Karhutla Meningkat, Pemkab Kotim Bakal Perpanjang Status Tanggap Darurat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kemarau panjang, sumber air yang terbatas, serta karakter lahan gambut yang memungkinkan api bergerak di bawah permukaan membuat pemerintah daerah harus memutar otak demi memperkuat penanganan sekaligus mengantisipasi kejadian kebakaran berulang.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pemerintah daerah bahkan menyiapkan kemungkinan memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan yang saat ini berlaku sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan keputusan perpanjangan akan ditentukan berdasarkan kemajuan penanganan. Puncak kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September. Ancaman karhutla, dengan demikian, dinilai belum dapat dianggap selesai.
“Kalau memang kondisi seperti ini, bisa kita perpanjang,” kata Halikinnor saat meninjau Posko Satgas Penanggulangan Karhutla di Kantor BPBD Kotim, Senin (18/8).
Besarnya ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kotim terlihat dari titik panas (hotspot) yang terus bertambah. Hingga 16 Agustus 2026, BPBD Kotim mencatat 2.707 hotspot di berbagai wilayah. Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 512 titik, disusul Teluk Sampit 451, Seranau 296, Mentaya Hilir Utara 289, Mentawa Baru Ketapang 262, dan Baamang 230 titik.
Masalahnya, jumlah hotspot tak otomatis sama dengan luas lahan yang terbakar. Di Pulau Hanaut, misalnya, hanya tercatat empat kejadian, tetapi luas lahan yang terbakar mencapai 82,65 hektare. Di Parenggean, lima kejadian tercatat dengan luas terdampak sekitar 58,5 hektare. Perbedaan antara jumlah hotspot dan luas kebakaran menunjukkan perlunya verifikasi lapangan oleh petugas.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan kondisi karhutla saat ini menunjukkan peningkatan, baik dari jumlah kejadian maupun luasan kebakaran, dengan sebagian lokasi masih dapat dijangkau petugas dan sebagian lainnya menghadapi kendala akses.
Ia menyebut penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan upaya ekstra sebab api tidak selalu terlihat di permukaan. Api dapat terus bergerak di bawah tanah, bahkan berbalik arah dan muncul di lokasi yang sebelumnya dianggap aman.
Multazam juga mengungkapkan ketersediaan air masih menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman karhutla. Untuk mengatasinya, BPBD Kotim mencoba memanfaatkan sumur bor artesis di sekitar Kilometer 7, Jalan Jenderal Sudirman, sebagai alternatif sumber air.
Sumur bor sedalam sekitar 12 meter tersebut mampu mengisi embung berkapasitas 3.000 liter dalam waktu sekitar satu jam lebih. Namun, pemanfaatannya belum diterapkan secara permanen di sejumlah lokasi karena mempertimbangkan keamanan pompa dan ketersediaan sarana pendukung.
Mengantisipasi kondisi sumber air yang kian terbatas, BPBD juga menyiapkan langkah darurat dengan memanfaatkan Sungai Mentaya sebagai sumber air untuk pemadaman. “Unit pompa besarnya sudah kami siapkan,” kata Multazam.