Kinerja keuangan Blue Bird turun, sehingga perusahaan akan melakukan efisiensi internal dengan memperketat seleksi rekrutmen karyawan baru.
Demonstrasi Taksi
Arief Kamaludin | Katadata

Layanan transportasi konvensional mengalami penurunan kinerja keuangan akibat persaingan bisnis dengan angkutan sewa baru berbasis online (taksi online). Direktur PT Blue Bird TbkAndre Djokosoetono menuturkan, kinerja Blue Bird masih membukukan laba bersih, sehingga tidak akan merampingkan karyawan atau PHK dan penjualan aset-aset perusahaan. Namun, perusahaan akan melakukan efisiensi internal dengan memperketat seleksi rekrutmen karyawan baru.

"Kalau penjualan kendaraan kan sudah biasa terjadi, itu kan bagian dari peremajaan," ujar Andre kepada Katadata, Jakarta, Jumat (5/10).  (Baca: Terpukul Taksi Online, Express Jual Aset & PHK 250 Karyawan)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Andre menuturkan, risiko bisnis ke depan bukan hanya persaingan dengan taksi online saja, tetapi juga dengan moda transportasi lainnya. Untuk itu, dirinya menuturkan, Blue Bird akan terus melakukan peningkatan pelayanan dan mengembangkan penggunaan teknologi. Karena, menurut Andre, konsumen pun pada akhirnya akan memilih moda yang memberikan pelayanan terbaik.

Mengutip dari laporan keuangan Blue Bird yang terlampir di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada semester I-2017 ini, walaupun masih membukukan laba bersih, kinerja keuangan Blue Bird mengalami penurunan dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 194,27 miliar dari yang sebelumnya Rp 230,31 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

(Baca: Pemerintah Uji Coba Hasil Revisi Aturan Taksi Online)

Penurunan perolehan laba ini disebabkan oleh pendapatan usaha perusahaan yang juga alami penurunan. Tercatat, pendpaatan usaha Blue Bird pada semester I-2017 hanya sebesar Rp 2,08 triliun atau turun 15,74 persen jika dibandingkan semester I-2016 yang sebesar Rp 2,47 triliun.

Terlihat pula laba usaha yang turut mengalami penurunan dari Rp 371,96 miliar di semester I-2016 menjadi hanya Rp 282,07 miliar di semester I-2017. Namun, beban usaha perusahaan justru mengalami penurunan menjadi Rp 290,2 miliar dari sebelumnya Rp 302,66 miliar.

Kondisi yang lebih buruk terjadi pada Taksi Ekspress, induk usaha dari Taksi Express. Berdasarkan laporan keuangan semester I-2017, perseroan mengalami kerugian sebesar Rp 133,11 miliar. Nilai kerugian ini meningkat lebih dari tiga kali lipat kerugian yang dialami pada semester I tahun lalu yang hanya Rp 42,89 miliar. Pendapatan juga turun 57,6% menjadi Rp 158,72 miliar.

Sekretaris Perusahaan Taksi Express Megawati Affan mengakui, kerugian yang dialami perusahaannya salah satunya disebabkan oleh rendahnya pendapatan akibat penurunan tingkat utilitas atau keterisian penumpang armada Taksi Express. Dari 9.700 armada taksi yang dimiliki, tingkat keterisiannya turun dari 50-55% menjadi 45%.

"Tingkat utilitas armada taksi mengalami penurunan karena adanya peralihan ke jasa transportasi berbasis aplikasi," ujar Megawati.

Alhasil, Taksi Express mengumumkan harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 250 karyawannya. pengurangan karyawan ini telah dilakukan sepanjang semester I. Namun, perusahaan masih melakukan perekrutan terhadap pengemudi dengan pemberian diskon. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengemudi dan utilitas operasional armada perusahaan.

Selain itu, perusahaan berkode saham TAXI ini juga akan melakukan penjualan terhadap aset-asetnya. Ini dilakukan agar perseroan mendapatkan dana dalam mengurangi kewajiban utang jangka panjang dan menunjang kegiatan usaha dan operasional perusahaan. Beberapa aset yang berencana dijual adalah tanah kosong, ruko, hingga armada taksi dan bus.

Miftah Ardhian
Artikel Terkait
Selama ini ada koperasi yang digagas oleh perusahaan penyelenggara aplikasi taksi online, namun pengemudi mengklaim penggunaan dananya tidak jelas.
Terbitnya revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 akan memberi kepastian hukum bagi operasional taksi online.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan membagi tarif minimal sebesar Rp 3.500 untuk wilayah Sumatera, Jawa dan Bali.