BI Prediksi Empat Negara Ini Pengaruhi Ekonomi Dunia
KATADATA - Gejolak ekonomi masih berlanjut. Bank Indonesia (BI) menyebutkan perekonomian global akan menghadapi tantangan baru. Empat negara atau wilayah diyakini berpengaruh besar, termasuk ke Indonesia, yakni Amerika Serikat, Eropa, Cina, dan Jepang.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan rencana kenaikan suku bunga Amerika atau Fed Rate, seiring membaiknya ekonomi negara itu, akan membuat nilai tukar rupiah berfluktuasi. Namun perbaikan ekonomi di sana diprediksi masih di bawah ekspektasi. Dampaknya, permintaan dagang Negara Paman Sam itu tidak signifikan. Permintaan pasokan dari luar akan menurun, seperti ekspor Indonesia. (Baca: Perlambatan Ekonomi, Jokowi: Indonesia Masih Lebih Baik).
Sementara itu, langkah pelonggaran moneter atau quantitative easing oleh Eropa malah diperkirakan tak berimbas bagi negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market). Penyebabnya, pasar di sana lebih memilih negara yang asetnya dianggap lebih aman (safe haven). “Jadi mencari aset yang dianggap punya jaminan keamanan,” kata Agus saat acara peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan di Gedung BI, Jakarta, Kamis, 10 Desember 2015.
Di ujung timur Asia, perekonomian Cina yang selama satu dasawarsa tumbuh di atas 10 persen, ke depan diprediksi hanya naik antara enam dan tujuh persen. Dampaknya, Cina yang selam ini dikenal sebagai raksasa pelahap komoditas akan mengurangi konsumsinya. Pelambatan tersebut praktis memukul negara-negara yang mengandalkan ekspor bahan baku, termasuk Indonesia. (Baca juga: BI Peringatkan Pemerintah Akan Perlambatan Cina dan Bunga Amerika).
Ekonomi ‘kurang sehat’ juga dirasakan Jepang. Hingga pertengahan tahun ini, pertumbuhan negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu menyusut menjadi 1,2 persen, lebih rendah dari estimasi awal 1,6 persen. Adapun perkiraan pasar rata-rata adalah 1,8 persen. Hal itu tercermin dari belanja modal yang menipis 0,9 persen dari kuartal pertama.
Kondisi empat wilayah ini dikhawatirkan menekan mata uang negara-negara emerging market. Menurut Agus, melemahnya mata uang memang akan membuat produk dalam negeri lebih memiliki daya saing. Namun hal itu tak lagi membantu ekspor karena pelemahan pun menimpa banyak negara.
Mau tak mau, pemerintah hanya bisa mengandalkan investasi dan konsumsi rumah tangga untuk bisa tumbuh. “Ke depan perekonomian global masih dihadapkan tantangan yang berat. Terutama kalau pertumbuhan ekonomi menurun lebih lanjut,” kata Agus. (Lihat pula: BI Belum Siapkan Kebijakan Baru Atasi Perlambatan Ekonomi).
Dari sisi moneter, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Dwityapoetra Soeyasa Besar mengatakan, ketidakpastian kenaikan Fed Rate masih menjadi tantangan utama. Meski diprediksi naik akhir tahun ini atau awal 2016, Fed Rate hanya berubah secara gradual hingga mendekati tiga persen. Langakah bank sentral Amerika itu tentu menekan rupiah. Begitu juga terhadap pasar modal.
Oleh karenanya, BI fokus menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar agar dana asing yang keluar atau capital outflow tidak meningkat signfikan. Karena itu, BI masih berhati-hati dalam mengambil kebijakan termasuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate).
Menurut Dwityapoetra, pelambatan ekonomi saat ini dimulai dari sektor tambang dan minyak sawit mentah. Masalah di dua sektor itu kemudian berimbas ke lini ekonomi lainnya, misalnya berpengaruhi ke kredit perbankan. Meski demikian, dia menegaskan ketahanan sistem keuangan masih terjaga walau risiko kredit meningkat. Hal itu terlihat pada pencadangan bank terhadap kredit di atas 100 persen.
Dwityapoetra mengatakan, satu-satunya langkah yang bisa menyelesaikan tantangan fiskal dan moneter yaitu melalui reformasi struktural dengan membangun infrastruktur. “Yang kami hadapi dilematis. Tersandera kenaikan Fed Rate. Maka ekspektasi pasar harus dijaga agar pemain global mau bertahan,” tutur dia.
