Kasus Corona Melonjak, Australia Kembali Lockdown Kota Melbourne

Hingga saat ini ada 97 pasien positif corona di Melbourne. Epidemiolog mengingatkan bahaya lockdown di wilayah padat penduduk.
Ameidyo Daud Nasution
7 Juli 2020, 14:35
melbourne, virus corona, australia
ANTARA FOTO/REUTERS/AAP Image/Daniel Pockett /WSJ/cf
Pemeriksaa virus korona (COVID-19) di Melbourne, Victoria, Australia, Kamis (2/7/2020). Otoritas setempat mengumumkan lockdown Melbourne mulai Rabu (8/7).

Pemerintah Australia akan kembali melakukan karantina wilayah (lockdown) terhadap Kota Melbourne selama enam pekan mulai Rabu (8/7) pukul 00.00 waktu setempat. Langkah ini diambil setelah kasus virus corona Covid-19 di Ibu Kota Negara Bagian Victoria itu meningkat.

Dalam restriksi pergerakan ini masyarakat tak dibolehkan keluar dari rumah kecuali hal penting seperti berbelanja kebutuhan sehari-hari, alasan medis, bekerja, hingga belajar. Beberapa bisnis jasa akan kembali pada layanan bawa pulang, dan pertemuan publik dibatasi hanya dua orang saja.

Pemerintah Australia mengumumkan 191 kasus baru corona pada hari Selasa (7/7). Dari angka tersebut 13 berhubungan dengan kasus di Melbourne Utara dan 12 terkait klaster kampus Al-Taqwa di Melbourne Barat. Total saat ini ada 97 pasien positif corona di kota tersebut.

“Ini adalah jumlah kasus baru yang sangat tinggi,” kata Menteri Utama Negara Bagian Victoria Daniel Andrews dikutip dari Sydney Morning Herald, Selasa (7/7).

Advertisement

(Baca: Pandemi Corona, Australia Tutup Perbatasan Victoria-New South Wales)

Andrews mengatakan dengan tingkat penularan tinggi seperti ini maka pihaknya kesulitan untuk melakukan penelusuran kontak kasus positif. Oleh sebab itu langkah drastis perlu diambil demi pencegah penyebaran Covid-19 tak terkendali. “Kami harus realistis, ini belum berakhir,” ujarnya.

Dia menjelaskan selama lockdown, pemerintah akan melakukan tes corona secara masif dan cepat. Otoritas juga akan mengerahkan ribuan aparat untuk membantu warga saat menjalani karantina. “Ini tidak akan memakan waktu yang lama,” ujarnya.

Andrews juga menyoroti masyarakat yang terlalu cepat puas dan berpikiran bahwa pandemi telah berakhir. Dia lalu menyinggung masih ada warga yang enggan mematuhi aturan protokol kesehatan. “Kami punya kesempatan mengubahnya dalam keputusan yang telah dibuat,” ujar Andrews.

Meski demikian epidemiolog mengingatkan bahwa karantina terutama di wilayah hunian vertikal padat penduduk berpotensi menjadi lokasi ledakan kasus. Ahli juga menyarankan pemerintah proaktif membantu pekerja migran dan mensosialisasikan protokol kesehatan kepada masyarakat.

"Jika menemukan anggota keluarga pada tahap awal penyakit, mereka harus diisolasi atau akan menulari semua,” kata Penasihat Komite Covid-19 di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Profesor Mary-Louise McLaws.

(Baca: Corona Meluas Cepat, WHO Ingatkan Beberapa Negara Perlu Lockdown Lagi)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait