Kenaikan lebih lanjut bunga dana bank sentral Amerika Serikat alias Fed Fund Rate juga diprediksi tak akan mengerek BI 7-Day Repo Rate, kecuali kenaikannya di luar perkiraan.
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) kembali menggelar rapat dewan gubernur untuk menentukan kebijakan bunga acuan, BI 7-Day Repo Rate. Para ekonom meramalkan bunga acuan belum berubah alias masih di level 4,75 persen. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual bahkan melihat peluang bunga acuan tetap sepanjang tahun.

David mengatakan, kondisi ekonomi domestik sangat baik. Level inflasi terjaga lantaran harga pangan stabil sehingga mengimbangi kenaikan tarif dasar listrik. Di sisi lain, perdagangan internasional juga membaik, yang tercermin dari surplus sebesar US$ 3,92 miliar pada kuartal 1 2017. Defisit transaksi berjalan juga diproyeksi masih terkendali.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Dengan kondisi sekarang flat bisa sampai akhir tahun,” ujar David kepada Katadata, Kamis (20/4). Sejauh ini, bunga acuan sudah enam bulan berada di level 4,75 persen. (Baca juga: Ramal Rupiah Melemah, Sri Mulyani Perhitungkan Inflasi Dunia dan Lokal)

Kenaikan lebih lanjut bunga dana bank sentral Amerika Serikat alias Fed Fund Rate juga diprediksi tak akan mengerek BI 7-Day Repo Rate, kecuali kenaikannya di luar perkiraan. “Kenaikan Fed Rate dua kali lagi tahun ini sudah diantisipasi (pelaku pasar), kecuali lebih cepat dan agresif,” ujarnya.

Sebelumnya, ekonom dan BI menyebut kenaikan Fed Fund Rate bisa memicu arus keluar modal asing (capital outflow), khususnya dari pasar saham dan obligasi. Sebab, investasi di aset dalam dolar Amerika Serikat bisa semakin menguntungkan. Bila hal itu terjadi, nilai tukar rupiah bisa tertekan. (Baca juga: BI Ramal Dana Asing di Saham dan Obligasi Tergerus Kenaikan Bunga Fed)

Meski begitu, sejauh ini, dana asing terus masuk meski Fed Fund Rate telah naik 0,25 persen ke level 0,75-1 persen pada pertengahan Maret lalu. David mengatakan kenaikan tersebut masih sesuai ekspektasi sehingga arus masuk dana asing (capital inflow) tetap kuat ke negara-negara yang ekonominya tengah berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.

Di sisi lain, Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih juga memproyeksi BI 7-Day Repo Rate bakal masih dipertahankan pada level 4,75 persen bulan ini. Namun, ia melihat adanya peluang kenaikan sebanyak dua kali ke level 5,25 persen tahun ini.

Peningkatan BI 7 Day Repo Rate tersebut dengan asumsi Fed Fund Rate naik tiga sampai empat kali tahun ini menjadi 1,5-1,75 persen. “(Kenaikan BI 7-Day Repo Rate) semester II setelah Fed (bank sentral AS) menaikkan Fed Fund Rate,” ujarnya.

Artikel Terkait
Konsumsi rumah tangga didukung tiga faktor yaitu penyaluran gaji ke-13 untuk PNS, bantuan sosial, dan realisasi belanja barang pemerintah.
Nilai tukar rupiah tercatat melemah lebih dalam terhadap yen Jepang dan euro, daripada terhadap dolar AS.
Bank Indonesia (BI) optimistis inflasi tahun ini bakal berada di bawah 4% atau dalam rentang target yang sebesar 3-5%.