Senin 12/12/2016, 03.39 WIB
Sudirman Said.
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
"Saya pilih ikut memperbaiki mobil mogok dengan risiko tangan kena debu dan oli, bahkan bisa luka. Yang penting ketika pulang ke rumah, cuci tangan! Jangan biarkan kotoran masuk ke rumah tangga kita."
Marie Muhammad
Mar'ie Muhammad menyimak presentasi dari Amien Sunaryadi (paling kanan) sekitar tahun 1999 mengenai konsep badan independen antikorupsi, yang jadi cikal bakal lahirnya KPK. Hadir (kiri ke ke kanan): Erry Riyana Harjapamekas, Nizar Suhendra, Sudirman Said. Ary Nugroho (Istimewa)

Innalillahi wainnailaihi rajiun.  Telah berpulang menghadap Sang Khalik, Pak Mar'ie  Muhammad, birokrat karier yang kuat dalam prinsip, pejuang pemberantasan korupsi, dan pekerja kemanusiaan yang tak kenal lelah.

Perkenalan pertama dengan Pak MM (demikian panggilan akrab beliau) adalah tahun 1993-an, ketika saya masih kuliah di Washington D.C., Amerika Serikat (AS). Seperti kebiasaan mahasiswa di sana, setiap ada tokoh nasional berkunjung ke DC selalu saja ditanggap.  Mas Bambang Harimurti (wartawan Tempo) dan saya menjadi organizer diiskusi-diskusi itu, karena bisa menggunakan fasilitas National Press Club, tempat kantor Tempo Biro Washington DC. 

Karena padatnya kegiatan Pak MM, diskusi tak jadi dilaksanakan. Saya hanya mengenalkan diri sebagai pegawai negeri di Kementerian Keuangan (waktu berangkat status saya dosen STAN yang dibiyai oleh pijaman Bank Dunia).

Oleh berbagai kegiatan aktivisme menjelang pergantian rezim Orde Baru ke Orde Reformasi kami dipertemukan kembali, setelah saya kembali ke Indonesia akhir 1994. Peristiwa penembakan Trisakti dan Semanggi memicu kehangatan politik, yang sudah bercampur menjadi krisis multidimensi.  

Para aktivis dan tokoh-tokoh pergerakan  lantas berkumpul dalam berbagai komunitas. Salah satu komunitas adalah yang difasilitasi oleh tokoh-tokoh profesional seperti Pak Erry Riyana Hardjapamekas, Pak Kemal Stamboel, Pak Arief T Surowidjojo, yang mengadakan forum-forum diskusi multidisiplin.

Secara bergantian hadir tokoh- tokoh nasional seperti Pak Kuntoro Mangkusubroto, Prof. Koesnadi Hardjasumantri (alm),  Pak Susilo Bambang Yudhoyono, Pak Gunadi, Ibu Sri Mulyani Indrawati, Pak Prof. Dr. Juwono Sudarsono, dan Pak Prof. Boediono, Prof. Dr. Malik Fadjar. Beberapa lapis generasi muda juga hadir, seperti Ahmad Fikrie Assegaf, M. Chandra Hamzah, Amien Sunaryadi, dan sejumlah aktivis LSM dan BEM.

Saya bersama sejumlah anak-anak muda seperti Andi Eldes, Nizar Suhendra, dan Achyar Lubis bertugas sebagai "koki", yang mempersiapkan segala sesuatunya agar diskusi-diskusi berjalan lancar.

Dengan sengaja saya mencatat tokoh-tokoh yang hadir (maaf, tidak semuanya saya ingat), untuk memberi satu apresiasi kepada almarhum Pak MM. Karena ketokohan dan kredibilitas beliaulah maka sejumlah tokoh penting itu dengan ringan bergabung dan berkontribusi pada komunitas diskusi ini.

Pada 10 Agustus 1998, komunitas ini bersepakat mendirikan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Misinya ingin mendorong good governance dan pemberantasan korupsi yang merupakan masalah akut penyebab runtuhnya Orde Baru.

Sekali lagi berkat Pak MM maka tokoh-tokoh lintas disiplin, lintas generasi bersepakat bergabung. Patut kita syukuri, bahwa pilihan pada tokoh itu tepat karena nama-nama itu sejak reformasi bergulir tahun 1998 sampai hari ini, mereka adalah orang-orang yang terus berperan dari waktu ke waktu; terutama dalam menangani berbagi isu kebangsaan yang krusial.

Tiga catatan pribadi yang ingin saya bagikan dalam pergaulan dengan Pak MM.

Pertama, suatu hari kami yang muda-muda bertanya, apa rahasia orang sebersih Pak MM bisa melewati perjalanan karier di birokrasi yang korup sampai ke puncak?

Jawabnya sungguh mengesankan:  "Kalau kita lihat mobil mogok, kita bisa hanya memandang dari kejauhan sambil berkomentar, atau ikut mendorong meminggirkan, atau syukur-syukur bisa memperbaiki. Saya memilih ikut memperbaiki dengan risiko tangan ini akan kena debu dan oli, bahkan bisa luka. Yang penting adalah ketika kita pulang ke rumah, cuci tangan! Jangan biarkan oli dan kotoran masuk ke rumah tangga kita". Inilah yang menyebabkan Pak MM dikenal sebagai pribadi yang bersih, Mister Clean!

Catatan kedua, ketika tahun 1999 memasuki tahun 2000 keadaan keuangan MTI kurang menggembirakan. Padahal kami sedang meyiapkan dua hajatan besar: Pertama, penyelenggaraan Leadership Training for Good Governance di 24 wilayah seluruh Indonesia. Kedua, studi pendirian badan independen anti korupsi (yang belakangan menjadi Komisi Pemberantasan Korupsi).

Secara spontan Pak MM pada suatu malam memanggil para pengurus MTI. Ia mengatakan: carikan pembeli mobil, saya mau melelang bekas mobil dinas saya yang diberikan oleh pemerintah. Uangnya itu disumbangkan kepada MTI.

Proses pendirian KPK juga tak lepas dari kerja keras Pak MM, yang rajin berkomunikasi dengan para pemimpin partai maupun birokrasi.

Catatan ketiga yang amat membekas adalah  ketika terjadi bencana tsunami di Aceh. Saat yang sama, Pak MM adalah Ketua Umum Palang Merah Indonesia. Dengan cekatan Pak  MM segera terbang ke lokasi dan memimpin langsung operasi tanggap darurat kemanusiaan.

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada awal tahun 2005,  Palang Merah Indonesia di bawah kepemimpinan Pak MM berperan sangat instrumental. Ia membuka komunikasi dengan korban, dengan masyarakat Aceh dan dengan komunitas donor internasional.

Saya ingat upacara besar pertama BRR di bawah kepemimpinan Pak Kuntoro Mangkusubroto dihadiri oleh ratusan lembaga donor, yang sangat percaya pada kredibilitas dua tokoh ini: Pak Kuntoro pemimpin BRR dan Pak MM pemimpin palang merah. Belakangan, proses rekonstruksi Aceh dan Nias banyak dipuji oleh dunia sebagai rekonstruksi pasca bencana tersukses dan bersih dari korupsi.

Di luar itu, masih banyak kenangan-kenangan perjuangan yang luar biasa memberi inspirasi bagi kami yang jauh lebih muda.

Di akhir hayatnya, Pak MM masih terus memikirkan bangsanya. Saat dirawat sampai hari-hari terakhir, dia masih minta dibacakan koran untuk mengikuti perkembangan kenegaraan. Beliau sangat prihatin dengan budaya politik akhir-akhir ini yang semakin jauh dari idealisme dan cita-cita pendiri bangsa.

Satu pesan yang sangat kami ingat adalah: "Dalam keadaan apapun, dalam memperjuangkan kebaikan, harus selalu diingat prinsip "goal maintenance".

Insya Allah Pak MM meninggalkan kita dalam khusnul khatimaah, menjemput akhir yang baik.

Seorang penulis buku kepemimpinan, Dr. Steven Covey, menulis sebagai berikut: "if you want to know the quality of a man, look at how many people go to the funeral, and who are they".  Sejak subuh hari tadi, berdatangan banyak sekali tokoh-tokoh nasional yang berisi dan berjasa pada negara. Rumahnya yang relatif kecil dan sederhana, seperti tak mampu menampung ratusan peziarah yang terus berdatangan.

Selamat jalan Pak MM, bapak bangsa, teladan langka, pemberi inspirasi perjuangan dari generasi ke generasi.  Kami akan melanjutkan perjuanganmu semaksimal mungkin, semampu kami bisa.