Capaian Ranking EODB Cina yang Diwarnai Manipulasi Bank Dunia

Pejabat bank dunia diduga memanipulasi laporan kemudahan berusaha (EODB) 2018 untuk meningkatkan rangking Cina.
Image title
18 September 2021, 19:53
cina, kemudahan berusaha, EODB, bank dunia
ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/HP.
Kota Beijing, Cina. Laporan kemudahan berusaha atau easy of doing business (EODB) 2018 Bank Dunia yang tersandung skandal manipulasi menempatkan Cina di peringkat 73.

Bank dunia mengumumkan akan menghentikan laporan Kemudahan Berusaha atau Eeasy of Doing Bussiness (EODB) akibat menguaknya skandal manipulasi data untuk meningkatkan peringkat Cina dalam laporan tahun 2018. Dalam laporan tersebut, ranking Cina tak bergeser dari tahun sebelumnya di posisi 78. 

Dalam laporan EODB 2016-2020, peringkat kemudahan berusaha Cina hampir setiap tahun meningkat. Pada laporan 2016, Cina berada di ranking 80, lalu naik ke rangking 78 pada laporan 2017. Sementara pada laporan 2018, rangking Cina tak Bergeser dan baru melesat pada laporan 2019 ke posisi 46 dan laporan 2020 di posisi 31. 

Laporan investigasi Bank Dunia menunjukan adanya keterlibatan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam Manipulasi peringkat Cina saat laporan EODB 2018. Skandal ini juga menyeret  Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. 

Keduanya disebut menekan para ekonom untuk meningkatkan peringkat Cina pada 2018. Selain Cina, hasil investigasi yang dilakukan firma hukum WilmerHale juga menunjukan adanya dugaan manipulasi untuk meningkatkan peringkat Arab Saudi (Doing Bussiness 2018), Uni Emirat Arab dan juga Azerbaijan (Doing Business 2020).

Dilansir dari The Economis, masalah kredibilitas data Bank Dunia sendiri sudah diutarakan oleh berbagai pihak yang melaporkan dugaan “penyimpangan” dalam indeks yang diterbitkan pada 2017 dan 2019, termasuk untuk Azerbaijan, Cina, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. 

Kegelisahan juga muncul karena ada negara-negara yang membayar Bank Dunia untuk memberikan nasihat tentang cara menaikan peringkat Doing Bussiness. Cina, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab membayar Bank Dunia untuk memberikan nasihat untuk menaikan peringkat Doing Bussiness, yang mana dahulu dilakukan oleh staf Doing Bussiness sendiri. Layanan ini akhirnya berhenti melibatkan pejabat Doing Business pada  2019.

Tidak mengherankan jika ada negara yang ingin mengutak-atik peringkat kemudahan berusaha. Turunnya peringkat kemudahan berusaha  dianggap memalukan secara politik. 

Sejumlah kritikus pun menilai laporan Bank dunia kontraproduktif, dan muluk-muluk. Bahkan dalam sebuah studi pada 2015 ditemukan bahwa hampir tidak ada korelasi antara hasil Doing Bussiness dan apa yang dikatakan bisnis ketika di survey langsung oleh Bank Dunia. 

Dalam laporan EODB 2020 yang terakhir dirilis Bank Dunia, Indonesia berada diperingkat 73, tak bergeser dari tahun sebelumnya. Sementara di ASEAN, Indonesia berada di urutan lima terbawah. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait