Di tengah langkanya persediaan garam di pasaran, petani garam kini menikmati tingginya harga di pasaran. Di sisi lain, petani garam was-was akan masuknya garam impor akan menekan harga kembali.
13
Petani Garam
Foto ke 1 dari 13
Di tengah langkanya persediaan garam di pasaran, petani garam kini menikmati tingginya harga di pasaran. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Pemerintah akhirnya menugaskan PT. Garam untuk mendatangkan 75 ribu ton garam konsumsi dari Australia. Langkah tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan garam sekaligus menstabilkan harganya. Rencananya garam impor tersebut akan sampai di Tanah Air melalui tiga pelabuhan besar yaitu pelabuhan Ciwandan, Banten; Tanjung Priok, Jakarta; dan Belawan, Medan pada 10 Agustus mendatang.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, harga garam melonjak lantaran produksi garam terganggu akibat curah hujan yang cukup tinggi. "Ini situasi khusus," kata dia saat Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Jumat (28/7).

Adapun pemerintah memiliki jatah impor garam konsumsi sebanyak 226.124 ton tahun ini. Namun, Oke memastikan kebijakan impor akan dilakukan dengan hati-hati supaya tidak menganggu produksi garam di dalam negeri. Pemerintah tidak akan melakukan impor lagi bila produksi garam di dalam negeri sudah kembali normal.

Berdasarkan pantauan Katadata di Pasar Ciputat beberapa hari lalu, sebungkus garam 150 gram dijual dengan harga Rp 2.000. Sebelum kelangkaan, dengan biaya Rp 2.000 bisa mendapatkan tiga bungkus garam 150 gram.

Ke depan, untuk menjaga pasokan garam tetap stabil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bakal fokus dalam program pengembangan usaha garam rakyat (pugar). Dalam program tersebut, kementerian juga membangun gudang untuk menyimpan hasil produksi garam rakyat.

Artikel Terkait
Sekitar 200 Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengantre garam yang diimpor PT Garam.