Bank Dunia mengungkap faktor global yang memengaruhi ekonomi Asia Timur dan Pasifik, termasuk tantangan perdagangan dan pertumbuhan lambat di Cina; proyeksi pertumbuhan turun hingga 2025.
Bank Dunia mengidentifikasi tiga faktor yang memengaruhi pertumbuhan Asia Timur dan Pasifik mulai dari perubahan perdagangan, perlambatan di Cina, dan ketidakpastian kebijakan dunia.
Bank Dunia memperkirakan peningkatan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik, dengan pertumbuhan 4,7% pada 2024 hingga 4,9% pada 2025, didorong oleh konsumsi domestik dan pariwisata.
Bank Dunia memproyeksikan di antara negara-negara besar Asia Timur dan Pasifik, hanya Indonesia yang akan tumbuh di atas tingkat sebelum pandemi Covid-19 pada tahun 2024 dan 2025.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanggapi catatan Bank Dunia yang menyebut situasi petani di Indonesia tidak sejahtera meskipun harga beras eceran domestik cenderung lebih tinggi.
Sri Mulyani mengemukakan pentingnya investasi di sektor pendidikan sebagai langkah meningkatkan SDM dan produktivitas untuk membawa Indonesia keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah.
Robert B. Zoellick, mantan Presiden Bank Dunia, memuji integritas dan kepemimpinan Sri Mulyani dalam buku biografi "No Limits, Reformasi dengan Hati," yang diluncurkan di Jakarta.
Terdapat enam rekomendasi strategi yang dipaparkan IMF dan World Bank melalui joint domestic resource mobilization initiative atau JDRMI, untuk meningkatkan penerimaan pajak negara berkembang.