Mengenal Impostor Syndrome, Kondisi Tidak Percaya Diri Sendiri
ZIGI – Pernah mendengar istilah Impostor Syndrome? Untuk kalian yang bermain game Among Us pasti tahu istilah Impostor, namun bagaimana bila istilah tersebut juga dapat menggambarkan kondisi pikiran seseorang.
Mengutip pernyataan Psikolog Klinis UGM, Tri Hayuning Tyas, impostor syndrome merupakan fenomena psikologis dimana seseorang tidak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang ia raih.
Dengan kata lain, orang yang terkena impostor syndrome selalu ragu dan tidak meyakini pencapaian dan prestasi dirinya yang telah diraih oleh diri sendiri. Orang-orang yang mengalami impostor syndrome, prestasi dan capaian yang ia raih hanyalah keberuntungan atau kebetulan semata, bukan karena usaha kerja keras sendiri.
Lalu seperti apa tanda-tanda dan penyebab dari impostor syndrome ini? Berikut penjelasannya.
Baca Juga: Karakter Zodiak Sagitarius, Si Petualang yang Takut Komitmen
Penyebab Impostor Syndrome
Melansir pernyataan dari Universitas Gadjah Mada, impostor syndrome pertama kali ditemukan oleh Psikolog Suzzane Imes dan Rose Clance pada tahun 1978. Pada awal penelitian Rose dan Suzzane menemukan sindrom ini banyak terjadi pada wanita dengan prestasi yang baik.
Setelah dilakukan penelitian lebih mendalam, impostor syndrome juga dapat terjadi pada pria. Perlu diketahui bahwa kondisi ini bukanlah gangguan jiwa.
Ada beberapa hal yang menyebabkan impostor syndrome ini terjadi pada seseorang. Pertama adalah pola asuh dalam keluarga. Cara orang tua mendidik akan sangat berpengaruh pada kondisi anak, salah satunya pola didik yang selalu mengutamakan pencapaian ataupun prestasi baik akademik ataupun non-akademik.
Alih-alih mengajarkan anak untuk mengerti tentang prestasi dan kegagalan, orang tua justru menanamkan pola “harus berhasil” kepada sang anak. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu seseorang dapat mengalami impostor syndrome.
Hal lain yang menyebabkan kondisi ini adalah tekanan masyarakat ataupun lingkungan tentang arti pentingnya menjadi seseorang yang sukses dan berprestasi. Akibat dari tekanan ini, seseorang merasa bahwa dirinya berharga dan dihormati hanya bila ia memiliki suatu kesuksesan di tengah masyarakat.
Seseorang dengan impostor syndrome pun akan berusaha keras untuk mencapai ekspektasi masyarakat tersebut, dan akan merasa kecewa bila gagal memenuhinya.
Cara Mencegah Impostor Syndrome
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seseorang yang terkena impostor syndrome. Pertama, mulai mengenali dan menghargai pencapaian ataupun kemampuan diri sendiri.
Kalian yang terkena impostor syndrome harus bisa menghargai dan mengapresiasi keberhasilan yang telah dicapai melalui kerja keras kalian. Pencapaian tersebut tak perlu dibandingkan dengan pencapaian orang lain, karena hanya berujung pada meragukan kemampuan diri sendiri.
Selain mulai introspeksi diri, kalian juga bisa membuka diri untuk berbicara mengenai kondisi yang kalian alami terhadap orang-orang terdekat seperti teman dekat, keluarga, ataupun orang yang kalian percayai. Dengan membuka diri ini, kalian bisa melihat bahwa ada orang-orang yang memandang anda secara utuh tanpa membawa embel-embel kesuksesan ataupun prestasi.
Pendapat orang-orang tersebut dapat menjadi sumber kekuatan dan emosional yang positif bagi kalian. Orang yang merasa terkena impostor syndrome juga harus mengakui kekuatan dan kelemahan yang dialami, agar mengetahui, kekuatan mana yang harus terus diasah, dan kelemahan mana yang harus diatasi.
Itu tadi penyebab dan solusi bagi kalian yang merasa terkena impostor syndrome. Mulailah untuk menghargai diri sendiri dan kerja keras yang telah dilakukan selama ini serta berhenti membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.
Baca Juga: 5 Artis Indonesia Mengidap Gangguan Mental Bipolar
