Rupiah Melemah, Kewajiban Investasi Internasional Indonesia Melorot

Yura Syahrul
31 Desember 2015, 08:00
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA - Bank Indonesia (BI) menilai rapor Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia sampai kuartal III-2015 tersebut masih cukup sehat. Kewajiban bersih PII mencapai US$ 327,4 miliar atau 37,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlahnya menurun US$ 41,7 miliar atau 11,3 persen dari kuartal II-2015 yang sebesar US$ 369,1 miliar atau 41,8 persen dari PDB. Penyebabnya adalah penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) lebih besar dibandingkan penurunan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Jumlah AFLN pada kuartal III-2015 turun tipis 2,1 persen dari kuartal sebelumnya menjadi US$ 210,1 miliar. Penyebabnya, aset dalam bentuk investasi langsung turun 1,7 persen sedangkan cadangan devisa berkurang 5,8 persen menjadi US$ 101,7 miliar.

Di sisi lain, jumlah KFLN Indonesia pada akhir kuartal III-2015 mengalami penurunan signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya, yaitu sebesar US$ 46,1 miliar atau 7,9 persen menjadi US$ 537,5 miliar. Faktor utama penyebabnya adalah koreksi harga saham domestik dan pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Padahal, selama kuartal III lalu terdapat arus masuk dana asing dalam bentuk investasi langsung dan investasi lainnya.

Kewajiban bersih investasi langsung turun sembilan persen menjadi US$ 209 miliar. Sedangkan investasi portofolio turun 14,2 persen menjadi US$ 176,7 miliar. Berbeda dengan kewajiban derivatif finansial dan investasi lainnya yang naik-naik masing-masing menjadi US$ 255 miliar dan US$ 151,3 miliar.

Kondisi tersebut sejalan dengan penurunan harga saham dan surat utang. Pangkal masalahnya adalah ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat (Fed Rate) sehingga memicu peningkatan keluarnya dana asing (capital outflow). “Makanya ada kebijakan Dana Hasil Ekspor (DHE) untuk menggantikan investasi portofolio,” kata Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistiowati di Gedung BI, Jakarta, Rabu (30/12).

Dia memperkirakan risiko keluarnya investor portofolio, khususnya pasar saham, masih akan berlanjut tahun depan. Meski begitu, Hendy optimistis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih dapat surplus karena pemerintah menerbitkan surat utang untuk pembiayaan tahun depan. Masuknya valuta asing (valas) tersebut akan meningkatkan neraca modal dan finansial.

(Baca: Rapor Investasi Internasional Indonesia Kuartal II-2015 Membaik)

Begitu juga dari sisi kewajiban investasi langsung asing akan meningkat seiring upaya pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur. “Kalau saham turun, tapi yang lain naik, seperti FDI (foreign direct investment) dan investasi lainnya naik, jadi masih bisa naik (neraca pembayaran),” katanya.

Hal lain yang patut dicatat dari perkembangan Posisi Investasi Internasional adalah, seluruh sektor institusi mencatatkan kewajiban bersih per akhir kuartal III-2015. Pada sektor publik yang terdiri dari pemerintah dan bank sentral, kewajiban bersih sebesar US$ 29,3 miliar atau melonjak 24,3 persen dari kuartal sebelumnya. Pasalnya, penurunan aset lebih besar dibandingkan penurunan kewajiban lantaran adanya penurunan cadangan devisa.

Sebaliknya, di sektor bank mengalami penurunan kewajiban bersih sebesar 15,8 persen akibat penurunan kewajiban finansial, terutama pada surat berharga dalam bentuk saham dan surat utang. Sektor lainnya juga mencatatkan penurunan kewajiban bersih sebesar 13,4 persen. Hal itu sejalan dengan penurunan kewajiban finansial sebesar US$ 37,9 miliar, yang terjadi pada investasi langsung di Indonesia, surat berharga, serta pinjaman dan kewajiban lainnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...