Malaysia ingin mendaftarakan Reog ke UNESCO. Dalam aksi tersebut, setidaknya terdapat 25 barongan reog yang menggelar aksi massal di jalan. Lantas bagaimana sejarah reog yang sebenarnya? Simak ulasannya di bawah ini!
Baca Juga: Ramai Diprotes, Adidas Sebut Wayang Kulit Warisan Budaya Malaysia
Sejarah Reog Ponorogo
Dilansir dari Antara, kesenian tari Reog Ponorogo tercatat dalam sebuah Prasasti dari Kerajaan Kanjuruhan dengan tanggal 760M dan Prasasti Kerajaan Kediri dengan tahun 1045 M.
Sementara sejarah Reog terdiri dari berbagai macam versi, hal ini merujuk pada kejadian serta legenda di daerah setempat.
- Berasal Dari Legenda Singo Barong
Dalam tarian Reog Ponorogo seringkali ditemukan Singo Barong. Sementara Singo Barong ini menurut legenda digunakan sebagai syarat ketika Raja Bantarangin yang bergelar Prabu Kelana Sewandana ingin melamar dari Putri Raja Kerajaan Kediri, Dewi Sanggalangit.
Saat itu, Dewi Sanggalangit menginginkan Prabu Kelana Sewandana mengalahkan Singo Barong yang berasal dari alas roba. Dengan sigap, Prabu Kelana Sewandana langsung membawa pasukannya menuju tempat singgasana singa barong.
Prabu Kelana Sendawa saat berjumpa dengan Singo Barong langsung memakai sumping di telingannya dan menjelma sebagai sosok merak untuk mengalihkan perhatian sang Singa. Cara tersebut sempat menarik perhatian Singo Barong dan akhirnya dikalahkan dengan pecut alias cambuk.
Sebab berhasil mengalahkan Singo Barong, Prabu Kelana Sewanda akhirnya meminang Dewi Sanggalangit dengan diiringi oleh dua ekor burung merak.
- Kisah Ki Ageng Kutu
Saat mendengar sejarah Reog Ponorogo maka sudah tidak asing lagi dengan kisah Ki Ageng Kutu yang merupakan abdi kerajaan Brawijara, lebih tepatnya saat dipimpin oleh Raja Brawijaya V yang kala itu meninggalkan kerajaan Majapahit.
Meskipun di bawah kerajaan Brawijaya, Ki Ageng Kutu mendirikan sebuah padepokan Surukubeng. Padepokan tersebut mengajarkan ilmu kanuragan dengan menggunakan permainan barongan.
Berdirinya padepokan tersebut justru membuat Raja Brawijaya V menganggap bahwa Ki Ageng Kutu telah memberontak dan berkhianat kepadanya. Sang Raja akhirnya mengutus Raden Katong untuk menyerang padepokan tersebut dan mengalahkan Ki Ageng Kutu.
Setelah mengalahkan Ki Ageng Kutu, Raden Katong diberikan tanah perdikan di Wengker oleh Raja Brawijaya V. Setelah itu, Raden Katong menggunakan barong sebagai media dakwah Islam.
Mengingat Raden Katong merupakan penyebar kesenian barongan pertama kali di Ponorogo, kesenian barongan milik Warok berubah menjadi milik warga Ponorogo dan berubah nama menjadi Reog Ponorogo. Dilansir dari Katadata, penggunaan kata reog berasal dari kata riyokun artinya khusnul khatimah.
Peragaan Dalam Reog Ponorogo
Dalam kesenian Reog Ponorogo terdapat berbagai peragaan yang digunakan. Setiap peragaan tersebut memiliki makna tersendiri. Berikut beberapa komposisi peragaan pada Reog Ponorogo yang sering dijumpai:
- Warok
Warok berasal dari kata wewarah yang artinya orang yang mempunyai tekad yang suci. Warok juga memiliki penafsiran lain yakni wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah) maksudnya seseorang yang menjadi warok adalah mereka yang mampu memberikan petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.
Orang yang akan memperagakan warok adalah orang-orang yang sudah mengusasi ilmu baik lahir maupun bathin. Untuk memperdalam ilmu tersebut maka dibutuhkan guru dan dilakukan secara rutin.
- Jathil
Siapa yang tidak kenal dengan kesenian jathil? Jathil seringkali muncul dalam peragaan Reog Ponorogo, bahkan tidak sedikit orang kesurupan ketika memperagakannya.
Meskipun demikian, Jathil memiliki makna tersendiri. Tarian Jathilan ini menggambarkan ketangkasan dari seorang prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Wajar saja ketika peragaan ini, pasti akan melekat dengan alat peraga kuda yang terbuat dari anyaman bamboo.
Jathil awalnya ditarikan oleh seorang gemblas, laki-laki yang memiliki karakter yang halus, berparas cantik atau mirip dengan wanita. Oleh sebab itu, orang yang memperagakan ini umumnya akan mengenakan riasan yang cukup menonjol.
Tarian Jathil cenderung memperagakan gerakan yang halus namun lincah dan cekatan. Konsep ini didukung dengan pola ritme gerak tarian yang silih berganti setiap irama lagu dan irama ngracik.
- Bujang Ganong
Bujang Ganong atau juga disebut Patih Pujangga Anom umumnya memiliki karakter yang lincah dan lucu. Bagi yang melihat kesenian ini, umumnya Bujang Ganong akan memperagakan tarian acak namun tetap memperlihatkan keahlian bela diri.
Bujang Ganong biasanya diperagakan secara berpasangan. Sementara yang memerankan Bujang Ganong digambarkan seorang patih muda yang fisiknya buruk rupa namun memiliki kemauan yang keras, cerdik, jenaka dan sakti.
Karakter Bujang Ganong dalam kesenian Reog Ponorogo umumnya mengenakan topeng dengan wajah yang merah gelap dan mata yang melotot. Selain itu, rambut Bujang Ganong juga terkesan berantakan yang terbuat dari rambut kuda.
- Singo Barong
Seperti penjelasan di atas, Singo Barong juga muncul dalam peragaan Reog Ponorogo. Umumnya, karakter Singo Barong akan diperagakan oleh seseorang yang mengenakan topeng harimau. Sementara harimau yang menjadi contoh pada topeng tersebut adalah harimau Jawa yang kini telah punah.
- Klono Sewandoro
Singo Barong dan Klono Sewandono atau Prabu Kelana Sewandana saling berkesinambungan. Oleh sebab itu, karakter tersebut memiliki peran yang penting pada peragaan Reog Ponorogo.
Sosok yang memperagakan Klono Sewandono biasanya akan membawa Pecut Samandiman sebagai pusaka yang selalu digunakan untuk melindungi dirinya. Sedangkan gerakan Klono Sewandono cenderung seperti orang yang dimabuk asmara yang kala itu jatuh cinta dengan Dewi Sangggalangit.
Demikian sejarah dan berbagai komponen yang digunakan dalam kesenian tari Reog Ponorogo yang populer di Indonesia.
Baca Juga: Kronologi Miss World Malaysia 2021 Klaim Batik Buatan Negaranya
