Penutupan dua gerai Hypermart menimbulkan pemutusan hubungan karyawan. Aprindo memperkirakan pertumbuhan penjualan ritel hanya 5-6%.
Hypermart
Arief Kamaludin/ Katadata

PT Matahari Putra Prima Tbk menutup dua gerai Hypermart yang dianggap tak menguntungkan. Perusahaan menganggap penutupan gerai sebagai proses normal dalam menjalankan bisnis.

“Sampai saat ini ada dua gerai yang tutup karena berbagai faktor seperti lokasi yang sudah tidak mendukung,” kata Sekretaris Perusahaan Danny Kojongian kepada Katadata, Selasa (11/7).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Danny mengatakan penutupan gerai ini menimbulkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, dia tak menjelaskan detail jumlah karyawan yang terkena PHK.

“Gerai yang tidak memberikan kontribusi positif pada akhirnya dapat berujung pada penutupan gerai dengan dampak langsung pada pengurangan tenaga kerja sebagai hal yang tidak dapat dihindari,” kata Danny.

(Baca:  Nasib Merana Pegawai Hingga Tukang Parkir 7-Eleven Jelang Kebangkrutan)

Danny menjelaskan penutupan gerai ini sebagai proses normal sebuah perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Dia menjelaskan selama ini Matahari berfokus pada prinsip productivity, performance, dan efficiency (PPE) untuk mencapai tingkat maksimal antara kinerja dan effisiensi.

“Oleh sebab itu, banyak aspek termasuk tenaga kerja, yang akan mengalami tingkat kenaikan atau penurunan sejalan dengan dinamika yang berjalan,” kata Danny.

Meski menutup dua gerai Hypermart, Danny menjelaskan Matahari masih berekspansi membuka gerai-gerai baru multi-format, tidak hanya Hypermart, namun juga Foodmart, SmartClub & Boston HBC. “Ekspansi ini secara keseluruhan akan banyak menyerap tenaga kerja baru, seperti yang sudah terjadi dalam 14 tahun terakhir,”kata dia.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan saat ini penjualan ritel mengalami penurunan karena daya beli masyarakat yang melemah.

Akibatnya, beberapa gerai ritel di Jakarta dan beberapa daerah ditutup terutama yang lokasinya di mal. “Sewanya cukup mahal, sementara ada penurunan penjualan,” kata Roy. 

(Baca juga: Sri Mulyani Soroti Lemahnya Daya Beli Menyebabkan Inflasi Rendah)

Roy mengatakan penjualan ritel pada Juni hanya tumbuh 3-4% secara tahunan. Ia merinci, penjualan supermarket dan hypermarket masing-masing turun 11,5 persen dan 12,2%. Sedangkan minimarket turun 1,3%.

Saat Ramadan – Lebaran kemarin, kata Roy, penjualan retail di luar belanja lewat online, hanya naik 5-6% dibandingkan bulan lainnya. Padahal pada momen yang sama tahun lalu, naik hingga 16,3%.

Aprindo memperkirakan penjualan ritel sepanjang 2017 hanya akan tumbuh 5-6%, lebih rendah dibanding pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 9,2%.

Pingit Aria
Artikel Terkait
Meski sedang mengalami masa kritis akibat peralihan selera konsumen, James Riady melihat prospek bisnis retail masih cerah.
Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) mengakui bahwa secara umum kondisi bisnisnya melemah.
Dari 413 perusahaan di bursa yang melaporkan jumlah karyawannya per Juni 2017, sebanyak 164 perusahaan atau sekitar 40% mengalami penurunan jumlah karyawan