Luhut hanya ketua penyelenggara, dan bukan ketua sidang yang membahas substansi pertemuan. "Jadi bilang sama yang pintar-pintar komentar itu, tanya dulu baru ngomong!"
Luhut
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memberi materi kuliah umum di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (1/3). ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Menteri Koordinator Bidang Kemartiman Luhut Binsar Panjaitan menjelaskan, penunjukan dirinya menjadi ketua penyelenggara pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) Annual Meeting 2018 di Indonesia, bertujuan agar kegiatan tersebut berjalan maksimal. Jadi, Luhut tidak terlibat dalam pembahasan materi dan substansi pertemuan itu.

Ia menjelaskan, sampai sejauh ini tidak ada masalah yang berarti dalam persiapan kegiatan besar tahunan tersebut. Luhut memastikan, dirinya hanyalah sebagai ketua penyelenggara dan bukan ketua sidang yang membahas substansi pertemuan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Oleh karena itu, dia menilai, sejumlah pihak yang menyerangnya telah salah kaprah dalam menyikapi penunjukannya oleh Presiden Joko Widodo sebagai ketua penyelenggara pertemuan IMF-World Bank. "Jadi bilang sama yang pintar-pintar komentar itu, tanya dulu baru ngomong," ujar Luhut saat rapat persiapan IMF-World Bank Annual Meeting 2018 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis (9/3).

(Baca: Dipimpin Luhut, Pemerintah Persiapkan Pertemuan IMF-World Bank)

Luhut pun merinci, Dana Moneter Internasional (MF) dan Bank Dunia yang akan menyiapkan substansi pembahasan dalam sidang tahunan tersebut. Sedangkan, dari pihak Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo yang akan menyiapkan materi yang akan disampaikan. Namun, Luhut belum mengetahui pasti materi yang akan dipaparkan nantinya oleh Pemerintah Indonesia.

Yang jelas, dia ingin acara tersebut terselenggara secara baik, dengan keuntungan-keuntungan yang diperoleh Indonesia. Pertama, mendorong pariwisata dengan memanfaatkan momen tersebut. "Jadi, bagaimana saya memanfaatkan 18 ribu orang yang hadir itu supaya bisa pergi jadi turis di Indonesia," ujar Luhut.

Misi kedua, meningkatkan investasi di Indonesia. "Bagaimana saya bisa manfaatkan CEO (bos perusahaan) yang hebat-hebat itu supaya mereka investasi di Indonesia."

Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan, persiapan yang akan dilakukan meliputi dari mulai lokasi penyelenggaraannya di Bali hingga penunjukan pihak yang akan mengorganisir acara. "Jadi, macam-macam (persiapannya). Seperti, venue atau tempatnya, kemudian prosesnya dan persiapan dalam penunjukkan event organizer," katanya, Jumat pekan lalu (3/3).

Menurut dia, Luhut berencana mengundang seluruh Kementerian dan Lembaga terkait untuk ikut membantu dan memberikan masukan. Luhut juga akan melibatkan tim dari Bank Dunia dan IMF untuk memberikan masukan berdasarkan pengalaman penyelenggaraan acara tersebut di negara-negara lain.

(Baca: Jokowi Ingin Pamer pada Rapat Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali)

Gubernur BI pernah menjelaskan, dirinya bersama Sri Mulyani juga telah ditunjuk Jokowi untuk mendampingi Luhut dalam menggelar pertemuan tersebut. Keterlibatan berbagai kementerian dan lembaga dinilai perlu dilakukan untuk mensukseskan acara ini.

Menurutnya, pertemuan tahunan World Bank-IMF akan digelar di Bali dan dihadiri oleh sekitar 15.000 peserta. Agus merinci, sedikitnya akan hadir Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 200 negara. Selain itu, akan ada perwakilan dari organisasi-organisasi internasional, pimpinan perbankan internasional, serta akademisi dari berbagai negara.

Untuk itu, pemerintah pun akan menggelar pre-event dan post-event dari acara tersebut. "Kami harapkan Indonesia menggunakan acara itu untuk menunjukkan Indonesia negara yang reform," ujar Agus.

Artikel Terkait
Luhut menyatakan dia memahami alasan Kalla yang memilih teknologi narrow gauge besutan Jepang dibandingkan standard gauge yang memang lebih mahal.
Kalla masih meminta Jepang menurunkan biaya pendanaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya.
Luhut mengatakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya tidak boleh membebani keuangan negara.