Pekerja Asing Sektor IT Dicari, Gaji Tiga Kali Lipat daripada Lokal

Asosiasi E-Commerce Indonesia menyebut gaji yang diberikan kepada pekerja asing beragam, mulai dari 10% hingga 200% lebih tinggi dari pekerja lokal.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
3 Maret 2020, 14:38
pekerja asing, sektor IT, pekerja sektor IT, gaji pekerja asing sektor IT, startup, e-commerce
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Ilustrasi. Pekerja asing bidang IT yang umumnya dibutuhkan startup di antaranya terkait search engine optimizer atau SEO dan kecerdasan buatan atau artificial Inteligence.

Minimnya talenta sektor teknologi informasi di Indonesia membuat sejumlah startup merekrut pekerja asing. Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA menyebut gaji yang diberikan kepada pekerja asing beragam, mulai dari 10% hingga 200% atau tiga kali lipat lebih tinggi dari pekerja lokal.

Ketua idEA Ignatius Untung menjelaskan, startup lokal yang berada di tahap awal tak banyak membutuhkan pekerja asing karena mereka masih melakukan efisiensi biaya. Namun, hal itu berbeda dengan startup-startup besar seperti Gojek dan Tokopedia yang memiliki pendanaan dari asing sehingga memungkinkan bagi mereka untuk mengadopsi pekerja dari luar negeri. 

Pekerja asing bidang IT yang umumnya dibutuhkan startup di antaranya terkait search engine optimizer atau SEO dan kecerdasan buatan atau artificial Inteligence. Kesulitan mencari pekerja lokal dengan keahlian di kedua bidang tersebut membuat besaran gaji yang ditawarkan pun cukup beragam kepada pekerja asing.

(Baca: Catatan Merah Pasal-Pasal Omnibus Law Cipta Kerja)

Ia mencontohkan, pekerja asal India memiliki gaji sekitar 10% hingga 15% Tiongkok 40%, sedangkan pekerja dari Singapura dan Korea Selatan dapat mencapai antara 80% hingga 200% lebih tinggi dari pekerja Indonesia.

"Karena standar gaji di negara asalnya lebih tinggi, untuk menarik mereka ke sini setidaknya harus berani memberikan sama dengan standar di sana," ujar Ignatius kepada Katadata.co.id, Selasa (3/3).

Pekerja asing yang direkrut dipastikan melakukan transfer pengetahuan dengan karwayan lokalnya. "Jadi pekerja lokal juga bakal tahu bagaimana cara kerja pekerja asing tersebut," ujar dia. 

Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia Jefri R Sirait mengatakan perusahaan membutuhkan orang-orang yang bertalenta, terlepas dari lokal aupu asing. Pekerja di sektor IT saat ini  sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan startup.
 
"Termasuk di bidang robotic, precision, drone, camera, dan sebagainya," ujar Jefri kepada Katadata.co.id, Senin (2/3).
 
Ia juga sepakat mengadopsi pekerja asing dapat mendorong pengetahuan baru bagi pekerja lokal di startup-startup Tanah Air.

(Baca: Menkominfo Targetkan Aturan Pusat Data Rampung dan Berlaku Bulan Maret)

 Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menjelaskan, startup  membutuhkan pekerja asing di bagian tertentu. Hal ini akan dipermudah melalui RUU Cipta Kerja. "Ada kebutuhan memang, pada beberapa keahlian yang belum tersedia, dan kehadirannya dibutuhkan," kata Johnny di Jakarta, Rabu (26/2). 
 
Berdasarkan survei iDEA , startup di Indonesia harus mengeluarkan biaya mulai dari Rp 210 juta hingga Rp 1,1 miliar untuk merekrut talenta di tataran pimpinan atau kepala bagian. Hal ini karena minimnya sumber daya manusia yang dibutuhkan.
 
Asosiasi mencatat, secara umum talenta digital dengan gaji termahal di Indonesia yakni di bidang teknologi informasi seperti programmer. Disusul oleh  manajemen produk,  data atau business intelligence, digital marketing, brand manager, dan sales.
 
Hasil riset Robert Walters Indonesia mengungkap startup pendidikan, kesehatan, dan teknologi finansial  pembayaran menawarkan gaji hingga mencapai Rp 1,7 miliar per tahun atau Rp 141,7 juta per bulan pada 2019.

Reporter: Cindy Mutia Annur
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait