Deteksi Corona di Kereta Akan Pakai GeNose, Para Ahli Beri Peringatan

Epidemiolog menganggap GeNose lebih cocok melengkapi deteksi suhu tubuh.
Ameidyo Daud Nasution
24 Januari 2021, 20:18
GeNose, kereta, covid-19
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
Pegawai PT KAI (persero) menghembuskan nafasnya pada kantong nafas untuk dites dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (23/1/2021). Pakar harap KAI tak jadikan GeNose sebagai alat deteksi utama Covid-19 di penumpang kereta.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menjadikan Gajah Mada Electric Nose Covid-19 atau GeNose untuk mendukung deteksi Covid-19 pada penumpang kereta api. Namun, para ahli berharap alat tersebut tak dijadikan satu-satunya metode deteksi corona pada pengguna kereta.

Epidemiolog dari Griffith University Dr Dicky Budiman mengatakan GeNose masih belum bisa menggantikan tes lain polymerase chain reaction (PCR) atau rapid test antigen. Ini lantaran alat yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada itu tak mendeteksi Covid-19 di tahap awal.

“Dia bisa dipakai, tapi lebih tepat untuk melengkapi screening suhu,” kata Dicky kepada Katadata.co.id, Minggu, (24/1).

Dicky menjelaskan, GeNose hanya mendeteksi gas buang dari pernapasan seseorang yang metabolismenya telah terganggu virus. Sedangkan PCR bisa mendeteksi keberadaan Covid-19 sejak awal berkembang biak setelah masuk ke tubuh manusia.

Kelemahan lainnya, efektivitas alat tes ini berpotensi berkurang jika seseorang merupakan perokok atau mengkonsumsi jenis makanan tertentu, ”Bisa false positif atau negatif,” katanya.

Dicky juga mengatakan alat tes seperti GeNose sebenarnya bukan barang baru. Metode serupa juga sempat diperkenalkan di Australia, Singapura, dan negara Eropa.

Tapi, belum ada persetujuan dari regulator terkait untuk menjadikan alat berbasis pernapasan sebagai deteksi corona. “Sejauh yang saya amati belum ada yang memakai ini,” katanya.

Sedangkan epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Dr Tri Yunis Miko mengatakan metode tes terbaik untuk mendeteksi corona adalah PCR. Apalagi GeNose yang memiliki tingkat akurasi 90% masih memiliki ruang untuk meleset.

“Bagusnya tetap PCR. Tapi kalau bisa diturunkan ke alat screening yang lebih baik. Antigen boleh meski ada risiko (meleset) 5%,” katanya.

Sedangkan VP Public Relation KAI Joni Martinus mengatakan pihaknya akan membeli GeNose untuk digunakan di berbagai stasiun. Saat ini mereka masih menunggu aturan main pemerintah untuk penggunaan alat ini di transportasi umum.

“Kami menyambut baik inovasi yang dihadirkan oleh anak bangsa dalam rangka menghadirkan layanan deteksi Covid-19 yang cepat, murah, dan akurat,” ujar Joni Martinus dalam keterangan tertulis KAI, Minggu (24/1).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait