Imbas Ekonomi Lesu, Kinerja Mayoritas Lini Bisnis Grup Astra Meredup
KATADATA - Pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III-2015 sekitar 4,7 persen dan diperkirakan tak akan beranjak jauh sampai akhir tahun nanti. Perlambatan perekonomian ini berdampak terhadap semua perusahaan, tak terkecuali Grup Astra. Pertumbuhan kinerja mayoritas lini bisnis kelompok usaha ini pun melambat dibandingkan tahun lalu.
Direktur Utama PT Astra International Tbk Prijono Soegiarto mengatakan laba bersih perusahaannya pada kuartal III 2015 sebesar Rp 11,9 triliun. Jumlahnya turun 17 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Ia pun memperkirakan, kondisi tersebut tidak bakal banyak berubah hingga akhir tahun. "Ini berdampak hanpir kepada seluruh lini bisnis Astra," katanya saat pemaparan bisnis Astra di Jakarta, Kamis (12/11).
Di lini bisnis otomotif, Prijono mengungkapkan, penjualan mobil pabrikan Astra menurun 18 persen pada kuartal III 2015. Adapun hingga akhir Oktober lalu penjualan mobil Astra sebanyak 764 ribu unit atau turun dari periode sama 2014 yang sebanyak 932 ribu unit.
Penurunan juga terjadi pada penjualan sepeda motor. Prijono mengatakan, penjualan sepeda motor pada Oktober 2015 mencapai 4,8 juta unit atau anjlok 20 persen dari Oktober tahun lalu. "Begitu pula dengan pendapatan PT Astra Otoparts Tbk yang mengalami penurunan dari Rp 9,1 triliun menjadi Rp 8,6 triliun," imbuhnya. Sekadar informasi, Astra otoparts adalah lini bisnis Grup Astra di bidang sukucadang otomotif.
Presiden Astra Daihatsu Motor Sudirman Maman Rusdi menambahkan, penjualan mobil memang terkait erat dengan kondisi pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita Indonesia. Jadi, dia hanya berani menargetkan maksimal 1 juta kendaraan roda empat yang terjual tahun ini. "Tapi pangsa pasar tetap kita jaga minimal 50 persen," katanya.
Di bisnis infrastruktur, Prijono juga mengakui adanya penurunan laba bersih. Penurunan laba bersihnya hingga 64 persen menjadi Rp 91 miliar. Apalagi anak usaha Astra yang membangun jalan tol yakni PT Marga Mandala Sakti (MMS) masih membangun ruas tol Kertosono-Mojokerto. "Berita baiknya, ruas tol Tangerang-Merak yang dioperasikan MMS mengalami kenaikan volume 8 persen menjadi 34 juta kendaraan," imbuhnya.
Di sektor jasa keuangan, kinerja mayoritas anak usaha Grup Astra juga meredup gara-gara perlambatan ekonomi. Prijono menyatakan, per Oktober 2015 PT Bank Permata Tbk menderita penurunan laba bersih sebesar 24 persen. Hanya PT Astra Sedaya Finance, perusahaan pembiayaan roda empat, yang mencetak kenaikan laba bersih sebesar 17 persen. "Total untuk jasa keuangan, (laba bersih) kami menurun 21 persen menjadi Rp 3 triliun," ujarnya.
Anak usaha Astra di bidang pertambangan dan alat berat, yaitu PT United Tractors Tbk, memang mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 15 persen menjadi Rp 3,3 triliun pada Oktober lalu. Namun, Prijono menyatakan, laba itu lebih bersumber dari dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Sedangkan mayoritas pendapatan dan aset United Tractors dalam denominasi dollar Amerika Serikat. Jadi, dari sisi pendapatan mengalami penurunan sekitar 6 persen.
Yang paling terpukul adalah lini bisnis perkebunan. Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk anjlok 92 persen dibandingkan tahun lalu. Penyebab utamanya adalah penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) sebesar 15 persen. "Sementara penjualan CPO juga mengalami penurunan rata-rata 18 persen," kata Prijono.
