BI: Kombinasi Efek Eropa dan Amerika Menjaga Kurs Rupiah
KATADATA - Pergerakan mata uang rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terjaga di tengah berbagai sentimen negatif dari luar negeri. Meski begitu, pemerintah tetap mewasdapai risiko perlambatan ekonomi Cina yang bisa berdampak negatif ke perekonomian Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui, rendahnya data-data ekonomi Cina dan membaiknya data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, pengaruhnya tidak signifikan karena adanya rencana bank sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB) mengeluarkan stimulus.
Sekadar informasi, sejumlah analis dan perusahaan sekuritas memperkirakan Gubernur ECB Mario Draghi akan melonggarkan kebijakan moneternya. Caranya dengan membeli kembali aset-asetnya dalam jumlah besar yang dikombinasikan dengan menurunkan suku bunga. Kebijakan tersebut mendorong para investor global menarik dananya dari Eropa. Alhasil, mata uang euro melemah 0,4 persen terhadap dolar AS, yang merupakan pelemahan terbesar sejak 15 April lalu.
Menurut Agus, respons investor global terhadap kebijakan ECB tersebut berdampak positif terhadap mata uang negara-negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market). Pasalnya, investor memindahkan sebagian dananya ke emerging market sehingga menambah likuiditas valuta asing (valas), termasuk di Indonesia.
“Jadi mata uang negara berkembang tidak terlalu tertekan, padahal sebetulnya dari sisi kita dengan AS risk off,” kata Agus seusai bertemu dengan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/11).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot hari ini berada di level 13.600 per dolar AS atau melemah 0,14 persen dari hari sebelumnya. Sentimen negatif di pasar keuangan terutama dipicu oleh peningkatan risiko di pasar negara berkembang. Penyebabnya adalah data ekonomi Cina, seperti inflasi bulan Oktober 2015 mencatat kenaikan 1,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan Indeks Harga Produsen (PPI) Cina juga turun 5,9 persen, yang merupakan penurunan tertinggi selama 44 bulan terakhir.
Pasar semakin tertekan oleh kenaikan data upah tenaga kerja nonpertanian (Non Farm Payrolls) di AS sebesar 271 ribu orang. Selain itu, jumlah pegawai negeri sipil meningkat 313 ribu orang. Angka ini naik tajam dari titik terendah pada periode Agustus dan September 2015. Degan begitu, tingkat pengangguran di AS turun menjadi 5 persen.
Kondisi tersebut memperkuat peluang kenaikan suku bunga AS oleh bank sentral AS (Fed Rate) seiring membaiknya kondisi perekonomian pada akhir tahun ini. Alhasil, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Di sisi lain, Darmin mencermati potensi risiko dari perlambatan ekonomi Cina terhadap rupiah. Sebab, Negeri Panda ini merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Bila ekonominya melambat, tentu akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia. Ujung-ujungnya, nilai tukar rupiah terancam melemah. “Kalau (ekonomi Cina) melemah akan berpengaruh juga ke ekspor kita,” tandasnya.
