“Pertumbuhan organik butuh waktu lama, kalau mau cepat lewat akuisisi, merger,” kata Kepala Ekonom BCA David Sumual.
Layanan bank
Arief Kamaludin|KATADATA

Jelang pasar bebas alias integrasi perbankan ASEAN tahun 2020, bank-bank besar tampak kian gencar mengejar akselerasi bisnis. Bukan hanya pertumbuhan organik melalui penyaluran kredit yang dikejar, tapi pertumbuhan anorganik melalui akuisisi perusahaan jasa keuangan berupa bank, asuransi, sekuritas, hingga modal ventura.

Kabar terbaru datang dari Bank Mandiri. Bank Pelat Merah beraset lebih 1.000 triliun tersebut tampak makin serius menjajaki pasar ASEAN. Tak tanggung-tanggung, Bank Mandiri mengincar dua bank Filipina untuk diakuisisi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Saat melakukan paparan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/8) lalu, Direktur Distribusi Bank Mandiri Herry Gunardi menyebut proses uji tuntas alias due diligence tengah berjalan. "Harapannya semester I tahun depan (akuisisi rampung)," ujarnya. (Baca juga: Bank Mandiri Akan Akuisisi Dua Bank Filipina Tahun Depan)

Di dalam negeri, bank-bank besar lainnya juga memasukkan akuisisi dalam rencana bisnis. Kepala Ekonom BCA David Sumual menjelaskan, bank-bank besar memilih untuk mengambil langkah akuisisi untuk mengejar pertumbuhan cepat. “Pertumbuhan organik butuh waktu lama, kalau mau cepat lewat akuisisi, merger,” kata dia.

Pertumbuhan cepat diperlukan untuk menghadapi persaingan bisnis yang bakal semakin ketat ke depan. Apalagi, ada pasar bebas bank 2020. “Mandiri melihat pasar Filipina prospektif, dan memang kalau saya lihat mengantisipasi 2020. Mandiri dapat license ekspansi ke luar mereka manfaatkan,” kata David.

Bank Mandiri memang tercatat sebagai bank Indonesia pertama yang mendapatkan lisensi sebagai ASEAN Qualified Bank. Sesuai kesepakatan integrasi perbankan ASEAN, dengan lisensi ini, bank akan mendapatkan perlakuan setara bank lokal di negara mitra di ASEAN.

Ia pun tak menutup kemungkinan langkah bank-bank besar lainnya mengakuisisi perusahaan jasa keuangan juga untuk memperkuat posisi jelang intergrasi pasar ASEAN. Dalam catatan Katadata, empat bank besar lainnya menyatakan tengah menjajaki proses akuisisi, yaitu BCA, BRI, BTN, dan BNI.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan pihaknya menyiapkan dana Rp 4,5 triliun di antaranya untuk mengakuisisi dua bank kecil, selain untuk menyuntikkan modal kepada anak usaha. Namun, BCA belum mau membuka bank-bank yang tengah dibidik. (Baca juga: Keuntungan Tinggi, BCA Sabet Penghargaan Bank Terbaik di Asia)

Yang menarik, pasca rencana akuisisi tersebut beredar, harga saham bank-bank kecil yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melejit seperti Bank Ina Perdana, Bank Agris, dan Bank Harda International. 

Bank Tabungan Negara (BTN) juga tengah menjajaki peluang akuisisi. Bank bakal melakukan uji tuntas terhadap anak usaha Danareksa yaitu Danareksa Finance. Langkah tersebut sebagai bagian dari upaya perseroan merealisasikan rencananya yaitu mengakuisisi empat perusahaan jasa keuangan. 

Selain Danareksa Finance, BTN juga membidik anak usaha Danareksa lainnya yaitu Danareksa Investment Management, dan dua perusahaan asuransi yaitu Asuransi Binagriya Upkara dan Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Perseroan menyiapkan dana Rp 700 miliar untuk keperluan akuisisi tersebut. (Baca juga: BTN Sediakan Rp 700 M untuk Akuisisi dan Bentuk Empat Anak Usaha)

Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) diketahui tengah membidik perusahaan modal ventura dan sekuritas untuk diakuisisi tahun ini. Uji tuntas sudah dilakukan terhadap perusahaan modal ventura. Namun, BRI masih enggan membuka identitas perusahaan yang dimaksud.

"Kalau tidak ada masalah serius, paling tidak kami sudah bisa akuisisi salah satu perusahaan modal ventura itu. Saat ini, kami sedang melakukan tawar menawar harga," kata Suprajarto saat konferensi pers, di Gedung BRI I Sudirman, Jakarta, Rabu (3/8). (Baca juga: BRI Bidik Aset Perusahaan Bertambah Rp 700 T dalam Lima Tahun)

Targetnya, selain perusahaan modal ventura, BRI juga akan mengakuisisi perusahaan sekuritas. Uji tuntas juga sudah dilakukan terhadap salah satu sekuritas yang dibidik. Tapi, Suprajarto mengatakan, pihaknya masih perlu melakukan konsultasi untuk mendapatkan dukungan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

BNI juga dikabarkan tengah menjajaki peluang untuk mengakuisisi perusahaan modal ventura. Sebelumnya, Bank Mandiri dan BCA memilih untuk mendirikan sendiri anak usaha berupa perusahaan  modal ventura.

Tren pendirian atau akuisisi perusahaan modal ventura tersebut juga seiring dengan berkembangnya perusahaan perintis alias startup di bidang teknologi jasa keuangan (financial technology/fintech). Perbankan berharap startup yang dimaksud bisa mendukung bisnis bank ke depan di era digital. (Baca juga: Bank Mandiri Suntik Modal Startup Cashlez untuk Saingi Mesin EDC)

Artikel Terkait
BRI bakal mengakuisisi 35% saham Bahana Artha Ventura dan 60% saham Bahana Sekuritas.
Penyaluran kredit tumbuh 13,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 372,02 triliun.
"Kami sampaikan ke perbankan kalau kredit itu diberikan harus sesuai dengan rencana," ujar Nurhaida